Sukses

Riset: Kelenjar Laba-Laba Mematikan Australia Bisa Bunuh Sel Kanker

Liputan6.com, Brisbane - Laba-laba funnel-web Australia atau laba-laba jaring corong adalah salah satu arakhnida paling mematikan di dunia, dan para peneliti kini telah menemukan bahwa mereka bahkan dapat digunakan untuk membunuh sel-sel kanker tertentu.

Penelitian oleh QIMR Berghofer Medical Research Institute menemukan peptida – yang diekstrak dari kelenjar racun laba-laba funnel-web Darling Downs dan disintesis secara kimia - memiliki sifat anti-kanker yang dapat membunuh sel kanker melanoma pada manusia dan menghentikan penyebarannya.

Senyawa ini, yang juga terbukti sangat efektif dalam mengobati sel-sel tumor wajah Tasmanian devil, dapat menjadi dasar perawatan kanker baru.

Peneliti utama asal Queensland, Dr Maria Ikonomopoulou mengatakan bahwa peptida itu telah diuji dalam percobaan laboratorium terhadap senyawa serupa dari laba-laba Brasil, dan ia terkejut mendapati bahwa peptide itu memiliki efek yang sangat besar.

"Sangat menggembirakan sekali," katanya, seperti dikutip dari ABC Indonesia, Selasa (9/10/2018).

"Kami menemukan peptida laba-laba jaring corong Australia lebih baik dalam membunuh sel-sel kanker melanoma dan mampu menghentikan penyebarannya, dan itu juga tidak memiliki efek beracun pada sel-sel kulit yang sehat."

Peptida adalah rantai asam amino yang dihubungkan satu sama lain oleh ikatan amida, dimana pada peptida laba-laba jaring corong yang digunakan dalam penelitian internasional ini untuk menguji sifat antibiotik dan anti-kankernya.

Laba-laba jaring corong Darling Downs atau Toowoomba dapat ditemukan di Queensland bagian selatan, dan paling sering di pegunungan yang tertutup hutan hujan dan di sungai kecil dan anak sungai yang mengalir dari pegunungan tersebut.

Dr Ikonomopoulou mengatakan masi perlu waktu bertahun-tahun mendatang, tetapi hasil awal dari penelitian itu sangat menjanjikan.

"Kami berharap bahwa senyawa ini di masa depan dapat dikembangkan menjadi pengobatan baru untuk melanoma," katanya.

"Temuan ini mendorong kami untuk terus menyelidiki potensi senyawa bioaktif yang berasal dari racun untuk mengobati melanoma, kanker, penyakit hati, obesitas dan metabolisme ... bekerja sama dengan industri biofarmasi."

 

* Update Terkini Asian Para Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di Sini.

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Penemuan Tidak Terduga

Dr Ikonomopoulou mengatakan bahwa senyawa tersebut juga dapat digunakan untuk mengobati tumor wajah pada hewan TasmaniaDevil.

"Mirip dengan efek dalam sel melanoma, kami menemukan bahwa peptida laba-laba Australia dapat membunuh sel-sel Penyakit Tumor Wajah Tasmanian Devil (DFTD) dan tidak mempengaruhi sel-sel sehat yang banyak," katanya.

"Dari sudut pandang konservasi, kami mengidentifikasi sebuah senyawa untuk menyelidiki lebih lanjut dan mungkin itu bisa mengarah pada obat melawan penyakit yang dapat digunakan dengan strategi manajemen yang berbeda untuk menyelamatkan spesies ikonik ini," katanya.

DFTD adalah kanker menular yang menyebar melalui gigitan dan menyebabkan tumor tumbuh di dalam wajah atau mulut hewan yang terkena.

Profesor dari University of Tasmania, Gregory Woods mengatakan tidak ada obat yang diketahui untuk penyakit ini.

"Sel-sel kanker sangat kuat sehingga Anda harus membunuh setiap sel kanker dan semua upaya sejauh ini sekitar 90 persen efektif tetapi beberapa sel kanker yang bertahan hidup akan terbentuk kembali," katanya.

Profesor Woods mengatakan penemuan medis baru tentang penyakit ini memberi harapan penyembuhan dapat ditemukan.

"Ada kemajuan luar biasa dalam 10 tahun terakhir mengingat betapa sedikit yang kita ketahui tentang penyakit ini, sehingga setiap penelitian baru yang muncul, ide-ide baru dan hasil baru semuanya berkontribusi pada pemahaman yang lebih besar, bukan hanya penyakit tetapi cara-cara untuk menangani penyakit ini."

Para peneliti di Menzies Institute for Medical Research sedang mengerjakan vaksin untuk mencegah satwa Tasmania devil tidak terserang penyakit.

Studi laba-laba jaring corong ini telah dipublikasikan dalam jurnal Laporan Ilmiah dan Cell Death Discovery.

Video Populer Global

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Manusia Bisa Terpapar Radiasi dan Mengidap Kanker Jika Tinggal di Mars?
Artikel Selanjutnya
Temukan Cara Lawan Kanker, Dua Ilmuwan Dunia Dapat Penghargaan Nobel