Sukses

Manzoor Pashteen, Aktivis yang Berani Menantang Pasukan Pakistan Ditahan

Liputan6.com, Pakistan - Pria yang memimpin protes menuding tentara Pakistan melakukan pelanggaran hak asasi manusia telah ditangkap. Ia karena dugaan konspirasi dan hasutan kriminal.

Dilansir BBC, Senin (27/1/2020), Manzoor Pashteen ditahan di Peshawar bersama sembilan orang lainnya dari Pashtun Protection Movement.

Manzoor Pashteen telah menarik puluhan ribu orang untuk demonstrasi di kota-kota di sekitar Pakistan.

Seorang rekan pemimpin protes mengatakan dia dihukum hanya karena menuntut hak asasi manusia. Militer Pakistan yang dianggap kuat, tidak terbiasa dengan kritik, membantah melakukan kesalahan.

2 dari 5 halaman

Awal Gerakan Pashtun

Pashteen, seorang mantan mahasiswa kedokteran hewan telah menjadi wajah Gerakan Pashtun Tahaffuz (Pashtun Tahafuz (Protection) Movement/PTM), di sebuah negara di mana beberapa orang secara terbuka menantang militer.

Sejumlah kasus yang disoroti oleh PTM terungkap dalam sebuah laporan tahun lalu.

“Kami mengalami hampir 15 tahun penderitaan dan penghinaan untuk mengumpulkan keberanian untuk berbicara, dan untuk menyebarkan kesadaran tentang bagaimana militer menginjak-injak hak-hak konstitusional kami melalui aksi langsung dan kebijakan dukungan untuk para militan,” kata Manzoor Pashteen dikutip dari BBC, Senin (27/1/2020).

Protes tanpa kekerasan ini dimulai atas dugaan pembunuhan ekstra-yudisial terhadap seorang pria muda dari warisan etnis Pashtun oleh polisi di Karachi.

Gerakan protes ini kemudian berkembang, dan menuntut pertanggungjawaban dari tentara Pakistan atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan terhadap Pashtun selama perang melawan para ekstremis Islam di barat laut negara itu.

Pashtun merupakan populasi mayoritas di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan. Protes yang kadang-kadang menarik puluhan ribu demonstran, telah mengguncang militer.

3 dari 5 halaman

Protes yang Mengancam Kekuatan Tentara

Sejak Januari 2018, Manzoor Pashteen dan gerakannya telah menjadi tantangan paling signifikan bagi militer.

Secara historis di Pakistan, gerakan seperti itu sering gagal atau dikooptasi oleh negara - tetapi PTM telah tumbuh dengan sangat kuat.

Negara yang tampaknya tidak yakin bagaimana harus bertindak melawannya, akhirnya mengambil keputusan untuk menahannya. Tuduhan dijatuhkan pada 21 Januari, tetapi butuh seminggu untuk melakukan penangkapan.

Manzoor Pashteen memastikan bahwa ketika dia memimpin gerakan, tidak ada kekerasan yang terjadi.

Manzoor Pashteen telah dituduh “berbicara kebencian” dan memberi hasutan di antara pelanggaran lainnya.

Dia dipindahkan ke tahanan polisi di Peshawar selama 14 hari, dan diperkirakan akan dibawa ke hadapan hakim di Dera Ismail Khan, sekitar 300 km (186 mil) di selatan, tempat tuduhan terhadapnya telah diajukan.

Rekan-rekan pengunjukrasa menuntut pembebasannya segera. Pemimpin PTM lainnya, anggota parlemen Mohsin Dawar, mendesak para pendukung untuk tetap tenang dalam menanggapi penangkapan.

4 dari 5 halaman

Alasan Penahanan Belum Jelas

Ini adalah pertama kalinya Manzoor Pashteen ditahan, namun alasan pihak berwenang memilih untuk menahannya sampai sekarang masih tidak jelas.

Pihak berwenang telah berulang kali menangkap para pemimpin dan aktivis PTM lainnya sejak gerakan ini menjadi terkenal. Tahun lalu Mohsin Dawar dan sesama anggota PTM Majelis Nasional, Ali Wazir, ditahan selama empat bulan setelah adanya bentrokan mematikan di Waziristan.

Menurut pihak berwenang dan kelompok penelitian independen, kekerasan militan sejak 2002 telah memaksa lebih dari lima juta orang di barat laut Pakistan untuk meninggalkan rumah mereka guna mencari perlindungan baik di kamp-kamp pengungsi yang dikelola pemerintah atau menyewa rumah di daerah-daerah yang damai.

Tidak ada angka resmi tentang jumlah total korban tewas dalam perang ini, tetapi perkiraan dari akademisi, pejabat setempat, dan aktivis menyebutkan jumlah warga sipil, militan dan pasukan keamanan yang terbunuh lebih dari 50.000.

Banyak yang melihat PTM sebagai terobosan baru dalam politik suatu negara di mana perang proksi telah menghilangkan hak penduduk besar tidak hanya di wilayah kesukuan dan barat laut, tetapi juga di Balochistan dan bagian lain negara itu.

 

 

Reporter: Deslita Krissanta Sibuea

5 dari 5 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Singapura Luncurkan Tes Online untuk Bantu Warga Deteksi Dini Corona COVID-19
Artikel Selanjutnya
China Merasa Difitnah AS Setelah Dituding Tutupi Data Asli Corona COVID-19