Sukses

Pria 81 Tahun Ini Jadi Calon Presiden Aljazair untuk Kelima Kalinya

Liputan6.com, Aljir - Presiden Aljazair, Abdelaziz Bouteflika (81) mengumumkan niatnya untuk kembali mencalonkan diri dalam pemilihan umum (pemilu) April mendatang, Minggu 10 Februari 2019.

Pemilu disinyalir akan mengantarkannya menjadi presiden lima periode di negara yang terletak di Afrika Utara itu.

"Menanggapi semua permohonan dan panggilan, saya menyatakan mencalonkan diri untuk pemilihan presiden," kata Bouteflika, dikutip dari Al Jazeera, Senin (11/2/2019).

Pada hari sebelumnya, Front Pembebasan Nasional atau National Liberation Front (FLN) mengumumkan partainya telah berkeputusan untuk mencalonkan kembali Bouteflika untuk pemilu 18 April 2019.

Sebagai informasi, Bouteflika telah berkuasa di Aljazair sejak 1999 dan pernah mengalami serangan stroke pada 2013. Beberapa tahun terakhir, ia juga jarang terlihat di muka umum.

Masalah kesehatan itu telah menjadi pertanyaan besar bagi partai oposisi, terkait mengapa FLN tetap memilihnya sebagai calon presiden Aljazair.

Menanggapi banyak isu yang beredar, Bouteflika meyakinkan dirinya masih mampu melanjutkan pemerintahan. Namun, ia juga tidak menampik memiliki permasalahan kesehatan.

Simak pula video berikut:

2 dari 2 halaman

Janji Reformasi

Jika terpilih lagi dalam pemilu April, Bouteflika menjanjikan reformasi dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial.

"Jika Anda memberi saya kehormatan di April mendatang, saya akan mengadakan simposium nasional dalam tahun ini, yang berfokus pada pencapaian konsensus terkait reformasi," katanya berusaha menarik dukungan rakyat.

Dalam forum itu disinyalir juga akan diajukan perubahan konstitusi, meskipun Bouteflika tidak memberikan gambaran detail.

Sebagai petahana, langkah Bouteflika tidak otomatis mulus. Ia harus menghadapi mantan Perdana Menteri Ali Benflis, peraih suara tertinggi kedua dalam pemilu 2014. Selain Benflis, calon lain yang harus dihadapi adalah Jenderal Ali Ghediri dan pemimpin partai Islam moderat, Abderrazak Makri.

Selain lawan yang tangguh, Bouteflika juga dihadapkan pada kesulitan ekonomi Aljazair, akibat menurunnya harga minyak global.

Hal itu diprediksi akan sedikit mempersulit langkahnya menjadi presiden untuk kelima kali. Mengingat, ia dan kabinetnya pernah selamat dari "Arab Spring" tahun 2010 lalu, dengan berjanji kepada demonstran pro-demokrasi akan melakukan reformasi dan meningkatkan upah buruh yang diambil dari pendapatan negara sektor minyak dan gas.

Warga Arizona Bersiap Hadapi Badai Musim Dingin

Tutup Video
Loading