Sukses

Yustitia Arief, Perjuangkan Kesetaraan bagi Penyandang Disabilitas dari Hati

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri Advokasi Inklusi Disabilitas (AUDISI) Yustitia Arief percaya, penyandang disabilitas jika mendapat dukungan yang tepat dari lingkungannya akan mampu berkembang sesuai kapasitasnya masing-masing.

"Setiap anak disabilitas, apa pun disabilitasnya kalau dikembangkan sesuai kemampuannya itu bisa berkembang sesuai kapasitasnya," tutur Yustitia kala dihubungi Liputan6.com.

Hal itu dirasakan betul oleh Yustitia. Dengan dukungan pola asuh yang tepat dari orangtua, Yustitia yang menyandang polio sejak kecil mampu mandiri hingga mencetak beragam prestasi. Wanita yang kini didapuk memperkuat tim staf khusus presiden bidang sosial ini berhasil menunjukkan bahwa disabilitas bukanlah penghalang meraih impian dan bermanfaat bagi sesama.

Yustitia mengingatkan orangtua yang memiliki anak disabilitas agar tidak terjebak dalam stigma mengkasihani anak dan membiarkannya di rumah saja. Sebaliknya, orangtua harus menggali potensi sang anak agar mampu mandiri dan berdaya. "Karena apa? Karena kita enggak akan selamanya ada untuk mereka."

Proses menuju Indonesia inklusi menurut Yustitia telah tercermin dari kebijakan-kebijakan yang dibuat Pemerintah. Hanya saja beberapa kebijakan tersebut belum tersosialisasikan dengan baik ke pemerintah daerah maupun ke masyarakat. 

Untuk mencapai kondisi inklusi, Yustitia berpendapat hal itu harus diupayakan oleh banyak pihak, termasuk penyandang disabilitas sendiri. Menurutnya, penyandang disabilitas pun perlu membangun konsep diri yang baik. Dengan demikian, lingkungan inklusi tersebut akan dengan sendirinya tercipta.

2 dari 5 halaman

Ingin Mandiri

Kemandirian Yustitia tak lepas dari pola asuh suportif yang didapatnya. Orangtua Yustitia tak pernah memperlakukan putri sulung mereka berbeda dari keempat saudaranya yang non-disabilitas. Mereka juga tidak membatasi pergaulan Yustitia.

"Aku beruntung punya orangtua yang memiliki pendidikan yang baik, sehingga mereka tahu bagaimana memiliki pola asuh yang suportif."

Yustitia pun mendapat penanganan polio yang tepat dengan intervensi dini habilitasi dan rehabilitasi. Tak dimungkiri hal itu sangat membantunya menjadi mandiri. Namun, bahan bakar terbesar untuk meraih cita-cita adalah keinginan, semangat, dan tekad.  

"Dari kecil, sebagai seorang penyandang disabilitas, aku punya mimpi aku harus berhasil, mandiri, tidak bergantung sama orang lain." 

Impian mampu hidup mandiri dan sekolah tinggi diupayakan Yustitia sedari dini. Mulai dari membiasakan diri tidak dijemput sepulang sekolah hingga belajar menyetir mobil sendiri. "Aku bilang mau pulang bareng teman-teman. Belajar naik angkot, naik becak," kenangnya. 

Dia sadar, untuk bisa meraih cita-cita lain, yang perlu diupayakan adalah membebaskan diri dari keterbatasan bergerak, membangun kapasitas diri. 

"Aku membangun kapasitas diri itu ya dengan bergaul dengan teman-teman, punya impian sekolah yang tinggi sehingga aku juga bisa menyelesaikan kuliah," tuturnya. 

"Pokoknya jalan hidup itu harus bekerja keras dan menyemangati diri, intinya." 

Salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan hidupnya adalah ketika lulus Sarjana Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Pancasila Jakarta pada 1993. Senyum bangga yang terukir di wajah kedua orangtua saat dia diwisuda menjadi salah satu pemantik rasa percaya diri yang dimiliki hingga kini. 

"Kalau kamu punya will, kamu pasti InsyaAllah bisa melakukannya. Bapak percaya dengan segala keterbatasan yang kamu punya, kamu pasti bisa," demikian pesan sang ayah yang selalu diingat.

 

 

3 dari 5 halaman

Ingin Bermanfaat bagi Sesama

Yustitia pun menikmati semua proses yang disuguhkan hidup padanya. Perjalanan kariernya dimulai dengan melamar sebagai legal officer di sebuah stasiun teve swasta. Hanya saja, ketika itu posisi yang diincarnya belum lowong, sehingga dia ditempatkan di bagian penerjemah bahasa. 

Beberapa tahun setelahnya, Yustitia masuk dalam bidang pemberitaan di stasiun teve yang sama. "Waktu itu aku pegang Info Mancanegara. Terus aku jadi penyiar. Aku jadi penyiar disabilitas pertama yang ada di Indonesia mungkin ya," kenang Yustitia. 

Yustitia aktif mengaktualisasikan diri. Kini dia dipercaya memperkuat tim staf khusus presiden bidang sosial. Keterlibatannya dalam advokasi disabilitas diakuinya tak direncanakan, melainkan mengalir dengan sendirinya sejak 2011. Yustitia melihat, masih banyak penyandang disabilitas yang belum seberuntung dirinya dalam mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, hingga pola asuh yang inklusi. Hal itulah yang mendorongnya terus berjuang mengupayakan kesetaraan bagi mereka. 

Upaya itu diwujudkannya dengan mendirikan AUDISI pada 2017, sebuah yayasan disabilitas di Tangerang, Banten yang bergerak dalam bidang pemberdayaan dan advokasi kebijakan. Hingga kini, AUDISI telah berhasil mengawal lahirnya peraturan daerah (Perda) disabilitas nomor 14 tahun 2019 untuk penyandang disabilitas Provinsi Banten dan perda disabilitas Tangerang Selatan, Audisi juga telah menyatukan berbagai organisasi disabilitas di wilayah Banten.

"Jika ditanya alasan saya mendirikan AUDISI dan berjuang untuk kesetaraan teman-teman disabilitas, saya tidak punya jawaban, karena semua mengalir dari hati," tuturnya. 

Advokasi mengenai disabilitas menurutnya bisa dilakukan dalam keseharian, dengan sikap yang santun dan bersahabat. Menurutnya, hal itu akan lebih mudah diterima oleh lingkungan yang belum memiliki akses yang baik bagi penyandang disabilitas. Hal itu pula yang diterapkannya dalam interaksi dengan teman-teman. 

Pribadinya yang hangat dan terbuka kerap kali membuat orang-orang di sekelilingnya lupa bahwa dia adalah penyandang disabilitas. "Kuncinya di kita sendiri. Kalau kita memposisikan diri berbeda, mereka akan memperlakukan kita secara berbeda," ucapnya.

 

4 dari 5 halaman

Infografis

5 dari 5 halaman

Simak Juga Video Berikut Ini