Sukses

Walau Sulit Membaca, Penyandang Disleksia di Bojonegoro Berhasil Bikin Perpustakaan Keliling

Liputan6.com, Jakarta Ridduwan Agung Asmaka adalah penyandang disleksia atau kesulitan membaca dan menulis yang membuktikan bahwa kondisi tersebut bukan penghalang untuk berkembang dan berprestasi.

Hal ini dibuktikan dengan kiprahnya membangun Perpustakaan Semangat Muda (Perpus GatDa) di Bojonegoro, Jawa Timur. Ini adalah sebuah gerakan pemuda yang bergerak di bidang literasi, pendidikan, seni dan budaya.

Ide membuat perpustakaan keliling bukan dikarenakan ia suka membaca melainkan ingin menjadi seseorang yang suka membaca.

“Saya membuat perpustakaan itu bukan karena saya suka membaca, tapi karena saya ingin sekali belajar untuk suka membaca dan ingin anak-anak di sekitar saya bisa membaca buku-buku bagus,” kata Agung dalam seminar daring Koneksi Indonesia Inklusif (Konekin) ditulis Selasa (21/12/2021).

Simak Video Berikut Ini

2 dari 4 halaman

Perjuangan di Balik Perpustakaan GatDa

Perjuangan membuat perpustakaan keliling bukan sesuatu yang mudah baginya. Di awal, ia mencoba menyebarkan pesan kepada siapapun yang ingin menyumbangkan buku bekas untuk menjadi koleksi di Perpustakaan Gatda.

Namun, tidak banyak yang merespons dan mengirimkan buku. Ia pun berinisiatif mengamen untuk mendapatkan penghasilan guna membeli buku. Tindakan ini ternyata tak disetujui orangtuanya sehingga pria yang juga gemar berpantomim ini sempat minggat dari rumah.

“Saya minggat dari rumah, kemudian saat pulang saya diskusi dengan orangtua bahwa saya ingin membuat perpustakaan.”

Setelah diskusi, ia pun melanjutkan perjuangannya dan meminjam becak sang ayah untuk dijadikan perpustakaan keliling.

“Saya sempat di-bully warga sekitar, jadi saya memutuskan pergi ke daerah lain, di daerah itu ternyata ada anak-anak yang suka membaca.”

3 dari 4 halaman

Belum Mengenal Disleksia

Seiring berjalannya waktu, Agus mendapatkan teman-teman baru yang bersedia menjadi relawan.

Perpustakaan keliling pun berkembang menjadi wadah belajar atau les informal bagi anak-anak yang kurang beruntung.

“Kami membuka les untuk anak jalanan di lingkungan makam, saya ingin sekali anak-anak tetap sekolah dan bercita-cita tinggi.”

Dalam perjalanan membuat perpustakaan keliling, ia sama sekali belum mengenal disleksia. Namun, ia sendiri merasa bahwa dirinya tak pandai dalam tulis-menulis seperti membuat proposal.

“Saat les saya mengajar matematika, kalau tulis menulis seperti membuat proposal ampun saya. Waktu itu saya baru tahu disleksia ketika saya ikut acara yang membahas disleksia.”

Agung bertanya apakah anak didiknya disleksia atau tidak, tapi hal ini perlu pemeriksaan lebih lanjut. Namun, ketika ia mendongeng dan bahasa yang digunakan campur aduk, tidak runtut, dan terbolak-balik ahli pun menyatakan bahwa yang disleksia itu bukan anak didiknya melainkan dia sendiri.

“Kalau dipikir-pikir memang keluarga saya juga begitu. Bapak saya kalau ngomong suka aneh dan kakak saya juga demikian, bicaranya tidak runtut, sering hilang barang, unik, dan sering kena bully karena kalau cerita tidak tertata A-Z, bisa A, C, J B dan seterusnya.”

4 dari 4 halaman

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas