Sukses

Perenang Blasteran Jawa-Belanda Ini Bangga RI Jadi Tuan Rumah Asian Games 2018

Liputan6.com, Jakarta - Mungkin banyak yang belum mengenal sosok Ranomi Kromowidjojo, atlet renang berdarah campuran Indonesia dan Belanda yang tiga kali menjuarai Olimpiade. Kemarin, Selasa 14 Agustus 2018, dia datang ke Indonesia untuk menjadi pembicara dalam Konferensi Pemuda Diaspora Indonesia atau Conference of Indonesia Diaspora Youth 2018 (CIDY-2018) di Jakarta.

Usai mengisi sesi pleno, perempuan kelahiran Sauwerd, Belanda, 20 Agustus 1990 itu berbincang mengenai banyak hal dengan awak media, terutama soal perhelatan Asian Games ke-18 tahun ini, yang akan digelar pada 18 Agustus hingga 2 September 2018 di Jakarta dan Palembang.

Menurutnya, adalah sebuah kebanggaan tersendiri bahwa salah satu tanah nenek moyangnya bisa menjadi tuan rumah ajang pertandingan olahraga terbesar di Asia itu. Kendati demikian, gadis berusia 28 tahun ini tidak bisa menonton langsung jalannya permainan karena harus kembali ke negara asalnya. Apalagi dia ingin sekali menyaksikan jalannya laga renang.

"Saya ingin sekali menontonnya, terlebih pertandingan renang. Sayangnya, saya harus kembali ke Belanda hari ini. Tapi ketika berada di bandara (Soekarno-Hatta), saya melihat Jakarta sudah dipenuhi bendera (negara partisipan) dan segala sesuatu tentang Asian Games. Saya pikir ini sudah sangat indah karena Asian Games merupakan perhelatan akbar," kata Ranomi di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.

Dia pun menyemangati atlet-atlet Tanah Air yang akan berlaga di Asian Games 2018 esok. Menurutnya, seluruh lapisan masyarakat di Indonesia akan mendukung para atlet tuan rumah sehingga mereka bisa mendapatkan energi positif dan melakukan yang terbaik demi mengharumkan bangsa.

"Olimpiade adalah yang terbesar, Asian Games juga besar. Jadi Indonesia pasti bangga bisa jadi tuan rumah event ini. Inilah saatnya mereka menunjukkan kemampuan mereka, karena mereka berada di kandang sendiri. Pastinya mereka tahu bahwa negara dan seluruh masyarakat mendukungnya. Saya harap mereka bisa memberikan energi, sehingga para atlet bisa melakukan yang terbaik," ucap perenang gaya bebas Belanda keturunan Jawa Suriname ini.

Ranomi Kromowidjojo sudah menggeluti dunia renang sejak usia 15 tahun. Dia pernah ikut pertandingan internasional untuk pertama kalinya dalam Kejuaraan Renang Eropa 2006 di Budapest, Hongaria, sebagai salah satu peserta estafet renang gaya bebas 4 x 100 meter. Saat itu, dia dan timnya menjadi yang terbaik kedua dan meraih medali senior internasional.

Pada tahun-tahun berikutnya, dia dan tim memperoleh gelar juara kedua --medali perak-- dalam kejuaraan dunia Melbourne 2007 di nomor 4 x 100 meter gaya bebas. Setelahnya, mereka berhasil menggaet medali emas dengan memecahkan rekor dunia di nomor yang sama pada Kejuaraan Eropa 2008.

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

The Golden Girls

Tak ingin berhenti di situ, Ranomi kembali unjuk gigi. Kali ini di Olimpiade Beijing 2008, Ranomi menjadi juara Olimpiade dengan medali emas di nomor 4 x 100 meter gaya bebas, sekali lagi bersama timnya, Inge Dekker, Femke Heemskerk, dan Marleen Veldhuis.

Dia dan timnya kembali membuat kejutan ketika menyabet juara di kejuaraan dunia 2009 di Roma, Italia. Karena itulah, dia dan rekan-rekannya dijuluki The Golden Girls. 

Nasib tak selalu mujur. Ranomi pernah dirawat di rumah sakit selama 9 hari karena virus meningitis. Akibatnya dia tidak bisa berlaga di Kejuaraan Eropa 2010.

Seolah tak patah arang, pada tahun yang sama dia kembali dan berhasil menyumbangkan emas pertama di nomor individu 50 meter dan 100 meter gaya bebas dalam kejuaraan dunia di Dubai.

Sampai di Olimpiade London 2012, Ranomi dan tim sebagai juara bertahan memasang target tiga medali emas di nomor 4 x 100 meter, 100 meter, dan 50 meter. Namun, di nomor 4 x 100 meter, dia dan tim tak mampu mempertahankan gelar juaranya dan harus puas dengan medali perak. 

Loading