Wanita dengan ADHD Biasanya Alami Gejala Perimenopause yang Lebih Berat

Wanita dengan ADHD memiliki tantangan yang sulit saat mengahadapi masa perimenopause karena penurunan drastis esterogen.

Diterbitkan 08 Februari 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder merupakan kondisi medis yang memengaruhi pola aktivitas, tingkat perhatian, serta kemampuan seseorang dalam mengatur emosi. 

Kondisi ini menjadi tantangan ketika wanita dengan ADHD memasuki masa perimenopause, yaitu fase transisi alami sebelum menopause saat ovarium mulai menurunkan produksi estrogen secara bertahap sejak usia 40 tahun. 

Interaksi antara hormon dan neurotransmiter di otak membuat fase ini menjadi masa yang kritis bagi kesehatan mental dan fisik, untuk wanita dengan ADHD.

"Wanita dengan ADHD menghadapi tantangan berat saat perimenopause karena penurunan drastis hormon estrogen berinteraksi langsung dengan dopamin, sehingga memperburuk fungsi kognitif dan pengaturan emosi," kata tim peneliti dalam studi yang dipublikasikan oleh National Library of Medicine 2025.

Risiko Gejala yang Lebih Intens dan Lebih Awal

Berdasarkan data penelitian tersebut, wanita dengan ADHD hampir dua kali lebih mungkin mengalami gejala perimenopause, dibandingkan mereka yang tidak memilikinya. 

Hal ini disebabkan oleh peran estrogen dalam membantu efektivitas dopamin di otak. Saat kadar estrogen menurun, gejala ADHD yang sebelumnya terkendali sering kali muncul kembali dengan intensitas lebih tinggi.

a. Gejala Psikologis

Sebanyak 59 persen wanita ADHD mengalami kecemasan, suasana hati depresif, sifat mudah tersinggung, serta kelelahan kronis.

b. Gejala Fisik

Sebanyak 30 persen mengalami sensasi panas, sakit kepala, atau jantung berdebar. Sebagai perbandingan, gejala fisik ini hanya ditemukan pada 14 persen wanita tanpa ADHD.

c. Waktu Kemunculan 

Wanita dengan ADHD cenderung mengalami gejala ini lebih awal, yakni pada rentang usia 35 hingga 39 tahun. Sementara itu, wanita tanpa ADHD umumnya baru merasakan puncak gejala pada usia 45 tahun.

Faktor Risiko, dari Ekonomi hingga Genetik

Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat memperparah kondisi ini. Individu dengan ADHD umumnya memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dan sering kali menghadapi tantangan ekonomi. Stres kronis yang dipicu oleh ADHD membuatnya sulit fokus dalam bekerja, dan berdampak menurunkan status sosial ekonomi, yang pada akhirnya memperburuk kondisi kesehatan secara umum.

Selain itu, bisa juga karena lingkungan, dan faktor genetik juga berperan penting. Jika keduanya dikombinasikan, risiko peningkatan gejala perimenopause akan menjadi jauh lebih tinggi. Penelitian juga menunjukkan adanya keterkaitan kuat antara ADHD dengan risiko Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD) serta gejala gangguan stres pasca trauma (PTSD) yang lebih berat.

Langkah Penanganan

Penanganan bagi wanita ADHD dalam fase ini berfokus pada pengurangan stres kronis, dan respons inflamasi tubuh. Berikut adalah beberapa langkah yang direkomendasikan, menurut hasil studi National Library of Medicine.

1. Terapi Kognitif Perilaku (CBT)

Membantu mengatasi kecemasan dan meningkatkan keterampilan manajemen waktu. Orang tersebut akan dilatih untuk menyusun jadwal kegiatan serta mengidentifikasi pemicu emosi agar dapat memberikan respons yang lebih sehat.

2. Olahraga Rutin 

Aktivitas fisik secara konsisten dapat membantu meningkatkan regulasi dopamin dan neurotransmitter dalam otak.

3. Gaya Hidup Sehat

Memperbaiki kualitas tidur untuk mendukung fungsi kognitif dan menerapkan pola makan dengan nutrisi yang seimbang.