Sukses

4 Jenis Terapi yang Cocok untuk Anak ADHD

Liputan6.com, Jakarta Dokter spesialis kedokteran jiwa konsultan psikiatri anak dan remaja di RS Pondok Indah – Bintaro Jaya Anggia Hapsari menjelaskan empat jenis terapi yang cocok untuk anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD.

Keempat terapi itu adalah terapi psikoedukasi, terapi perilaku, terapi perilaku kognitif, dan pelatihan keterampilan sosial.

Terapi Psikoedukasi

Terapi ini dapat dilakukan untuk menangani anak dengan ADHD yang sudah beranjak remaja. Terapi psikoedukasi dilakukan dengan mendiskusikan seputar ADHD dan dampaknya bagi kesehatan maupun lingkungan kepada anak.

“Dengan begitu, anak-anak akan lebih mengerti dengan apa yang sedang mereka alami,” kata Anggia melalui keterangan tertulis yang dibagikan kepada Disabilitas Liputan6.com, Selasa (20/9/2022).

Terapi Perilaku

Terapi perilaku biasanya dilakukan untuk mendorong anak agar mampu mengendalikan gejala ADHD yang disandang.

Terapi Perilaku Kognitif

Jenis terapi ini hampir sama dengan terapi perilaku. Pada terapi perilaku kognitif, anak akan dibantu untuk mengendalikan gejala ADHD dengan mengubah cara pikir dan cara pandang anak terhadap suatu kondisi.

Pelatihan Keterampilan Sosial

Terapi ini membantu anak untuk mengambil bagian dalam sebuah situasi. Hal ini bertujuan untuk mengedukasi anak-anak bahwa perilaku mereka dapat memengaruhi orang lain.

Lantas, apakah kemampuan penyandang disabilitas ini bisa membaik dengan terapi dan pelatihan?

Mengenai pertanyaan tersebut, Anggia mengatakan bahwa terapi yang baik bisa membawa hasil yang baik.

“Benar, terapi yang berkesinambungan serta kerja sama antara orangtua, keluarga, guru, dan pengasuh dapat meningkatkan kualitas hidup anak yang menyandang ADHD,” katanya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

3 Tipe ADHD

ADHD sendiri adalah gangguan pemusatan perhatian atau hiperaktivitas yang cukup sering dijumpai pada anak, terutama pada anak usia sekolah.

ADHD termasuk gangguan dalam perkembangan anak di masa janin yang memengaruhi cara kerja otak. Hal ini ditandai dengan perilaku yang hiperaktif, sulit fokus, dan tindakan impulsif lainnya.

American Psychiatric Association menjelaskan, ADHD pada anak dibagi menjadi tiga tipe, yaitu tipe inatensi, tipe hiperaktif atau impulsif, dan tipe gabungan. Dibutuhkan penanganan medis yang berbeda-beda atas ketiga tipe ADHD tersebut.

Tipe Inatensi

Tipe inatensi ditandai dengan:

- Anak tidak memperhatikan detail-detail tertentu serta melakukan tindakan ceroboh saat menjalankan tugas dari sekolah atau pekerjaan dari orangtua.

- Anak kesulitan untuk fokus pada tugas atau kegiatannya.

- Anak tidak mendengar atau memperhatikan saat diajak bicara.

- Anak tidak menjalankan instruksi serta tidak menyelesaikan tugas sekolah.

- Anak kesulitan mengatur tugas dan pekerjaan.

- Anak menghindar dan cenderung tidak suka dengan tugas yang membutuhkan upaya mental berkelanjutan, seperti menyiapkan laporan dan mengisi formulir.

- Anak sering kehilangan barang.

- Anak tidak fokus dan perhatiannya mudah terganggu.

- Anak sering melupakan tugas sehari-hari.

3 dari 4 halaman

Tipe Hiperaktif dan Kombinasi

Tipe Hiperaktif atau Impulsive

Anak dengan ADHD tipe ini bisa menunjukkan gejala sebagai berikut:

- Anak sering gelisah, gejalanya ditandai dengan sering mengetukkan tangan, mengetukkan kaki, atau menggeliat di kursi.

- Anak sering berlari atau memanjat.

- Anak tidak dapat bermain atau melakukan aktivitas dengan tenang.

- Anak terlalu banyak berbicara.

- Anak sering memotong pembicaraan orang lain atau tidak sabar untuk berbicara.

- Anak kesulitan menunggu gilirannya.

- Anak sering memotong aktivitas atau mengganggu orang lain.

- Anak lebih sering mengalami cedera atau kecelakaan.

Tipe Kombinasi

Anak yang mengidap ADHD tipe ini dapat mengalami gejala kombinasi antara tipe inatensi dan hiperaktif. Pada tipe ini, anak akan cenderung impulsif, hiperaktif, serta tidak memiliki fokus yang baik

ADHD pada anak dapat dideteksi sejak usia dini atau ketika beranjak ke usia lebih besar. Jika menyandang ADHD pada usia dini, anak akan menunjukkan tanda atau ciri-ciri berikut:

- Sensitif terhadap suara dan cahaya.

- Sering menangis.

- Suka menjerit.

- Kesulitan untuk tidur.

- Sulit mengonsumsi ASI.

- Tidak senang jika digendong.

4 dari 4 halaman

Keluhan Bertambah di Usia Sekolah

Anggia menambahkan, keluhan biasanya akan bertambah setelah anak memasuki usia sekolah dan harus belajar di sekolah formal. Saat ada tuntutan untuk berkonsentrasi tinggi dan memusatkan perhatian terhadap apa yang diajarkan, masalah pada anak mulai terlihat.

Anak sering kali dianggap bodoh, nakal, selalu memiliki kesulitan, dan pembuat onar karena kurang memiliki daya konsentrasi, serta rendahnya kemampuan untuk fokus dan patuh terhadap tata tertib yang berlaku.

walaupun gejala ADHD pada umumnya sudah terlihat sejak anak berusia 3, tetapi sangat sulit untuk menegakkan diagnosis ADHD pada populasi anak di bawah usia 5.

“Hal ini dikarenakan pada rentang usia tersebut biasanya perilaku anak masih sangat bervariasi, sehingga sedikit banyak menyerupai gejala pada ADHD. Akibatnya, sering timbul kesalahan dalam diagnosis,” ujar Anggia.

Beberapa hal yang dapat menjadi catatan sebelum memberikan diagnosis adalah memastikan bahwa gejala sudah dideteksi sebelum anak berusia 12 dan berlangsung lebih dari enam bulan.

Selain itu, gejala juga harus muncul dalam dua atau lebih situasi, misalnya saat anak di sekolah sekaligus di rumah. Gejala-gejala tersebut sebaiknya terbukti memengaruhi fungsi hidup sehari-hari pada anak.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS