Speech Delay Pengaruhi Keterampilan Sosial Anak, Intervensi Sejak Dini Jadi Kunci

Intervensi Speech Delay, Wamen Isyana Ingatkan Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak.

Diterbitkan 26 September 2025, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Keterlambatan bicara atau speech delay pada anak adalah isu serius yang harus dicegah dan ditangani sejak dini.

Hal ini disampaikan Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga /Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka.

Dia mengutip data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2023 yang menunjukkan bahwa  prevalensi speech delay pada anak prasekolah di Indonesia mencapai 5–8 persen.

“Di balik angka tersebut ada wajah-wajah anak yang penuh harapan, ada orangtua yang cemas, dan ada keluarga yang membutuhkan dukungan kita semua. Dengan intervensi yang tepat, anak-anak dapat mengejar ketertinggalannya,” ujar Isyana saat membuka kegiatan Taman Asuh Sayang Anak di Kelas Orang Tua Hebat (TAMASYA di KERABAT) Seri 8, Kamis (25/09/2025).

Speech delay dapat dipengaruhi faktor medis seperti gangguan pendengaran, keterlambatan perkembangan saraf, maupun faktor eksternal seperti kurangnya stimulasi bahasa dan tingginya penggunaan gawai

Jika tidak diatasi, kondisi ini dapat mengganggu keterampilan sosial serta menurunkan kepercayaan diri anak. Karena itu, interaksi langsung antara anak dan orangtua tetap menjadi kunci utama.

Isyana juga mengingatkan pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan.

“Pengasuhan bukan hanya tugas ibu. Ayah yang aktif mendongeng, bercanda, atau bercakap-cakap dengan anak sesungguhnya sedang memberi hadiah terbesar: rasa percaya diri, rasa aman, dan kemampuan berbahasa yang lebih baik,” katanya.

Bagi Isyana, semua pendekatan itu merupakan bagian dari komitmen semua pihak dalam mengimplementasikan  Asta Cita Pembangunan Nasional, khususnya peningkatan kualitas SDM menuju Generasi Emas 2045.

"Generasi sehat, cerdas, bahagia, dan berdaya saing global,” ucap Isyana.

 

Stimulasi Kemampuan Bicara Anak

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, Fitri Hartanto, menekankan pentingnya membedakan komunikasi, bahasa, dan bicara.

Komunikasi adalah proses bertukar ide, sementara bahasa mencakup pemahaman dan ekspresi melalui kata atau simbol. Sedangkan bicara adalah kemampuan menyampaikan pesan dengan artikulasi yang jelas.

Lebih lanjut, Fitri menjelaskan stimulasi tahap pengenalan bagi anak. Misalnya melalui permainan multisensori, mendengarkan suara, menirukan kata sederhana, hingga menunjuk benda sesuai perintah.

Latihan-latihan sederhana dalam keseharian dapat membantu anak meningkatkan kemampuan bahasa reseptif maupun ekspresif.

“Intervensi ini sebaiknya dilakukan sejak usia dini, terutama pada fase sensitif perkembangan bahasa,” katanya.

 

Mengenal Speech Delay

Speech delay adalah sebuah kondisi yang dapat dialami bayi dan anak-anak yang menyebabkan mereka mengalami keterlambatan bicara dan berbahasa.

Menurut konsultan tumbuh kembang anak Eka Hospital Cibubur, Lies Dewi N, anak yang mengalami speech delay biasanya mengerti ketika seseorang berbicara. Namun, ia sangat kesulitan untuk mengucapkan dan mengeluarkan kata-kata untuk menjawab.

Sayangnya, beberapa orangtua masih menganggap kondisi ini merupakan hal biasa dan akan hilang dengan sendirinya.

“Padahal kenyataannya, jika tidak ditangani dengan tepat, speech delay dapat memengaruhi masalah sosial, emosional, perilaku, dan kognitif anak, serta akan berdampak buruk ketika mereka dewasa,” kata Lies dalam keterangan lain.