Sukses

Psikolog: Ayah yang Terlibat dalam Pengasuhan ABK Merasa Hidupnya Lebih Berkualitas

Liputan6.com, Jakarta Psikolog dari PION Clinician, Irma Afriyanti menyampaikan bahwa para ayah memiliki peran penting dalam pengasuhan anak berkebutuhan khusus (ABK).

Menurutnya, ayah yang sehari-harinya bekerja di luar rumah dapat menghabiskan waktu luang dengan anak di akhir pekan. Seiring bertambahnya usia anak, waktu yang dihabiskan bersama ayah pun menjadi lebih banyak. Pasalnya, pada saat kecil, anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibu.

Hal tersebut membawa dampak positif bagi ayah yang akan merasa bahwa hidupnya lebih berkualitas jika terlibat dalam pengasuhan anak termasuk anak berkebutuhan khusus.

“Ternyata, ayah-ayah yang terlibat dalam pengasuhan akan merasa hidupnya lebih berkualitas, mereka akan merasa kualitas hidupnya lebih baik,” kata Irma dalam kongkow inklusif Konekin ditulis Jumat (9/7/2021).

2 dari 5 halaman

Tantangan bagi Ayah

Irma menambahkan, setiap ayah memiliki tantangan tersendiri dalam pengasuhan anak. Baik ayah dengan anak berkebutuhan khusus atau anak non disabilitas.

“Kadang ayah menghadapi anak tantrum atau memasuki masa remaja, di mana masa remaja ini untuk semua orangtua adalah tantangan yang luar biasa karena mereka dibilang dewasa belum, dibilang anak-anak juga bukan.”

Anak-anak saat beranjak remaja sudah memiliki keinginan tersendiri. Jika orangtua melakukan pendekatan pada anak di waktu yang kurang tepat maka pendekatan tersebut akan sulit.

Hal ini terutama akan terasa pada anak perempuan. Pada dasarnya perkembangan otak anak perempuan lebih cepat ketimbang anak laki-laki.

“Di usia 7 perkembangan otak anak perempuan sudah lebih matang daripada anak laki-laki usia 13. Makanya secara emosi anak perempuan itu lebih cerewet dan kritis.”

3 dari 5 halaman

Penolakan

Menurut Irma, ada beberapa hal yang mungkin dirasakan oleh seorang ayah walau tidak bisa dipukul rata semua ayah merasakannya juga.

Perasaan pertama adalah penolakan, di mana sang ayah menolak bahwa anaknya memiliki kebutuhan khusus dan meyakini bahwa anaknya non disabilitas layaknya anak pada umumnya.

“Pengalaman saya bekerja di sekolah inklusif, bagi orangtua yang ada rasa penolakan maka kita melakukan intervensinya lebih susah.”

Penolakan tersebut kemudian akan merambat pada kekhawatiran di masa depan terkait sulitnya komunikasi dengan anak dan hal lain yang memberikan tekanan tersendiri.

“Padahal, jika orangtua menerima kekurangan anak maka intervensinya akan lebih mudah,” tutup Irma.

4 dari 5 halaman

Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta

5 dari 5 halaman

Simak Video Berikut Ini