Sukses

Tak Melulu Nuklir, Ini Tim Cheerleader Korea Utara nan Menawan

Liputan6.com, Seoul - Korea Utara telah mengumumkan akan mengirim delegasinya ke Olimpiade Musim Dingin yang digelar di Pyeongchang, Korea Selatan, pada Februari 2018. Tak hanya para atlet, negeri pimpinan Kim Jong-un juga akan mengirim pemandu sorak atau dikenal dengan cheerleader.

Dengan wajah dan gerakan menawan, citra cheeleaders perempuan Korea Utara sangat kontras dengan ketegangan yang ditimbulkan dari uji coba rudal dan nuklirnya.

Dijuluki "pasukan perempuan cantik", cheerleader Korea Utara yang sebagian besar berusia awal 20-an, menarik media untuk makin menyoroti pesonanya setiap kali mereka dikirim ke Korea Selatan.

Istri Kim Jong-un, Ri Sol-ju, pernah bergabung dalam pemandu sorak tersebut. Ia bergabung dengan kelompok itu dalam Asian Athletics Championships di Incheon pada 2005.

Dikutip dari Asia One, Kamis (11/1/2018), kedatangan cheerleader Korea Utara pada Februari mendatang merupakan penampilannya yang keempat di Korea Selatan. Pyeongchang hanya berjarak 80 km di selatan Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan dua negara itu.

Setiap delegasi Korea Utara dipilih secara ketat oleh Pyongyang. Pergerakan mereka pun dikontrol ketat di Korea Selatan.

Menurut sejumlah laporan, delegasi Korea Utara untuk Olimpiade Musim Dingin akan diakomodasi dengan menggunakan sebuah kapal pesiar yang akan berlabuh di Sokcho, Korea Selatan. Hal itu bertujuan untuk memudahkan pemantauan delegasi tersebut.

1 dari 3 halaman

Seleksi Ketat

Seorang peneliti pembelot Korea Utara yang mengelola World Institute for North Korea Studies, An Chan-il, mengatakan bahwa pemandu sorak dilipih oleh rezim dengan kriteria yang ketat.

"Mereka harus memiliki tinggi 163 cm dan berasal dari keluarga baik," ujar An kepada AFP.

"Mereka yang memainkan instrumen (alat musik) berasal dari sebuah band dan lainnya kebanyakan adalah siswa di Kim Il-Sung University yang elite," imbuh An.

Para pemandu sorak Korea Utara pertama kali tampil di muka dunia pada ajang Asian Games 2002 yang digelar di Busan.

Kala itu tim yang beranggotakan 300 pemandu sorak turun dari sebuah feri dengan mengenakan pakaian tradisional Korea atau hanbok berwarna-warni sambil melambaikan bendera unifikasi Korea. Kedatangan mereka pun sontak menjadi pemberitaan media secara besar-besaran.

Saat itu, ratusan warga Busan berjajar di pelabuhan untuk menyambut kedatangan mereka. Beberapa rumah di sana juga turut mengibarkan bendera unifikasi.

2 dari 3 halaman

Jadi Pusat Perhatian

Koreografi para pemandu sorak Korea Selatan dikenal sangat menawan dan terkadang membawa properti pelengkap seperti kipas. Mereka pun akan menjadi pusat perhatian saat berada di tribune.

Pada 2005, mantan pemandu sorak Korea Utara, Cho Myung-ae, muncul dalam sebuah iklan televisi untuk sebuah ponsel Samsung bersama dengan bintang pop Korea Selatan Lee Hyo-ri.

Menurut Komite Penyelenggara Olimpiade Pyeongchang, Sung Baik-you, para suporter masing-masing negara terbukti selalu menjadi salah satu sumber pemasukan terbesar dalam ajang itu.

Kehadiran pemandu sorak Korea Utara pun disebut sebagai kabar baik bagi penyelenggara Olimpiade, karena akan membantu menarik para pendukung untuk melihat pemandu sorak Korea Utara secara langsung.

"Itu akan membantu kita dalam penjualan tiket," ujar Sung. "Ini akan memenuhi keinginan kita untuk Olimpiade perdamaian."

Artikel Selanjutnya
Jelang Pertemuan dengan Kim Jong-un, Korea Selatan Hentikan Siaran Propaganda
Artikel Selanjutnya
Istri Pemimpin Korea Utara Resmi Menyandang Status Ibu Negara