Sukses

Pasca-Penembakan El Paso, Meksiko Desak AS Batasi Kepemilikan Senjata

Liputan6.com, Mexico City - Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador telah mendesak Amerika Serikat (AS) untuk membatasi kepemilikan senjata, yakni dengan mengendalikan penjualan tanpa pandang bulu.

Langkah ini diambil pasca-terjadinya penembakan di El Paso, Texas yang menewaskan 22 orang, dengan delapan di antaranya warga negara Meksiko.

"Kami sangat menghormati apa yang diputuskan oleh pemerintah lain, tetapi kami berpikir bahwa peristiwa nahas ini ... harus mengarah pada refleksi, analisis, dan keputusan untuk mengendalikan penjualan senjata secara sembarangan," kata Lopez Obrador pada konferensi pers di Mexico City pada Senin, lapor Al Jazeera dikutip Selasa (6/8/2019).

Ia melanjutkan, pihaknya tengah mempelajari kemungkinan tersangka penembakan di El Paso yang bernama Patrick Crusius (21) melakukan tindak "terorisme" dan meminta ekstradisi sang terduga pelaku.

Penyelidik percaya, penembak telah mengunggah sejenis manifesto daring sebelum serangan. Dalam dokumen itu, ia mengutuk adanya "invasi" orang Amerika Latin yang datang ke AS.

Beberapa jam setelah penembakan di El Paso, seorang pria bersenjata lain di Dayton, Ohio, menewaskan sembilan orang dalam serangan senjata. Polisi mengatakan tidak ada indikasi itu bermotif rasial. 

Lopez Obrador mengatakan baik Partai Republik maupun Demokrat di AS tidak melakukan tindakan yang cukup untuk melindungi orang dari penembakan massal. 

"Jika kita melihat hal-hal secara objektif, kita harus mengatakan bahwa kedua partai utama AS (hanya) telah memberikan sedikit perhatian pada kontrol senjata," katanya.

2 dari 3 halaman

Donald Trump Sebut Pelaku Pengecut

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengutuk penembakan El Paso pada Sabtu, 3 Agustus 2019. Ia menyebut insiden yang terjadi di supermarket Walmart di Texas itu sebagai tindakan pengecut.

"Penembakan hari ini di El Paso, Texas tidak hanya tragis, itu adalah tindakan pengecut," tulis Donald Trump di Twitter.

Donald Trump, presiden nyentrik AS itu menambahkan, tidak ada pembenaran atas pembunuhan orang tak bersalah, seperti dikutip dari Channel News Asia.

Insiden itu terjadi saat banyak warga tengah sibuk membeli peralatan sekolah di Walmart El Paso. Penembakan itu terjadi hanya enam hari pasca-seorang remaja bersenjata menewaskan tiga orang di sebuah festival makanan di California Utara.

"Hari itu akan menjadi hari normal bagi seseorang untuk berbelanja dengan santai, (namun) berubah menjadi salah satu hari paling mematikan dalam sejarah Texas," kata Gubernur Texas Greg Abbott dalam konferensi pers.

3 dari 3 halaman

Simak pula video pilihan berikut:

Loading