Bertalenta tapi Akses Terbatas, Penyandang Disabilitas Perlu Kesempatan Karier yang Lebih Luas

Penyandang disabilitas mental dan intelektual juga memiliki kemampuan untuk bekerja, berkarya, dan berkontribusi. Namun masih banyak tantangan yang dihadapi.

Diterbitkan 11 Desember 2025, 09:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penyandang disabilitas mental dan intelektual juga memiliki kemampuan untuk bekerja, berkarya, dan berkontribusi. Namun, berbagai hambatan seperti stigma, minimnya akses, serta terbatasnya ruang untuk berkembang membuat mereka sering kali tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan potensi tersebut.

Menurut Managing Director Klinik Tumbuh Kembang My JCDC, Nadia Emanuella dukungan lingkungan menjadi faktor kunci agar penyandang disabilitas dapat tampil optimal dalam berkarya.

“Penyandang disabilitas mental dan intelektual juga memiliki potensi nyata, kreativitas, dan kontribusi jika diberi kesempatan dan lingkungan yang mendukung,” kata Nadia.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mayoritas penyandang disabilitas di Indonesia bekerja di sektor informal. Baru sebagian kecil yang bertransisi ke pekerjaan formal.

Sebagai salah satu upaya menunjukkan potensi penyandang disabilitas baik mental dan intelektual maka digelar Special Career Day 2025 untuk kali keempat. Sebuah inisiatif yang membuka akses kesempatan kerja bagi individu berkebutuhan khusus (special talent). Acara ini secara khusus memberi ruang bagi special talent untuk tampil dan terhubung dengan dunia kerja.

Acara Special Career Day 2025 dilaksanakan pada 10 Desember 2025 di My JCDC Kedoya Jakarta Barat. Penyelenggaraan acara sekaligus sebagai bentuk memperingati Hari Disabilitas Internasional yang jatuh setiap 3 Desember.

“Kami berharap acara ini bisa berdampak positif dengan membuka peluang karier yang lebih inklusif bagi individu berkebutuhan khusus-special talent,” jelas Nadia dalam keterangan tertulis.

 

Baru Sedikit Penyandang Disabilitas Bekerja di Sektor Formal

Berbagai penelitian menunjukkan mayoritas penyandang disabilitas di Indonesia bekerja di sektor informal. Baru sebagian kecil yang bertransisi ke pekerjaan formal. Maka dari itu, lewat Special Career Day 2025 masyarakat luas bisa mengetahui bahwa penyandang disabilitas memiliki talenta yang beragam.

"Mereka sama-sama memiliki hak dan layak mendapatkan dan diberi panggung serta kesempatan kerja yang adil sesuai hak azasi manusia. Inklusif bukan soal belas kasih. Inklusif adalah soal kesempatan, penghargaan, dan keadilan,” kata pelaksana Special Career Day 2025, Anna Soenardi yang juga Ketua Yayasan Cita Anak Bangsa (YCAB) di kesempatan yang sama.

Sesi Edukatif

Selain menampilkan talenta penyandang disabilitas dan membuka ruang perjumpaan mereka dengan dunia kerja, Special Career Day 2025 juga menghadirkan sesi edukatif lewat talkshow untuk memperluas perspektif masyarakat.

Seperti mengenai potensi penyandang disabilitas di dunia kerja serta upaya perusahaan menciptakan lingkungan kerja yang aman, inklusif, dan suportif sehingga individu dengan disabilitas dapat berkontribusi secara optimal.

Lalu, di sesi selanjutnya hadir Sukri Budi Dharma atau Pak Butong, Founder Jogja Disability Arts Foundation (JDA) bersama orangtua dari anak penyandang disabilitas mengenai peran ayah dan ibu dalam membangun kemandiran anak penyandang disabilitas.

Acara ditutup dengan Deklarasi Komitmen Bersama “Inklusif untuk Indonesia Maju”. Deklarasi ini sebuah penegasan bahwa agenda inklusi tidak bisa berjalan sendiri. Perlu kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, lembaga sosial, dan masyarakat perlu bergerak bersama untuk memastikan setiap warga negara termasuk penyandang disabilitas mental dan intelektual punya kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang.