Menebak Gerak Harga Bitcoin di Masa Depan, Makin Kinclong atau Meredup?

Mengintip prediksi harga Bitcoin di masa depan, berikut ulasannya.

Diterbitkan 11 Mei 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Prospek pertumbuhan harga Bitcoin di masa depan terlihat sangat menarik, mengingat betapa cepatnya lembaga keuangan dan investor institusional besar merangkul Bitcoin sebagai kelas aset yang berdiri sendiri.

Dikutip dari Yahoo Finance, Senin (11/5/2026), peluncuran dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) Bitcoin spot baru pada Januari 2024 tiba-tiba membuat pembelian Bitcoin semudah membeli saham teknologi.

Anggapan yang berlaku saat ini adalah bahwa alokasi dana yang dimiliki seseorang sebesar 1% hingga 2% untuk berinvestasi Bitcoin menjadi masuk akal, bahkan untuk investor yang paling menghindari risiko sekalipun.

Pembelian Bitcoin secara berkala untuk portofolio investor akan membantu mendorong kenaikan harganya dari waktu ke waktu.

Jika alokasi dana investasi untuk membeli kripto tersebut ditingkatkan lebih tinggi lagi, maka harga Bitcoin benar-benar bisa meroket.

Pada saat yang sama, pemerintah AS terus berpendapat bahwa Bitcoin harus dianggap sebagai aset strategis. Jika hal itu mengarah pada pembelian Bitcoin baru secara terus-menerus untuk Cadangan Bitcoin Strategis, maka mata uang kripto terpopuler di dunia ini dapat melonjak nilainya.

 

Harga Bitcoin Naik Tajam, Analis Ingatkan Risiko Ini

Sebelumnya, harga Bitcoin (BTC) yang kembali menyentuh level tertinggi dalam tiga bulan terakhir mulai memicu aksi ambil untung dari para investor. Lonjakan harga BTC sepanjang April membuat sebagian pemegang aset kripto memilih mengamankan keuntungan di tengah ketidakpastian arah pasar.

Mengutip laman Cointelegprah.com, Minggu (10/5/2026) Kepala Riset platform analitik onchain CryptoQuant, Julio Moreno, mengatakan, aksi realisasi keuntungan mulai meningkat signifikan. Pada Senin lalu saja, para pemegang Bitcoin tercatat merealisasikan keuntungan sebesar 14.600 BTC atau setara USD 1,1 miliar setelah reli harga yang terjadi beberapa pekan terakhir.

Moreno menjelaskan, lonjakan aksi ambil untung terlihat dari indikator Short-Term Holder Spent Output Profit Ratio (STH-SOPR), yakni metrik onchain yang mengukur perilaku investor yang memegang Bitcoin kurang dari 155 hari.

Dia menuturkan, indikator tersebut kini bergerak di atas level 1, yang menandakan investor jangka pendek mulai berada di “wilayah pengambilan untung yang jelas”.

Ia juga mengungkapkan dalam perhitungan 30 hari, pemegang Bitcoin telah merealisasikan lebih dari 20.000 BTC dalam laba bersih. Angka ini menjadi yang pertama kali kembali positif sejak 22 Desember 2025, setelah sebelumnya pasar mengalami kerugian besar selama Februari hingga Maret yang mencapai 398.000 BTC.

 

Harga Jangka Pendek

Moreno menilai kenaikan laba yang direalisasikan saat kondisi pasar bearish sering kali menjadi tanda terbentuknya puncak harga jangka pendek atau pergerakan harga yang mulai mendatar.

"Meski laba yang direalisasikan meningkat, permintaan pasar belum menunjukkan kenaikan signifikan dan Bitcoin masih berada dalam fase bearish,” ujarnya. Kondisi ini membuat pasar kripto dinilai masih rentan terhadap tekanan jual, terutama apabila investor semakin agresif mengunci keuntungan di tengah kenaikan harga BTC.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.