Sukses

Gadis Korban Bullying Ini Bunuh Diri di Depan Orangtuanya

Liputan6.com, Austin - Brandy Vela yang tak lagi tahan menjadi korban bullying tiba-tiba mengirimkan pesan pendek pada keluarganya. "Aku sangat mencintai kalian, tolong ingatlah hal tersebut. Aku minta maaf atas semua yang kulakukan."

Pesan pendek gadis 18 tahun asal Texas tersebut tentu saja mengagetkan keluarganya. Orangtua serta kakek dan neneknya cepat-cepat bergegas mencari tahu apa yang terjadi.

Saat tiba di kamar Brandy, mereka terkejut bukan kepalang saat melihat gadis itu berdiri sambil memegang pistol, siap menembak dirinya sendiri.

"Mendengar seseorang menangis, jadi aku berlari ke atas. Saat masuk ke kamarnya, aku melihatnya memegang senjata dan berurai air mata," kata kakak Brandy, Jackie, seperti dikutip dari News.com.au, Sabtu (3/12/2016).

"Brandy, tolong, jangan. Brandy jangan," itu yang diucapkan Jackie pada adiknya.

Namun, Brandy terlanjur menarik pelatuk. Sang ayah yang hatinya hancur hanya bisa berteriak, "Tolong, tolong aku."

Brandy meninggal dunia pada Selasa 29 November 2016, beberapa jam setelah ia mencoba untuk membunuh dirinya sendiri.

Jackie menambahkan, adiknya sering diejek akibat berat badannya. Dan, dalam beberapa bulan terakhir ia menjadi korban cyber-bullying tanpa henti.

"Orang-orang membuat akun Facebook palsu, dan mengirimkan pesan padanya. Ia tak membalas, namun pesan-pesan itu terus berdatangan," kata dia pada CNN.

Ayah Brandy, Raul Vela mengatakan, sejak April lalu, sejumlah siswa mulai membuat akun palsu  yang mencatut nama putrinya, seakan ia menawarkan hubungan seksual.

Raul Vela menambahkan, saat kejadian, ia telah memohon agar putrinya meletakkan senjata. Namun, Brandy bergeming.

"Katanya, terlalu jauh dan terlambat untuk kembali. Sungguh disayangkan aku harus menyaksikannya. Sungguh berat ketika putrimu sendiri menyuruhmu untuk membalikkan badan saat ia menembak dirinya sendiri. Aku merasa tak berdaya," kata dia.

Meskipun Brandy mengubah nomor teleponnya dan melaporkan intimidasi kepada polisi, namun tak ada lagi yang bisa ia lakukan.

Korban disukai, dicintai oleh keluarganya dan memiliki banyak teman, tapi dia tidak bisa mengatasi stres karena ditindas terus-menerus.

"Aparat tidak bisa melakukan apa-apa karena (para tersangka) menggunakan sebuah aplikasi yang tidak dapat dilacak. Mereka tidak bisa melakukan sesuatu sampai terjadi sesuatu," kata Jackie.

Keluarga Brandy yakin, kematian korban akibat serangan intimidasi selama bertahun-tahun.

Kepolisian Texas merilis sebuah pernyataan yang mengatakan penyidik masih menyelidiki dugaan intimidasi siber terkait kematian korban.

Sementara, kepala SMA, Texas City independent School District (TCISD) di mana Brandy menuntut ilmu, Melissa Tortorici mengaku pihaknya prihatin mendengar kabar kematian Brandy, yang jadi korban bullying
"Kami sangat bersedih karena berita ini. Doa, simpati, dan kepedulian kami untuk keluarga dan teman-teman yang berduka."