Sukses

Amerika Serikat Segera Batasi Visa Bagi Pelajar Asing Asal China

Liputan6.com, Washington DC - Mulai 11 Juni mendatang, pemerintah Amerika Serikat (AS) akan membatasi visa bagi pelajar asal China yang hendak belajar sains dan teknologi di Negeri Paman Sam, yakni menjadi hanya setiap satu tahun.

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan, sesuai kebijakan baru itu, para petugas konsuler bisa membatasi berapa lama visa berlaku bagi pelajar asal China, dibanding kebiasaan selama ini yang berlaku hingga lima tahun.

Laporan kantor berita Associated Press yang dikutip oleh VOA Indonesia pada Jumat (1/6/2018), presiden Dewan Pendidikan AS Ted Mitchel mengatakan: "kebijakan baru ini buruk bagi lembaga-lembaga pendidikan, dan merugikan bagi bangsa Amerika."

Menurut Mitchel, meski kebijakan tersebut agaknya ditujukan kepada pelajar asal China yang mengejar pendidikan tinggi di bidang teknologi dan sains, namun dampaknya akan merugikan bangsa Amerika Serikat.

"Sangat merugikan bagi kemampuan kita untuk menarik mahasiswa internasional dari seluruh dunia," tambah Ted Mitchel.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

 

2 dari 2 halaman

Dicurigai Kalangan Internasional

Sementara itu, ditambahkan oleh Mitchel, akan muncul kecurigaan dari kalangan internasional, sebagai isyarat semakin kecilnya kesempatan bagi mahasiswa dan pakar untuk berpartispasi di pendidikan di Amerika Serikat.

"Kami khawatir Amerika tidak akan menerima mahasiswa dan pakar yang berbakat dari banyak negara," ujar Mitchel.

Menurut data Kementerian Pendidikan AS, dari lebih satu juta mahasiswa internasional yang belajar di Negeri Paman Sam, 30 persen di antaranya berasal dari China.

Tapi beberapa waktu terakhir, jumlah pelajar asing yang datang ke Amerika Serikat kian menurun.

Sebagian besar beralasan karena tingginya biaya kuliah, serta adanya pembatasan kunjungan orang asing ke AS sejak Presiden Donad Trump berkuasa.

Artikel Selanjutnya
Grup Harita Ekspor Alumina ke China
Artikel Selanjutnya
Keberatan dengan Prasyarat AS, PM Kanada Menolak Bertemu Donald Trump