Sukses

Roket ke Mars Diluncurkan, Tanda Kehidupan Bakal Terungkap?

Liputan6.com, Baikonur - Pencarian bersejarah yang dilakukan oleh Eropa telah dimulai, setelah roket milik Rusia, Proton, meluncur ke angkasa luar dari Kazakhtan, pada Senin, 14 Maret 2016.

Proton merupakan roket pertama yang diluncurkan, dari dua roket ExoMars. Dengan tujuan mengungkap tanda-tanda kehidupan di Mars, benda yang dikirim ke angkasa luar tersebut memakan biaya hingga 1,2 miliar euro atau sekitar Rp 17,4 triliun.

ExoMars merupakan misi gabungan dari European Space Agency (ESA) dan Russian Federal Space Agency, Roscosmos.

Peluncuran dari Kosmodrom Baikonur tersebut, juga mengirimkan dua probe--robot yang menjelajahi angkasa luar-- tanpa awak dalam penjelajahan yang berlangsung tujuh bulan.

Seperti yang dikutip dari News.com.au, Selasa (15/3/2016), misi tersebut akan memburu metana di atmosfer Mars dan diharapkan menunjukkan apakah ada tanda-tanda yang dihasilkan dari proses geologis atau biologis.

Dalam dua tahun ke depan, ExoMars 2018 akan mengirim rover--kendaraan atau robot eksplorasi angkasa luar yang dirancang untuk dapat bergerak di permukaan benda-benda angkasa-- buatan Inggris yang dibangun dengan teknologi mutakhir ke Mars.

Probes, robot yang menjelajahi angkasa luar (Foto: Jet Propulsion Laboratory NASA).

Dilengkapi dengan bor yang dapat menggali jauh di bawah permukaan Mars, rover tersebut akan mencari tanda-tanda kehidupan. Jika para ilmuwan berhasil menemukan bukti tersebut, walaupun kehidupan primitif pada jutaan tahun lalu, hal tersebut akan menjadi salah satu penemuan terbesar sepanjang masa.

Sementara rover Amerika sebelumnya telah membuka jalan dengan menyelidiki apakah lingkungan Mars cocok untuk kehidupan mikroba, namun mereka tak dilengkapi peralatan untuk mencari kehidupan.

Rover, robot eksplorasi angkasa luar (Foto: ESA).

Ilmuwan yang mempelajari tentang planet merah itu, Dr. Peter Grindrod dari University of London, dan didanai oleh badan antariksa Inggris, mengatakan bahwa hal tersebut sangat menarik.

"Ini adalah serangkaian misi yang berusaha untuk menjawab salah satu pertanyaan mendasar dalam ilmu pengetahun: apakah ada kehidupan lain selain Bumi?," ujarnya.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Singapura Luncurkan Tes Online untuk Bantu Warga Deteksi Dini Corona COVID-19
Artikel Selanjutnya
China Merasa Difitnah AS Setelah Dituding Tutupi Data Asli Corona COVID-19