Sukses

Eks Agen FBI Bakal Menguak Pembocor Lokasi Anne Frank kepada Nazi

Liputan6.com, Amsterdam - Seorang pensiunan agen FBI melaksanakan penyelidikan teranyar untuk mengidentifikasi dalang di balik pembocor keberadaan Anne Frank, gadis Yahudi belia yang bersembunyi dari kejaran Nazi Jerman pada era Holocaust.

Pembocoran yang bertendensi sebagai aksi pengkhianatan itu berujung pada penangkapan Anne beserta keluarganya dan sejumlah individu lain yang bersembunyi oleh aparat Nazi Jerman pemburu Yahudi pada 1944 di Amsterdam.

Dipimpin oleh eks-agen FBI Vince Pankoke, penyelidikan itu akan dilakukan dengan menggunakan teknik cold-case investigative, yakni dengan melakukan reka adegan kejadian dan telaah sejumlah dokumen menggunakan metode analisis mendalam. Demikian seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (4/10/2017).

Sementara itu, eks-agen FBI Roger Depue--pionir unit analis kriminal ternama FBI, Behavioral Science Unit--akan ikut terlibat dengan melakukan kajian mendalam terhadap sejumlah pernyataan dan kesaksian para saksi mata.

Tim juga akan menggelar rekonstruksi kejadian dengan melibatkan sejumlah aktor yang memerankan para individu yang terlibat pada hari ketika aparat Nazi Jerman menyerbu tempat persembunyian Anne dan sejumlah Yahudi lainnya.

Melalui penyelidikan tersebut, tim beranggotakan 19 ahli lintas disiplin keilmuan dan kepakaran itu berusaha menguak tanya: siapa yang mengkhianati Anne Frank?

"Tim menghabiskan banyak waktu di Arsip Nasional Amerika Serikat dan menemukan beberapa dokumen yang bersumber dari Amsterdam. Sebelumnya, dokumen itu sempat dinyatakan tak ada. Beberapa dokumen sempat rusak atau ditulis bersandi ala militer Jerman," ujar Pankoke.

"Meski begitu, tim berhasil menemukan banyak nama informan yang bekerja sama dengan Gestapo (polisi rahasia Nazi Jerman yang salah satu tugas khususnya adalah memburu Yahudi) dalam melakukan penangkapan di Amsterdam. Untungya dokumen itu terkumpul semua. Dan kami mungkin dapat menemukan korelasinya," ujar eks-agen FBI itu.

Tim juga berusaha memperoleh dokumen catatan sipil masyarakat yang tinggal di Joordan, Amsterdam, lokasi di mana Anne, ayah - ibu (Otto dan Edith), serta adiknya, Margot, bersembunyi di paviliun (annex) rahasia sebuah rumah di kawasan tersebut. Yahudi lain yang turut bersembunyi bersama the Frank's adalah keluarga van Pels (pasutri Hermann dan Auguste serta anak mereka, Peter), dan Fritz Pfeffer seorang dokter gigi.

Pankoke dan rekan juga berusaha merekonstruksi mengenai keterlibatan sekitar 30 nama yang diduga sebagai kolaborator Gestapo.

"Telaah sebelumnya sempat menunjukkan adanya keterlibatan salah satu nama dari 30 terduga. Pankoke berangkat dari temuan itu. Namun, ia merekonstruksi kasus tepat dari semula," jelas Thijs Bayens, salah satu promotor proyek yang dikerjakan tim Pankoke.

Bersama Bayens, jurnalis Belanda Pieter van Twisk turut membantu menyokong proyek tersebut. Mereka juga dibantu oleh Xomnia, firma pengolah dan analis data.

"Data yang ditemukan sangat banyak. Dan kami baru melakukan langkah awal. Maka agar hasil analisis dapat relevan, kami menggunakan metode algoritma untuk mengolah data," lanjut Bayens.

"Data itu mungkin dapat memberikan kejelasan mengenai situasi saat kejadian serta sejumlah pertanyaan seperti, apakah ada anggota partai Nazi di area tersebut? Apakah mereka memiliki hubungan dengan Gestapo? Apakah ada agen Gestapo yang menetap di sana? Untuk menjawab semua itu, kami memerlukan analisis jutaan dokumen," tambahnya.

Sementara itu, Pankoke menambahkan, penyelidikan itu tidak ditujukan untuk mencari dan menyeret mereka yang bersalah ke muka hukum. Alasan sang mantan agen FBI itu sederhana, ia hanya berusaha untuk 'memecahkan kasus terakhir di penghujung karier'-nya sebagai seorang penyelidik.

"Dan lagipula, tidak ada batasan waktu demi mengungkap kebenaran," tambahnya.

Investigasi itu akan dimulai akhir pekan nanti. Hasilnya diharapkan dapat dipresentasikan pada 4 Agustus 2019, bertepatan pada upacara mengenang 75 tahun penangkapan the Frank's.

1 dari 2 halaman

Dikhianati atau Kebetulan Terciduk?

Selama ini, sejumlah sejarawan menduga ada pengkhianatan yang menyebabkan terkuaknya tempat persembunyian remaja Anne Frank dan keluarganya dari kejaran Nazi dalam masa Perang Dunia II.

Namun, menurut suatu telaah baru-baru ini, pihak Nazi mungkin saja menemukan tempat persembunyian Anne Frank secara tidak sengaja, bukan karena ada pengkhianatan terhadap remaja itu dan keluarganya.

Suatu penelitian yang dilakukan oleh Anne Frank House Museum di Amsterdam, Belanda, tidak menemukan bukti bahwa Anne dan tujuh orang Yahudi lain yang bersembunyi bersamanya selama dua tahun, diserahkan ke pihak pendudukan Jerman pada 1944. Demikian menurut laporan Sunday Times di London sebagaimana dikutip dari news.com.au pada Senin, 12 Desember 2016.

Ada dugaan pihak Nazi sebenarnya sedang mengejar pelaku pemalsuan kupon pembagian jatah makanan.

Dua orang yang bekerja di bangunan komersial tempat keluarga Frank tinggal dalam suatu ruang rahasia saat itu ditangkap karena bisnis kupon-kupon palsu di pasar gelap, demikian temuan penelitian yang dimaksud.

Dalam ruang rahasia itulah, Anne Frank menuliskan buku hariannya yang sekarang menjadi terkenal.

Menurut sejarawan Gertjan Broek, "Saat berkegiatan sehari-hari, para penyidik…secara kebetulan menemukan sejumlah kaum Yahudi sedang dalam persembunyian."

Broek tidak menemukan bukti adanya kaitan antar penangkapan dua pria tersangka pemalsu kupon dengan penahanan keluarga Frank pada 4 Agustus 1944.

Namun, dia juga tidak menemukan bukti pengkhianatan yang diduga mengarahkan pihak Jerman kepada rak buku yang bisa digeser di dalam suatu bangunan sepanjang kanal Prinsengracht tersebut.

Anne meninggal dunia di kamp konsentrasi Bergen-Belsen pada Februari 1945 saat berusia 15 tahun, hanya dua bulan sebelum kamp itu dibebaskan oleh pasukan Sekutu.

Otto, ayahnya, adalah satu-satunya anggota keluarga yang lolos dari maut. Ia menemukan buku harian putrinya ketika kembali ke tempat persembunyian keluarga di masa perang.

Buku harian itu diterbitkan dalam bahasa Inggris pada 1952 dengan judul The Diary of a Young Girl, yang membeberkan kehidupan pahit selama persembunyian.

Buku itu telah diterjemahkan dalam 67 bahasa. Anne Frank pun menjelma menjadi seorang ikon. Namun, selama beberapa dekade setelah Perang Dunia II, para peneliti masih belum mencapai konsensus tentang cara Frank ketahuan oleh pihak Nazi Jerman.