Sukses

Perubahan Iklim Picu Terjadinya Krisis Mentimun di Jepang

Liputan6.com, Tokyo - Pasar sayur mayur di ibu kota Jepang mengalami pekan yang suram dalam hampir 60 tahun terakhir, di mana perubahan cuaca mencolok menyebabkan pertanian terganggu.

Kondisi tersebut menyebabkan harga sayur mayur di Tokyo dan beberapa kota besar Jepang lainnya naik hingga 70 persen, demikian sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Rabu (17/7/2019).

Sat ini, Jepang tengah dilanda cuaca berawan dan suhu dingin, di mana Tokyo hanya mendapat sinar Matahari kurang dari tiga jam selama 20 hari hingga Selasa 16 Juli.

Fakta tersebut merupakan yang terendah sejak Badan Meteorologi Jepang mulai mengumpulkan data pada tahun 1961.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 3 halaman

Berdampak pada Kondisi Pertanian

Kurangnya sinar Matahari dan suhu rendah telah mempengaruhi pertanian di sebagian besar kepulauan Jepang.

Harga mentimun telah melonjak hingga 70 persen, sementara sayuran lain juga membukukan kenaikan dua digit di pasar grosir pusat Tokyo, menurut Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang.

Tetapi tidak semua sayuran terdampak. Harga bawang merah, lobak putih, dan wortel semuanya turun karena pulau utara Hokkaido, tempat mayoritas komoditas itu tumbuh, menikmati tingkat sinar Matahari yang lebih normal.

Penyebab cuaca yang lebih dingin dan hujan adalah anti-siklon di Laut Okhotsk, di lepas pantai timur Rusia, yang telah mendorong udara dingin dan lembab ke hampir seluruh wilayah Jepang.

3 dari 3 halaman

Kekacauan Cuaca di Jepang

Normalnya, Jepang diguyur hujan antara akhir Juni dan awal Juli, yang biasanya berakhir sekarang, di mana kemudian diikuti oleh sekitar dua bulan cuaca panas dan kelembaban yang intens.

Sementara itu, gelombang panas pada Juli tahun lalu, menewaskan puluhan orang dan menyebabkan ribuan lainnya dirawat di rumah sakit di seluruh Jepang.

Suhu tertinggi yang tercatat di Jepang kala itu adalah 41,1 derajat Celsius di Saitama, yang terletak di utara Tokyo.

Sementara itu, panitia dan atlet berharap untuk musim panas yang lebih dingin tahun depan, ketika Olimpiade Tokyo 2020 akan berlangsung dari 24 Juli hingga 9 Agustus.

Badan Meteorologi Jepang memperkirakan kondisi berawan akan berlangsung sepekan lagi, tapi tetap berharap suhu akan kembali ke kondisi normal pada akhir Juli.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.