Sukses

Terkuak, Ini 5 Ancaman Bencana yang Bisa Sebabkan Kiamat

Liputan6.com, Jakarta - Penggambaran kiamat  biasanya merupakan ide populer dari film sains fiksi. Namun, pada kenyataannya ada sejumlah teori sains yang bisa menjawab, bahwa apocalypse itu sangat mungkin itu terjadi.

Teori itu antara lain, Bumi hancur karena hantaman asteroid, ledakan masif gunung berapi hingga pendemi global penyakit mematikan. Ramalan-ramalan kiamat oleh sains pun telah banyak digelontorkan.

Pun dengan ramalan-ramalan dari ahli nujum. 

Pernyataan kontroversial datang dari Ahmed Shaheen yang mengklaim sebagai seorang ahli astronomi. Pria yang menamakan dirinya sebagai "Nostradamus Arab" itu mengatakan bahwa hari kiamat sudah terlebih dahulu terjadi di Mars, selanjutnya Bumi.

Kepada salah satu situs berita Uni Emirat Arab yang dimuat Al-Arabiya, pada 2014 lalu Ahmed menjelaskan bahwa Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) tengah mengamati kemungkinan Matahari mulai terbit dari sebelah barat.

"Dalam 6 tahun terakhir, NASA telah mengamati Matahari mulai terbit dari barat. Ini menjadi tanda-tanda terjadinya Hari Kiamat," ujarnya.

Ahmed yang mengklaim dirinya sebagai anggota Serikat Astronom Amerika (American Union for Astronomers) dan peneliti lembaga pembela hak asasi Amnesty International itu mengemukakan bahwa makhluk yang ada di Mars sudah mengetahui tanda bahwa kiamat akan terjadi di planet merah tersebut.

Sejak itu, kata dia, para makhluk tersebut pindah dan menyebar ke planet lain, termasuk Bumi.

Menanggapi hal tersebut, ilmuwan NASA Farouq al-Baz menegaskan bahwa penjelasan Ahmed tersebut omong kosong. Sebab tidak ada bukti ilmiah yang bisa membuktikan pernyataannya itu benar.

Bagaimanapun, doomsday alias hari kiamat merupakan sebuah hari yang mungkin terjadi. Jika dilihat dari kacamata sains ancaman kiamat datang dari Bumi dan sekelilingnya. Liputan6.com mengulasnya dari berbagai sumber.

Berikut 5 ancaman bencana terbesar bagi umat manusia yang memungkinan Bumi hancur dan peradaban hilang.


2 dari 6 halaman

Ledakan Dahsyat Gunung Berapi

Disebut oleh para ahli 'Supervolcano' di mana sebuah gunung berapi mengeluarkan isi perutnya dalam kapasitas besar.

Supervolcano berarti gunung itu mampu memuntahkan isi perutnya sebanyak 1.000 kubik kilometer. Itu berarti 10 kali lebih besar dari ledakan gunung berapi Saint Helens pada 1980 yang merupakan ledakan bersejarah gunung api di Amerika Serikat.

Ahli geologi belum pernah menyaksikan supervolcano sebelumnya. Namun, melihat sejarah, ledakan dahsyat mungkin saja terjadi, seperti dilansir dari Daily Mail.

Supervolcano diperkirakan mampu memberikan hujan debu yang tebal dan merusak wilayah geologi sebesar Eropa. Tentunya, itu semua dapat menghancurkan kehidupan di dalamnya.

Selama proses erupsi, gasnya akan merusak atmosfer dan bisa jadi hingga ke luar angkasa.

Gas akan menyebar di seluruh dunia, membentuk selubung aerosol sulfat yang akan bertahan selama beberapa tahun dan memicu musim dingin vulkanik.

Gunung Ontake Jepang meletus (Reuters)

Bumi akan tertutup sehingga gas radiasi matahari akan mudah masuk. Hasilnya akan ada ketidakstabilan ekstrem dalam sistem iklim. Suhu permukaan akan jatuh dengan cepat, yang menyebabkan runtuhnya pertanian dan kelaparan dan beberapa berspekulasi kondisi ini bahkan dapat menyebabkan timbulnya suatu Zaman Es baru.

Untungnya, bencana letusan super seperti ini jarang terjadi. Terakhir terjadi 27.000 tahun yang lalu di Selandia Baru. Namun, kita tidak tahu kapan yang berikutnya akan menyerang dan benar-benar tidak ada cara untuk mencegahnya.

3 dari 6 halaman

Musim Dingin Nuklir

Dengan kekuatan yang dapat menghancurkan seluruh kota alam hitungan detik, bom nuklir adalah senjata paling dahsyat di planet ini.

Dalam banyak hal, orang-orang dimusnahkan di saat-saat pertama ledakan terjadi dapat dianggap yang beruntung.

Pada 1980-an, ilmuwan terkemuka termasuk Carl Sagan memperingatkan bahwa perang nuklir antara AS dan Uni Soviet bisa mendorong dunia ke dalam bencaa musim dingin nuklir.

Ilustrasi bom nuklir dalam Perang Dunia

Kota yang terbakar dan hutan yang hangus akan mengirimkan awan dan menutup sinar matahari. Butuh bertahun-tahun untuk menghilangkan partikel itu.

Dalam skenario terburuk, maka diperkirakan 99 persen dari cahaya matahari akan terhalang selama beberapa bulan, sehingga siang sepert senja. Akibatnya, menghentikan fotosintesis, yang berarti makanan bisa menjadi langka.

Tanaman, hewan dan manusia kemudian akan binasa dalam kegelapan.

4 dari 6 halaman

Tabrakan Asteroid

Asteroid adalah puing-puing berbatu, yang tersisa dari penciptaan planet-planet, di sekitar sistem tata surya kita, yang mengorbit matahari.

Dari waktu ke waktu mereka berpapasan dengan Bumi dan, sementara dampak tabrakan yang paling terkenal terjadi saat skala tabrakan 6,2 mil (10km) yang langka sehingga memusnahkan dinosaurus.

Namun, jika ukuran asteroid 5 kali lebih besar daripada tragedi musnahnya dinosaurus, tentu akan menjadi bencana bagi peradaban, seperti dikutip dari majalah How It Works.

Asteroid dengan ukuran raksasa dilaporkan tengah mendekati orbit Bumi dan berada di titik terdekatnya pada pekan ini (Ilustrasi: Inquisitr)

Dengan energi yang lebih besar dari 10 juta bom Hiroshima, tabrakan itu akan meratakan segala sesuatu dalam radius 300kilometer.

Debu dan puing-puing akan menyebabkan 'dampak musim dingin' dan sebagian besar makhluk hidup akan musnah.

Atau, serangan laut akan memicu tsunami yang monumental, melenyapkan seluruh garis pantai dan menyuntikkan air laut ke atmosfer, menghancurkan lapisan ozon dan mengekspos korban ke tingkat radiasi ultra violet  yang menghancurkan.


5 dari 6 halaman

Pandemi Global

Pandemi adalah wabah penyakit menular yang menyebar di banyak dunia. Sejarah manusia diselingi oleh bagaimana melemahkan pandemi. Meskipun kemajuan medis telah berlangsung, itu hanya masalah waktu sebelum kita menghadapi yang lain.

Standar sanitasi dewasa ini dan penelitian medis membantu kita selangkah lebih maju dari apapun baik itu virus maupun bakteri yang paling menular. Tapi perjalanan virus serta bakter dan peningkatan populasi kepadatan internasional yang luas membuatnya lebih mudah untuk pandemi global mengancam kita semua.

Petugas medis dari Croix Rouge LSM membawa jenazah korban Ebola dari sebuah rumah di Monrovia, Liberia, 29 September 2014. Dari empat negara di Afrika Barat, Liberia menjadi negara yang paling parah terkena wabah Ebola. (AFP PHOTO/PASCAL GUYOT)

Pada tahun 2003, SARS (sindrom pernapasan akut parah) - bentuk serius dari pneumonia - menyebar ke enam dari tujuh benua di dunia dalam beberapa bulan, menginfeksi sekitar 8.000 orang dan membunuh 750.

Baru-baru ini, Ebola - penyakit mengerikan melanda Afrika Barat dengan korban tewas lebih dari 11.000 - mengancam terjadinya pandemi pada akhir 2014 setelah kasus terlihat saat wisatawan tiba kembali Amerika Utara dan Eropa.

Yang paling anyar adalah ancaman virus Zika. Berawal dari Brasil, menyebar ke seluruh Amerika Latin dan mengancam Negeri Paman Sam. 

AS melarang wanita hamil untuk bepergian ke 22 negara, sementara Ekuador melarang wanita hamil hingga 2018 atau sampai vaksin ditemukan. 

Demam Zika, yang disebarkan oleh virus gigitan nyamuk dari Afrika, telah dikaitkan oleh Departemen Kesehatan Brasil dengan kenaikan angka kelahiran bayi cacat. Penyakit ini juga disebut-sebut sebagai alasan adanya peningkatan kasus mikro-ensefalitis.

Mikro-ensefalitis merupakan radang otak dan biasanya terkena kontak dalam beberapa bulan pertama kehamilan. Brasil telah mencatat 739 kasus penyakit ini beberapa kali dan telah mencatat kematian dua orang dewasa.

Dikutip dari laman healthaim, demam Zika juga bertanggung jawab atas terhambatnya pertumbuhan otak janin.

Penyakit yang muncul menimbulkan masalah terbesar, karena mereka melibatkan patogen yang tidak diketahui tanpa vaksinasi yang ada.

Yang paling berbahaya adalah saat penyakit menular telah berada di tubuh sesorang, namun ia mengalami onset gejala yang tertunda. Itu berarti mereka tidak sadar telah menularkan penyakitnya sebelum mereka benar-benar sakit.


6 dari 6 halaman

Kematian Matahari

Matahari adalah sumber energi utama bagi Bumi. Namun, apapaun itu akan tiba masanya untuk berakhir. Saat tiba waktunya Matahari kehabisan energi, intinya akan hancur tidak dapat lagi mengimbangi kekuatan gravitasi.

Baru Muncul Lagi pada 2056, Gerhana Matahari 2016 Bikin Heboh! | via: i.ytimg.com

Pada saat yang sama, lapisan luarnya akan mengembang, memperluas bintang menjadi raksasa merah, dan menghancurkan orbit Merkurius, Venus, dan Bumi.

Akhirnya, matahari sekarat akan berubah menjadi kerdil dan berwarna putih padat dikelilingi oleh nebula planet menyilaukan.

Manusia tidak akan berada di sekitar untuk melihat ini; pasokan bahan bakar matahari akan mulai habis sekitar lima miliar tahun dari sekarang dan Bumi tak akan ramah lagi.