Sukses

Jangan Disepelekan, Ini Manfaat Latihan Napas bagi Orangtua Anak Disabilitas untuk Redam Stres

Liputan6.com, Jakarta Setiap orangtua rentan mengalami stres terutama orangtua dengan anak disabilitas yang memerlukan usaha lebih dalam mendidik anak. Ada berbagai cara untuk meredam stres salah satunya dengan pelatihan napas.

Menurut penulis sekaligus ibu dari anak disabilitas, Grace Melia, banyak orang yang skeptis tentang pelatihan napas. Namun, kenyataanya banyak orang yang terbantu dengan cara sederhana ini.

“Ternyata banyak sekali orang yang sangat terbantu untuk mengelola emosi dan menenangkan diri sendiri ketika sudah berlatih napas,” ujar Grace dalam webinar Konekin, ditulis Selasa (22/12/2020).

Teknik pelatihan napas dapat dilakukan dengan menggunakan telapak tangan. Salah satu telapak tangan dibuka dan telunjuk tangan satunya mengikuti tinggi rendahnya jari.

“Ketika jari naik kita tarik (napas) ketika turun kita hembus. Cara seperti ini ternyata sangat membantu.”

2 dari 5 halaman

Me Time

Selain pelatihan napas, orangtua dengan anak disabilitas pun dapat mengelola stres dengan memanfaatkan waktu untuk diri sendiri (me time) dan mengenal kemampuan diri.

“Untuk orangtua dengan anak lebih dari satu dan pekerjaan yang menyita waktu mungkin lebih susah dari orang lain tapi sebagai manusia kita tidak boleh lupa bahwa kita diberi waktu yang sama.”

Salah satu cara menikmati waktu adalah dengan tidur 10 sampai 15 menit lebih malam atau bagun 10 sampai 15 menit lebih pagi. Cara ini bukan berarti untuk menunda-nunda pekerjaan namun untuk memberi waktu pada diri sendiri agar dapat melakukan hal yang disukai.

Menikmati waktu 10 sampai 15 menit ini dapat dilakukan dengan bercocok tanam, ngeteh, ngopi, intinya memberi waktu untuk mendengar dan mengakomodasi kebutuhan diri sendiri sebagai manusia.

3 dari 5 halaman

Mengenal Kemampuan Diri

Dalam menjaga pikiran agar tetap prima, orangtua dengan anak disabilitas juga perlu mengetahui apa yang mampu dikontrol dan apa saja yang di luar kendali.

Grace mengenalkan sebuah metode untuk mengetahui apa saja yang dapat dikontrol dan apa saja yang tidak. Metode tersebut dilakukan dengan menggambar telapak tangan di kertas kemudian menuliskan berbagai hal.

Hal-hal yang dapat dikontrol dituliskan di dalam gambar telapak tangan tersebut dan hal yang tidak dapat dikontrol dapat dituliskan di luar telapak tangan.

Contoh hal yang dapat dikontrol adalah cara agar tidak mudah lelah ketika mengurus anak. Sedang, contoh kekhawatiran yang tidak dapat dikontrol adalah kekhawatiran tentang masa depan anak jika orangtua sudah meninggal.

“Kita harus bisa membedakan, mana kekhawatiran yang ada di luar kuasa manusia dan mana yang masih bisa kita bantu untuk perbaiki,” pungkasnya.

4 dari 5 halaman

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

5 dari 5 halaman

Simak Video Berikut Ini: