Sukses

150 Orang Menanti Ajal Eksekusi Mati Arab Saudi

Liputan6.com, Riyadh - Arab Saudi rencananya akan mengeksekusi 150 orang atau lebih, dalam dua tahun berturut-turut. Angka itu diungkapkan oleh kelompok hak asasi manusia, Reprieve, di mana Arab Saudi dinilai menjadi negara yang paling sering melakukan eksekusi dalam melaksanakan hukuman peradilan.

Reprieve juga mengklaim bahwa data tersebut menunjukkan bahwa Arab Saudi semakin meningkatkan penggunaan pengadilan rahasia untuk menjatuhkan hukuman mati kepada pelaku kejahatan narkoba, remaja, dan tahanan politik.

Dikutip dari The Guardian, Senin (19/12/2016), banyak negara Teluk menggunakan hukuman mati dan terdapat kekhawatiran bahwa eksekusi mati menjadi hal normal yang baru. Angka Reprieve mengungkap bahwa 150 orang di Arab Saudi telah dieksekuasi tahun ini, mendekati 158 orang pada 2015 dan jauh di atas 87 orang yang dieksekusi pada 2014.

Remaja pun tak luput dari daftar orang yang dieksekusi mati, termasuk Ali al-Nimr, Dawood al-Marhoon, dan Abdullah al-Zaher, yang ditangkap karena kaitannya dengan protes. Ketika ditangkap pada 2002, Al-Marhoon baru berusia 17 tahun sedangkan al-Nimr berusia 22 tahun pada minggu depan.

Hal tersebut memunculkan sejumlah kekhawatiran, termasuk oleh mantan Perdana Menteri Inggris, David Cameron. Pada tahun lalu, Cameron menyerukan pemerintah Arab Saudi untuk menghentikan rencana pengeksekusian Ali, Dawood dan Abdullah.

Namun Reprieve berpendapat bahwa Inggris seharusnya tidak hanya fokus untuk mencari jaminan bahwa hukuman mati terhadap remaja itu tidak dilakukan, namun juga meminta Arab Saudi meringankan hukuman dan membebaskannya.

Terdapat laporan bahwa Dawood al-Marhoon dianiaya di penjara. Kelompok tersebut menambahkan, terdapat laporan bahwa ia telah dipukul dan diancam akan ditempatkan di sel tersendiri setelah mengeluh soal kekerasan yang dialaminya.

Lebih dari dua per tiga negara di dunia telah menghapuskan hukuman mati. Namun demikian, tahun 2015 terjadi peningkatan hukuman mati di seluruh dunia. Setidaknya 1.634 orang dieksekusi, di mana angka tersebut naik lebih dari 50 persen dibanding sebelumnya.

Amnesty Internasional mencatat bahwa jumlah eksekusi yang dijalankan pada 2015 merupakan angka tertinggi sejak 1989. Jumlah tersebut tidak termasuk China, di mana ribuan orang diduga telah dieksekusi namun tidak terdapat data atas hal tersebut karena diperlakukan sebagai rahasia negara.

Penelitian yang dilakukan Reprieve dipublikasikan ketika Menteri Luar Negeri Inggris Tobias Ellwood bersama dengan Menteri Luar Negeri AS John Kerry, bertemu dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz dan Putra Mahkota Mohammed bin Nayef di Riyadh. Pertemuan tersebut dilakukan untuk mendiskusikan upaya perdamaian di Yaman.