Sukses

Pesan Angkie Yudistia Soal Cinta: Temukan Pasangan yang Bisa Menutup Kekurangan Kita

Liputan6.com, Jakarta “Apa disabilitas mempengaruhi kehidupan percintaan?” ujar Thella, Founder Koneksi Indonesia Inklusif (Konekin) yang menjadi moderator seminar “Ask Me Anything” yang digelar Kedutaan Australia, Selasa (10/12/2019) petang. Pertanyaan tersebut adalah hasil penyaringan dari berbagai pertanyaan masyarakat non-disabilitas.

Pertanyaan itu dilontarkan kepada empat tokoh difabel yang kala itu menjadi pembicara. Tokoh-tokoh tersebut antara lain penyandang tuli dan tunawicara Vanessa Vlajkovic dari Youth Disability Advocate Western Australia; penyandang tuli Angkie Yudistia founder Thisable Enterprise sekaligus Staf Khusus Presiden, Ananda Sukarlan komposer dan pianis penyandang asperger syndrome, dan Bahrul Fuad, penyandang disabilitas fisik dari Disability and Social Inclusion Program Consultan. 

Pembahasan seputar cinta memang selalu menarik, tak terkecuali menyangkut para penyandang disabilitas. Kondisi mereka yang berbeda memicu rasa ingin tahu banyak orang. Tak heran bila malam itu pertanyaan seputar cinta mendapat perhatian khusus. 

Salah satu kisah cinta tokoh difabel yang mendapat perhatian tentunya dari Angkie Yudistia. Angkie yang menjadi tuli di usia 10 tahun itu tak ragu berbagi kisahnya.

 

2 dari 4 halaman

Kisah Angkie

Angkie menjawab, dulu seperti remaja-remaja lainnya Angkie pun mengalami masa ganti-ganti pacar. Ia bahkan sempat menjadi korban selingkuh. Terkait pernikahan, ia sadar betul menikah tidak hanya mempersatukan dua orang tapi dua keluarga.

“Dulu sempat punya pacar, dia bilang sayang tapi mamanya tidak setuju. Itu mah sama aja gak sayang,” ujar Angkie sambil tertawa santai.

Akhirnya, Angkie bertemu dengan suami, menikah dan kini telah memiliki dua anak.

“Walau enggak bisa mendengar, suami bersedia meminjamkan telinganya, dia bersedia menjadi interpreter pribadi," ucap Angkie.

Staf khusus presiden itu juga menyelipkan saran bagi mereka yang tengah mencari belahan jiwa. "Temukan pasangan sebagai penutup kekurangan kita,” saran Angkie.

 

3 dari 4 halaman

Pernah Sedih Saat Beri Pengertian pada Anak

Ia juga bercerita tentang kedua anaknya, awalnya mereka bingung kenapa Angkie tidak mendengar ketika dipanggil. Ia mengakui sempat ada rasa sedih, namun pada akhirnya ia memberikan pengertian kepada anak-anaknya bahwa ia tidak bisa mendengar.

“Jadi percuma teriak-teriak, Mama enggak bisa dengar. Kalau ingin sesuatu, colek aja,” kata Angkie.

Sementara itu, Vanessa lebih memilih untuk tidak berkomentar. Melalui penerjemah bahasa isyarat, Vanessa mengatakan, ia tak pernah menjalin hubungan dengan penyandang disabilitas dan kini sedang sendiri tapi tidak sedang mencari.

“Single tapi tidak available,” ujar Ananda.

4 dari 4 halaman

Saksikan juga video berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Sosialisasi Kartu Transjakarta Gratis untuk Penyandang Disabilitas
Artikel Selanjutnya
Tips Hilangkan Bosan di Rumah untuk Difabel (II)