Sukses

Kenali 7 Mitos Disleksia

Liputan6.com, Jakarta Disleksia sebagai disabilitas membaca tidak dapat dikaitkan dengan masalah lainnya seperti disabilitas mengeja. Menurut Sarje Robidoux seorang peneliti dari Macquaire University mengungkap mitos yang sering membuat kesalahpahaman mengenai disleksia.

Dilansir dari theconversation.com, mitos-mitos lainnya mengenai disleksia antara lain:

Mitos kelima, senam dapat menyembuhkan disleksia. Perawatan seperti latihan fisik, lensa berwarna atau kertas berwarna tidak membantu karena dua alasan. Pertama, mereka menganggap bahwa semua disleksia adalah sama padahal tidak. Kedua, terapi-terapi tersebut tidak ada hubungannya dengan membaca.

“Ada banyak lagi perawatan di luar sana, dan banyak dari mereka telah diadopsi oleh dewan sekolah dan administrator pendidikan tanpa bukti yang dapat diandalkan,” tulis Sarje seperti dikutip dari theconversation.

Hingga kini, perawatan yang disertai bukti pendukung perkembangan potensi membaca anak dengan disleksia adalah terapi membaca. Sebuah terapi yang didasarkan pada pengembangan keterampilan membaca yang menargetkan masalah membaca spesifik.

 

2 dari 2 halaman

Terjadi turun-temurun

Mitos keenam, metode belajar phonic hanya membuang-buang waktu. Hal ini keliru karena program pengajaran yang tidak menekankan metode phonic memiliki akibat tersendiri. Beberapa anak yang tampaknya memiliki disleksia dapat mengalami kesulitan karena metode pengajaran di kelas yang tidak sesuai.

Phonic adalah metode yang membantu anak-anak belajar mengubah huruf menjadi suara kemudian menggabungkan suara itu menjadi kata-kata. Menurut Sarje, metode pengajaran membaca harus selalu mencakup pengajaran phonic yang sistematis, khususnya pada awal masuk sekolah.

Mitos ketujuh, disleksia sudah ada dalam keluarga secara turun-temurun jadi cukup membiarkannya. Faktor genetik memang dapat berperan dalam disabilitas membaca namun hal ini bukan berarti disleksia dibiarkan begitu saja.

Sumber datangnya disleksia bukanlah masalah, tetap ada perawatan tersendiri yang bisa dijalankan untuk mengurangi dampaknya. Hal ini tergantung pada identifikasi masalah yang jelas sehingga perawatan dapat ditargetkan.

Loading
Artikel Selanjutnya
Chandra Berbagi Kiat Jaga Semangat untuk Kawan Difabel
Artikel Selanjutnya
3 dari 10 Anak Disabilitas di Indonesia Tak Pernah Bersekolah