Sukses

Mengenal Definisi dan Kategori Disabilitas Perkembangan

Liputan6.com, Jakarta Disabilitas perkembangan atau developmental disability menurut American Psychological Association adalah kondisi perkembangan yang ditandai oleh adanya gangguan baik fisik maupun kognitif yang terjadi sebelum usia 22.

Gangguan ini menyebabkan keterbatasan pada fungsi hidup dan adaptasi, serta berkelanjutan di sepanjang kehidupan penyandangnya.

Sedangkan, menurut The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Ed, DSM-5 disabilitas perkembangan adalah sekumpulan kondisi yang terjadi di masa perkembangan.

Gangguan ini umumnya muncul di masa perkembangan awal, bahkan sebelum usia sekolah. Ditandai adanya kelainan perkembangan yang menyebabkan gangguan fungsi hidup baik personal, sosial, akademik, dan pekerjaan.

Definisi lain dikemukakan oleh Committee on Nervous System Disorders in Developing Countries Board on Global Health 2001.

Menurut komite ini, disabilitas perkembangan merujuk pada anak dengan karakteristik khusus dan memiliki keterbatasan pada fungsi-fungsi hidup yang dilatari oleh adanya gangguan dalam proses perkembangan (terkait dengan perkembangan fisik dan sistem saraf). Kondisi ini termanifes dalam fungsi hidup sehari-hari sejak masa kanak-kanak dan sepanjang perkembangan hidupnya.

Menurut psikolog Tri Puspitarini, anak dengan disabilitas perkembangan sering mengalami Stigma di masyarakat. Mereka sering mendapat label negatif, panggilan buruk, sering pindah sekolah, dikucilkan atau mengalami perundungan, tidak berhasil di sekolah, mendapat penolakan dari sekolah, para orangtua murid dan guru.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Kategori Disabilitas Perkembangan

Disabilitas perkembangan terbagi dalam beberapa kategori termasuk:

-Gangguan Intelektual

-Autism Spectrum Disorder (ASD)

-Gangguan Komunikasi

-Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADD/ADHD)

-Gangguan Belajar Spesifik (Dyslexia, Dysgraphia, Dyscalculia)

-Gangguan Motorik

-Gangguan Tic

-Gangguan Perkembangan lainnya.

Tidak ada data yang menunjukkan secara pasti angka penyandang disabilitas perkembangan di Indonesia.

Namun secara umum, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas tahun 2018) Jumlah penyandang disabilitas usia 5-9 tahun sebesar 2,5 persen (dari kelompok usianya), 10-14 tahun sebesar 3,5 persen, 15-17 tahun sebesar 4,2 persen, usia dewasa (18-59) sebesar 22 persen.

Sebagai perbandingan, data PBB, di tahun 2021  terdapat 7 miliar penduduk dunia, dan 15 persennya adalah penyandang disabilitas, kata Tri yang merujuk pada data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Akibat disabilitas perkembangan yang disandang, anak-anak memiliki tantangan di berbagai aspek kehidupan. Mulai dari aspek sosial, pendidikan, finansial, masalah komunikasi, hingga masalah akses ke layanan kesehatan.

Dari aspek akademik atau pendidikan umumnya siswa dengan disabilitas perkembangan memiliki riwayat beberapa kali pindah sekolah, ditolak sekolah tertentu, dan nilai-nilai belajar yang buruk.

3 dari 4 halaman

Tantangan Disabilitas Perkembangan

Menurut Tri, tidak sedikit orangtua yang baru mengetahui anaknya memiliki disabilitas perkembangan ketika mereka akan memasukan anaknya ke sekolah dasar.

"Sehingga sudah agak terlambat dalam penanganannya,” kata Tri dalam seminar daring Daewoong pada Selasa (31/5/2022).

Hampir semua siswa berkebutuhan khusus yang pernah melakukan konseling psikologi dalam ruangan praktik menyebut diri mereka dengan label: bodoh, nakal, aneh, weirdo, pemarah, pengganggu, autis dan sebagainya.

“Hampir semua dari mereka pernah mengalami perundungan, pengucilan, dan pengabaian.”

Di sisi lain, usaha yang konsisten seperti terapi yang terjadwal, pemeriksaan neurologi secara berkala, beberapa melakukan pengaturan gizi (diet) yang ketat, serta perawatan khusus, membutuhkan orangtua/keluarga yang tekun dan sabar karena juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Dalam pergaulan, siswa berkebutuhan khusus juga sering mengalami penolakan dari kelompok teman sebaya. Mereka mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan dianggap “tidak nyambung” sehingga tidak diajak bermain.

Beberapa dianggap aneh karena pada anak-anak dengan gangguan spektrum autis misalnya, mereka lebih kesulitan dalam merespons percakapan sosial atau aturan dalam permainan.

4 dari 4 halaman

Sulit Mengutarakan Perasaan

Kesulitan dalam berkomunikasi juga menyebabkan anak-anak penyandang disabilitas perkembangan sulit untuk mengutarakan perasaan mereka.

Hal-hal sederhana yang mudah dimengerti oleh anak biasa tidak dapat begitu saja dimengerti pula oleh anak yang menyandang disabilitas perkembangan. Mereka cenderung sulit mengekspresikan rasa sedih, kesal, bahagia, atau sakit.

“Dampaknya apa sih kalau mereka ini kesulitan berkomunikasi tapi kita diemin dan kita enggak tanggap dengan kebutuhan mereka? Dampaknya bisa bermacam-macam dan yang paling terlihat mereka bisa meltdown,” kata Tri.

Meltdown adalah istilah yang merujuk pada kondisi marah dan ngamuk yang meluap-luap. Jika hal ini terjadi, anak bisa menangis, membentur-benturkan kepala, guling-guling dan ini bisa terjadi di mana saja termasuk di tempat umum.

“Ini biasanya terjadi karena orangtua atau lingkungan tidak paham apa yang ingin anak sampaikan akibat hambatan-hambatan komunikasi.”

Bahkan, jika hal ini terjadi terus hingga anak dewasa, maka ini akan menyebabkan situasi-situasi darurat dengan keparahan yang lebih serius.