Ingin Tahu Tata Cara Adzan yang Benar? Ini Panduan Lengkapnya Beserta Sejarahnya

Pelajari tata cara adzan yang benar sesuai syariat Islam. Temukan sejarah, hukum, bacaan, dan praktik adzan lengkap dalam panduan ini.

Diterbitkan 15 Juli 2025, 17:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Ketika gema adzan berkumandang dari menara masjid, ia bukan sekadar penanda waktu salat, melainkan panggilan suci yang telah mengakar dalam kehidupan umat Islam selama lebih dari 14 abad. Kalimat-kalimatnya yang penuh makna — dari seruan tauhid hingga ajakan menuju kesuksesan — terus mengalun lima kali sehari, menyatukan hati jutaan Muslim di seluruh dunia. Namun, di balik lantunan yang terdengar sederhana itu, tersimpan tata cara, sejarah, dan nilai-nilai syariat yang seringkali luput dipahami secara utuh oleh banyak orang, termasuk oleh sebagian muadzin pemula.

Adzan memiliki dasar kuat dalam syariat Islam dan merupakan bagian dari ajaran Nabi Muhammad ﷺ sejak awal masa kenabian di Madinah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Jumu’ah: 9)

Lantas, bagaimana tata cara adzan yang benar sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ? Apa saja sejarah di balik munculnya adzan pertama dalam Islam? Dan bagaimana praktik adzan yang ideal di tengah konteks masyarakat modern saat ini?

Sejarah dan Asal-Usul Adzan

Adzan pertama kali disyariatkan pada tahun kedua Hijriah, tidak lama setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Sebelumnya, tidak ada cara khusus untuk memanggil umat Muslim melaksanakan shalat berjamaah. Beberapa sahabat mengusulkan berbagai cara seperti meniup terompet atau membunyikan lonceng, namun Nabi tidak menyetujuinya karena mirip dengan tradisi agama lain.

Suatu malam, sahabat Abdullah bin Zaid bermimpi mendengar lafadz adzan. Ia kemudian menceritakan mimpinya kepada Nabi Muhammad SAW. Umar bin Khattab juga mengaku mendapat mimpi serupa. Nabi pun membenarkan bahwa itu adalah wahyu dari Allah SWT dan memerintahkan Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan adzan dengan lafadz tersebut.

Sejak saat itu, adzan menjadi panggilan resmi untuk shalat dalam Islam. Bilal bin Rabah dikenal sebagai muadzin pertama dalam sejarah Islam. Praktik adzan terus berlanjut hingga saat ini dan menjadi salah satu identitas penting umat Muslim di seluruh dunia.

Hukum dan Keutamaan Adzan

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum adzan. Sebagian berpendapat bahwa adzan hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), sementara sebagian lain mengatakan fardhu kifayah (kewajiban kolektif). Pendapat yang lebih kuat adalah fardhu kifayah, artinya jika sudah ada yang melaksanakan di suatu tempat, maka gugurlah kewajiban bagi yang lain.

Adzan memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

  • Mendapat ampunan dosa
  • Dijauhkan dari godaan setan
  • Mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW di hari kiamat
  • Pahala yang besar dan kedudukan mulia di sisi Allah SWT
  • Menjadi saksi keimanan seseorang pada hari kiamat

Syarat-Syarat Menjadi Muadzin

Tidak sembarang orang bisa menjadi muadzin. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

  • Muslim yang baligh dan berakal
  • Laki-laki (untuk adzan di tempat umum)
  • Mengetahui waktu-waktu shalat dengan tepat
  • Memiliki suara yang bagus dan lantang
  • Berwudhu dan suci dari hadats besar maupun kecil
  • Menguasai lafadz dan tata cara adzan dengan benar
  • Amanah dan dapat dipercaya

Selain itu, seorang muadzin juga dianjurkan memiliki sifat-sifat terpuji seperti jujur, sabar, dan ikhlas dalam menjalankan tugasnya. Ia harus menyadari bahwa adzan bukan sekadar rutinitas, melainkan ibadah yang memiliki nilai tinggi di sisi Allah SWT.

Waktu-Waktu Adzan

Adzan dikumandangkan lima kali sehari sesuai waktu shalat fardhu, yaitu:

  1. Subuh: Saat terbit fajar shadiq hingga terbit matahari
  2. Dzuhur: Saat matahari tergelincir dari titik zenith hingga bayangan benda sama dengan tingginya
  3. Ashar: Saat bayangan benda lebih panjang dari tingginya hingga matahari menguning
  4. Maghrib: Saat matahari terbenam hingga hilangnya mega merah
  5. Isya: Saat hilangnya mega merah hingga terbit fajar shadiq

Khusus untuk adzan Subuh, dianjurkan untuk mengumandangkan dua kali adzan. Adzan pertama disebut adzan tahajjud yang dikumandangkan sebelum masuk waktu Subuh untuk membangunkan orang-orang yang masih tidur. Adzan kedua dikumandangkan tepat saat masuk waktu Subuh.

Selain waktu-waktu tersebut, adzan juga dikumandangkan untuk shalat Jum'at. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, adzan Jum'at hanya sekali. Namun pada masa Khalifah Utsman bin Affan, ditambahkan adzan pertama untuk memberi tahu jama'ah agar bersiap-siap ke masjid.

Lafadz dan Bacaan Adzan

Lafadz adzan yang umum digunakan terdiri dari 15 kalimat sebagai berikut:

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر أشهد أن لا إله إلا الله أشهد أن لا إله إلا الله أشهد أن محمدا رسول الله أشهد أن محمدا رسول الله حي على الصلاة حي على الصلاة حي على الفلاح حي على الفلاح الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله

Bacaan latinnya:

Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar, Allahu Akbar Asyhadu alla ilaha illallah Asyhadu alla ilaha illallah Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah Hayya 'alash-shalah Hayya 'alash-shalah Hayya 'alal-falah Hayya 'alal-falah Allahu Akbar, Allahu Akbar La ilaha illallah

Artinya:

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah Marilah mendirikan shalat Marilah mendirikan shalat Marilah menuju kemenangan Marilah menuju kemenangan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Tiada Tuhan selain Allah

Khusus untuk adzan Subuh, ditambahkan kalimat "Ash-shalatu khairun minan-naum" (Shalat lebih baik daripada tidur) sebanyak dua kali setelah "Hayya 'alal-falah".

Tata Cara Mengumandangkan Adzan

Berikut adalah langkah-langkah mengumandangkan adzan yang benar:

  1. Berwudhu dan bersuci dari hadats
  2. Berdiri menghadap kiblat
  3. Berniat dalam hati untuk mengumandangkan adzan
  4. Mengangkat kedua tangan setinggi telinga
  5. Memasukkan jari telunjuk ke dalam telinga (disunnahkan)
  6. Mengucapkan lafadz adzan dengan suara lantang dan jelas
  7. Memanjangkan suara pada setiap kalimat
  8. Berhenti sejenak di antara kalimat-kalimat adzan
  9. Menoleh ke kanan saat mengucapkan "Hayya 'alash-shalah"
  10. Menoleh ke kiri saat mengucapkan "Hayya 'alal-falah"
  11. Mengucapkan lafadz dengan tartil dan tidak tergesa-gesa

Penting untuk diingat bahwa adzan harus dikumandangkan dengan khusyuk dan penuh penghayatan. Muadzin harus fokus pada makna setiap kalimat yang diucapkan dan menyadari bahwa ia sedang menyeru umat untuk menghadap Allah SWT.

Adab dan Sunnah Ketika Adzan

Ada beberapa adab dan sunnah yang perlu diperhatikan saat adzan dikumandangkan:

  • Menghentikan aktivitas dan mendengarkan adzan dengan seksama
  • Menjawab setiap kalimat adzan, kecuali "Hayya 'alash-shalah" dan "Hayya 'alal-falah" yang dijawab dengan "La haula wala quwwata illa billah"
  • Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW setelah adzan selesai
  • Berdoa memohon wasilah dan fadhilah untuk Nabi Muhammad SAW
  • Berdoa untuk diri sendiri setelah adzan, karena doa di antara adzan dan iqamah mustajab
  • Bergegas menuju masjid untuk shalat berjamaah

Bagi muadzin sendiri, disunnahkan untuk:

  • Mengumandangkan adzan di tempat yang tinggi
  • Mengeraskan suara semampunya
  • Memutar badan ke kanan dan kiri saat mengucapkan "Hayya 'alash-shalah" dan "Hayya 'alal-falah"
  • Tidak berbicara selama mengumandangkan adzan
  • Membaca doa setelah selesai adzan

Perbedaan Antara Adzan dan Iqamah

Meski memiliki tujuan yang sama yaitu memanggil untuk shalat, adzan dan iqamah memiliki beberapa perbedaan:

  1. Waktu: Adzan dikumandangkan saat masuk waktu shalat, sedangkan iqamah dikumandangkan sesaat sebelum shalat dimulai.
  2. Lafadz: Iqamah lebih singkat dari adzan, dengan penambahan kalimat "Qad qaamatis-shalah" (Shalat telah didirikan).
  3. Cara pengucapan: Adzan diucapkan dengan suara lebih lantang dan panjang, sementara iqamah lebih cepat dan pendek.
  4. Posisi: Adzan biasanya dikumandangkan di tempat yang tinggi, sedangkan iqamah di dalam masjid.
  5. Hukum: Adzan lebih ditekankan daripada iqamah, meski keduanya sunnah muakkadah.

Meski berbeda, keduanya sama-sama memiliki keutamaan dan pahala yang besar bagi yang mengumandangkan maupun yang mendengarkan dan menjawabnya.

Pertanyaan Umum Seputar Adzan

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering diajukan terkait adzan:

1. Bolehkah wanita mengumandangkan adzan?

Jawab: Menurut mayoritas ulama, wanita tidak disyariatkan mengumandangkan adzan di tempat umum. Namun boleh mengumandangkan untuk diri sendiri atau sesama wanita.

2. Apakah boleh menggunakan pengeras suara untuk adzan?

Jawab: Boleh, bahkan dianjurkan jika bertujuan agar adzan terdengar lebih luas.

3. Bagaimana hukum merekam adzan dan memutarnya kembali?

Jawab: Boleh, selama tidak menggantikan adzan langsung dan tidak menyebabkan kebingungan tentang waktu shalat.

4. Apakah harus berwudhu saat mengumandangkan adzan?

Jawab: Tidak wajib, tapi sangat dianjurkan karena lebih utama dan lebih khusyuk.

5. Bolehkah mengumandangkan adzan sebelum masuk waktu shalat?

Jawab: Tidak boleh, kecuali untuk adzan pertama Subuh yang memang disyariatkan sebelum fajar.