Sukses

Atlet Difabel Apresiasi Layanan Transportasi ASEAN Para Games di Solo

Liputan6.com, Jakarta Sejumlah atlet mengapresiasi layanan transportasi ASEAN Para Games di Solo. Fasilitas ini memang penting mengingat mobilitas mereka.

"Fasilitas di bus memudahkan sekali, staf juga membantu," kata atlet asal Kamboja, Ya Hok, dikutip Antaranews, Selasa (2/8/2022).

Atlet atletik menggunakan kursi roda itu terkesan dengan kesigapan petugas yang membantu memberikan akses menggunakan papan kendaraan.

Atlet atletik asal Vietnam Manh Van juga mengapresiasi layanan ini karena mengakomodasi mobilitas atlet saat hendak berlatih hingga jadwal pertandingan.

Dia menikmati ragam kenyamanan seperti pendingin udara selama berada di dalam transportasi mengingat cuaca Solo yang cukup terik.

"Itu bagus, mereka (panitia) sudah menyiapkannya untuk kami," kata Manh Van.

Kasnan dari tim pendamping atlet juga mengapresiasi layanan transportasi selama ASEAN Para Games di Solo yang disebutnya sudah setara dengan negara maju lainnya.

"Bagus, sudah luar biasa. Indonesia mampu seperti negara luar," kata Kasnan.

Pendamping atlet lainnya, M. Miscbach, mengatakan layanan transportasi selama Solo 2022 itu memperhatikan kebutuhan atlet difabel termasuk yang menggunakan kruk.

"Artinya bisa mengakomodasi teman disabilitas, sudah diperhatikan," kata dia.

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

130 bus yang 65 armada disiapkan

Kepala Dinas Perhubungan Solo Hari Prihatno mengatakan Kementerian Perhubungan mengerahkan sekitar 130 bus yang 65 armada di antaranya dilengkapi dengan fasilitas untuk kursi roda dan sudah dimodifikasi.

ASEAN Para Games kesebelas di Solo diikuti 1.248 atlet dan 534 ofisial, yang bertanding dalam 924 nomor yang memperebutkan 453 medali.

 

3 dari 4 halaman

Bisa menjadi contoh bagi negara lain

National Paralympic Committee (NPC) Indonesia menyebut perlakuan pemerintah Republik Indonesia terhadap atlet difabel menjadi contoh negara lain.

International Relations NPC Indonesia Sukanti Rahardjo Bintoro mengatakan di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo atlet difabel yang meraih medali memperoleh bonus yang sama besar dengan atlet nondifabel.

"Ini pertama kalinya, sumber dana kita dari pemerintah dan kami sangat mengapresiasi itu," kata Sukanto di Solo, Senin.

Kabar ini didengar oleh negara lain yang tergabung dalam ASEAN Para Sports Federation (APSF) dan mereka ingin mengetahui lebih dalam sistem tersebut.

"Informasi ini dipakai oleh mereka untuk melobi pemerintah mereka sehingga sedikit demi sedikit kesenjangan antara atlet difabel dengan nondifabel menjadi lebih dekat," kata Sukanti.

Menuut dia, Indonesia diacungi jempol karena menjadi perintit dalam mengupayakan persamaan hak untuk atlet difabel dan nondifabel.

 

4 dari 4 halaman

Pertama kali Indonesia mengirim atlet difabel

Sukanti juga menerangkan bahwa Indonesia pertama kali mengirimkan atlet difabel ke ASEAN Para Games di Malaysia pada 2001.

"Yang pertama namanya YPAC, kemudian YPOC (Yayasan Pembina Olahraga Cacat), kemudian BPOC (Badan Pembina Olahraga Cacat)," kata dia.

Pada 2005 ada keputusan dari Komite Paralimpiade Internasional (IPC) bahwa setiap negara yang menjadi anggota IPC harus menggunakan kata paralimpik pada nama organisasinya.

"Boleh menggunakan Bahasa Inggris, boleh bahasa nasional. Akhirnya Indonesia pakai nama National Paralympic Committee," tutup Sukanti.