Sukses

Berkat Bauksit, 500 Pekerja RI di Guinea Dapat 'Durian Runtuh'

Liputan6.com, Conakry - Sebanyak 500 Pekerja Migran Indonesia (PMI), yang saat ini mencari nafkah dari aktivitas blok tambang di Kota Boké, Republik Guinea, menikmati 'durian runtuh' atas berkembangnya investasi bauksit di negara tersebut.

Mereka menikmati keuntungan dari hasil lonjakan investasi bauksit di Republik Guinea, yang saat ini mencapai lebih dari 200 juta ton pertahun dalam beberapa tahun terakhir -- sebuah rekor. Demikian seperti dikutip dari rilis resmi KBRI Dakar yang dimuat Liputan6.com, Sabtu (30/12/2017).

Ratusan pekerja migran Indonesia tersebut bekerja untuk Winning Group, perusahaan asal Tiongkok yang bergerak di industri kargo dan jasa transportasi laut massal. Di sana, para PMI bekerja sebagai transporter bauksit dari pelabuhan dengan menggunakan perahu menuju kapal pengangkut yang berkapasitas 198 ribu ton sekali angkut.

Jiang Xiaobei, Managing Director Winning Group cabang Afrika, mengatakan sangat percaya dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki para PMI. Para PMI tersebut menerima gaji dengan kisaran 1.060 – 3.500 Dollar AS per bulan, tergantung dari posisi dan keahlian masing-masing.

Kapten Denny, seorang pekerja di bidang administrasi, mengaku sangat senang dengan kondisi kerja di Winning Group.

"Lingkungan kerja juga sangat kondusif dengan fasilitas lengkap seperti uang lembur dan bonus yang diterima sedikitnya 1250 – 1500 Dollar AS tiap bulannya," kata Denny.

Tidak hanya itu, lanjut Denny, para pekerja migran juga dibekali dengan asuransi kesehatan yang turut menjamin keluarga. Serta, uang cuti plus tiket pergi-pulang ke Tanah Air.

1 dari 3 halaman

Kinerja Pekerja Migran Indonesia Memuaskan

Menurut Caroline, Managing Director Winning Group, perusahaannya sangat puas dengan kinerja PMI, sehingga akan terus merekrut mereka untuk mengisi posisi sebagai kapten kapal dan transporter. Bahkan, ia baru saja mendatangkan 10 pekerja migran baru ke Guinea.

Duta Besar RI untuk Republik Guinea (merangkap untuk dan berkedudukan di Senegal), Mansyur Pangeran menyampaikan apresiasi yang tinggi atas perlakuan dan fasilitas yang baik yang diberikan manajemen Winning Group kepada para pekerja migran Indonesia.

Sang dubes juga menyarankan kepada Winning Group untuk lebih banyak lagi merekrut pekerja semi-skill dari Indonesia.

"Tentunya kami akan dukung jika perusahaan ingin tambah karyawan dari Indonesia karena peraturan perusahaan cukup jelas, fasilitas yang diterima termasuk asuransi pekerja dan keluarganya di Indonesia. Lagipula perusahaan mendapatkan keuntungan yang sangat besar mencapai 3 miliar Dollar AS per tahun", ujar Dubes Mansyur.

Kepada Dubes Mansyur, Managing Director Winning Group berjanji akan memperlakukan PMI dengan baik sebagaimana pekerja lainnya sesuai ketentuan perburuhan yang berlaku.

Sejak beroperasi tahun 2002, Winning Group telah berhasil menjalin hubungan yang baik dengan perusahaan-perusahaan tambang di Indonesia. Pada tahun 2011 Winning Group mencapai rekor perusahaan dengan mengangkut 95 persen bauksit dari Indonesia ke Tiongkok.

Winning Group yang berkantor pusat di Singapura menyelesaikan operasi pengiriman bauksit pertamanya dari Guinea ke Tiongkok pada tahun 2015 yang mengawali dibukanya era suplai bauksit antara Afrika dan Tiongkok.

2 dari 3 halaman

Kunjungi Terapis Spa Asal Indonesia

Selain 500 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Boké, juga terdapat 4 PMI yang bekerja sebagai terapis spa di Hotel Sheraton, Conakry, ibu kota Republik Guinea. Keempat PMI ini dikontrak selama dua tahun yang akan segera berakhir kontraknya pada bulan Februari 2018.

"Mereka juga menerima gaji yang cukup bagus diatas 1010 Dollar AS serta mendapat fasilitas akomodasi dan makan. Pihak manajemen pun juga menyediakan fasilitas internet dan voucher pulsa", kata Dubes.

Dalam kesempatan ini, Dubes Mansyur memberikan arahan agar saudara-saudara PMI senantiasa berkelakuan baik dan menghormati tata tertib dan aturan hukum setempat.

Dubes juga meminta agar seluruh pekerja Indonesia di Guinea dapat menghubungi KBRI apabila ada hal-hal yang bersifat darurat atau memerlukan layanan cepat dari KBRI seperti pembuatan paspor atau dokumen yang lain.

Selain untuk mengetahui nasib para PMI di Guinea, momentum pertemuan dengan para PMI juga dimanfaatkan oleh KBRI Dakar untuk membuka warung konsuler antara lain pencatatan lapor diri dan penyerahan Paspor RI baru kepada PMI yang kehilangan paspor.

Artikel Selanjutnya
Kemnaker Melakukan Penandatangan Perjanjian Kerja Sama dengan Universitas Diponegoro
Artikel Selanjutnya
KBRI Amman Berhasil Temukan TKI Dastin yang Hilang Selama 13 Tahun di Yordania