Liputan6.com, Bangkok: Seseorang dapat mengembangkan bakatnya dengan segala cara. Buktinya, Tauen Phattayakul, seorang perajin Thailand, mengembangkan jiwa seninya dengan membuat instrumen musik tradisional berbentuk miniatur. Bahkan, Phattayakul mampu meminiatur sebuah alat musik 12 kali lebih kecil ketimbang aslinya. Seperti yang ia perlihatkan baru-baru ini, di Bangkok.
Phattayakul, yang kini berusia 97 tahun, menekuni dunia pembuatan alat musik tradisional sejak usia belia. Ia sangat berbakat dalam bidangnya. Untuk membedakan dari perajin lainnya, Phattayakul memilih spesialisasi membuat miniatur alat musik konvensional. Satu di antara yang ia buat adalah gamelan, alat musik tradisional dari Jawa.
Menurut Phattayakul, pilihan membuat miniatur jauh lebih menantang. Soalnya, tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi ketimbang membuat alat musik dengan ukuran sebenarnya. Kendati begitu, ia tetap menjaga hasil karyanya menjadi reproduksi sempurna dari bentuk aslinya.
Phattayakul menambahkan, ia sangat menikmati pekerjaannya ini, meski pembuatan minatur alat musik lebih susah dan memakan waktu lama. Sekurang-kurangnya perlu waktu dua bulan untuk membuat tiap instrumen. Ia berharap, miniatur yang ia buat dapat mencegah kepunahan alat musik tradisional di Thailand.
Menurut pakar musik di Thailand, keahlian Phattayakul adalah bakat yang hanya dipunyai segelintir orang. Soalnya, kebanyakan orang cenderung putus asa dan menyerah bila harus membuat miniatur alat musik. Apalagi, pembuatan alat musik miniatur seperti drum, xylophone, dan flute tetap mengindahkan tiap detail dari alat musik sebenarnya. Itulah sebabnya, untuk membuat drum tradisional seukuran bola golf maupun alat musik cymbal seukuran kancing baju, Phattayakul menggunakan alat bantu berupa kaca pembesar dan semacam alat penjepit.(ORS/Indri)
Phattayakul, yang kini berusia 97 tahun, menekuni dunia pembuatan alat musik tradisional sejak usia belia. Ia sangat berbakat dalam bidangnya. Untuk membedakan dari perajin lainnya, Phattayakul memilih spesialisasi membuat miniatur alat musik konvensional. Satu di antara yang ia buat adalah gamelan, alat musik tradisional dari Jawa.
Menurut Phattayakul, pilihan membuat miniatur jauh lebih menantang. Soalnya, tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi ketimbang membuat alat musik dengan ukuran sebenarnya. Kendati begitu, ia tetap menjaga hasil karyanya menjadi reproduksi sempurna dari bentuk aslinya.
Phattayakul menambahkan, ia sangat menikmati pekerjaannya ini, meski pembuatan minatur alat musik lebih susah dan memakan waktu lama. Sekurang-kurangnya perlu waktu dua bulan untuk membuat tiap instrumen. Ia berharap, miniatur yang ia buat dapat mencegah kepunahan alat musik tradisional di Thailand.
Menurut pakar musik di Thailand, keahlian Phattayakul adalah bakat yang hanya dipunyai segelintir orang. Soalnya, kebanyakan orang cenderung putus asa dan menyerah bila harus membuat miniatur alat musik. Apalagi, pembuatan alat musik miniatur seperti drum, xylophone, dan flute tetap mengindahkan tiap detail dari alat musik sebenarnya. Itulah sebabnya, untuk membuat drum tradisional seukuran bola golf maupun alat musik cymbal seukuran kancing baju, Phattayakul menggunakan alat bantu berupa kaca pembesar dan semacam alat penjepit.(ORS/Indri)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329639/original/025640700_1787286446-purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340558/original/047338600_1788510282-cek_fakta_-_BNI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340333/original/035396900_1788502118-cek_fakta_purbaya_dana_hibah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324106/original/075794500_1786690114-cek_fakta_-_alat_pertanian_tanam_padi_hingga_traktor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/368112/original/190202cLN_Musik.jpg)