Perang Iran dan AS Masih Panas, Arthur Hayes Sarankan Beli Bitcoin Sekarang

Konflik geopolitik di mana memanasnya perang Amerika Serikat dan Iran ikut mempengaruhi pasar kripto.

Diterbitkan 09 Maret 2026, 06:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Konflik geopolitik di mana memanasnya perang Amerika Serikat dan Iran serta kebijakan moneter secara historis sering bergerak beriringan pada masa ketidakstabilan global.

Salah satu pendiri BitMEX sekaligus CIO Maelstrom, Arthur Hayes, membagikan analisis yang memprediksi bahwa konflik Amerika Serikat yang melibatkan Iran berpotensi memaksa Federal Reserve memangkas suku bunga dan menyuntikkan likuiditas ke pasar.

Menurutnya, perubahan kebijakan semacam itu berulang kali memicu reli besar pada Bitcoin dan aset kripto lainnya. Dalam esai terbarunya yang berjudul “iOS Warfare”, Hayes menulis bahwa hingga saat ini belum jelas berapa lama Presiden AS Donald Trump akan bersedia menggelontorkan dana besar untuk memengaruhi arah politik Iran.

“Saat ini kita tidak tahu berapa lama Trump akan tetap tertarik menghabiskan miliaran, bahkan triliunan dolar untuk membentuk ulang politik Iran sesuai keinginannya, atau seberapa besar tekanan geopolitik dan pasar keuangan yang bisa ia toleransi secara politik sebelum akhirnya mundur,” tulis Hayes dikutip dari laman News.bitcoin.com, Senin (9/3/2026).

Komentar tersebut menempatkan belanja militer dan guncangan geopolitik sebagai katalis yang dapat melemahkan kepercayaan ekonomi. Kondisi seperti ini, menurut Hayes, sering meningkatkan kemungkinan bank sentral mengambil kebijakan moneter yang lebih longgar guna menstabilkan pasar.

Dalam esainya, Hayes juga menyoroti pola historis yang mengaitkan keterlibatan militer Amerika Serikat di Timur Tengah dengan kebijakan akomodatif dari The Fed.

Ia menyebut beberapa contoh, termasuk Perang Teluk 1990 dan periode setelah Serangan 11 September 2001, ketika bank sentral menurunkan biaya pinjaman untuk menopang ekonomi dan pasar keuangan.Menurut analisisnya, perang meningkatkan tekanan fiskal sekaligus memperbesar ketidakpastian ekonomi. Kombinasi tersebut sering mendorong terciptanya uang yang lebih murah serta likuiditas yang lebih besar kondisi yang, menurut Hayes, kerap menjadi pemicu kenaikan tajam harga Bitcoin.

 

Saat Tepat Investor Beli Bitcoin

Bagi investor, sinyal utama bukanlah konflik itu sendiri, melainkan respons kebijakan moneter yang muncul setelahnya. Hayes menilai investor sebaiknya menunggu hingga bank sentral benar-benar melonggarkan kebijakan.

“Langkah yang bijak adalah menunggu dan melihat. Waktu yang tepat untuk benar-benar membeli bitcoin dan altcoin berkualitas seperti $HYPE adalah segera setelah The Fed memangkas suku bunga dan/atau mencetak uang untuk mendukung tujuan pemerintah di Iran," tulis Hayes.

Dalam pandangan pasar lain yang ia sampaikan awal tahun ini, Hayes menilai penurunan tajam Bitcoin dari sekitar USD 126.000 menjadi sekitar USD 60.000 sebagai titik balik makro besar yang berkaitan dengan kondisi likuiditas global. Ia menggambarkan dua kemungkinan skenario bagi pasar kripto.

“Ada dua skenario untuk bitcoin dan altcoin. Entah penurunan dari USD 126.000 ke USD 60.000 adalah seluruh fase penurunan dan saham akan menyusul naik, atau bitcoin akan turun lebih jauh ketika pasar saham ikut terkoreksi," ujar Hayes.

 

 

Trader Harus Berhati-hati

Hayes juga mengingatkan para trader agar tetap berhati-hati hingga kondisi moneter benar-benar berubah. Ia menyarankan penggunaan leverage yang terbatas sambil menunggu sinyal jelas dari The Fed bahwa saatnya keluar dari aset fiat dan masuk ke aset berisiko.

Dalam analisis lain mengenai dinamika likuiditas global, Hayes berpendapat bahwa ekspansi neraca bank sentral merupakan pendorong mekanis utama dari pasar bullish Bitcoin.

“Bitcoin akan melonjak seiring dengan membesarnya neraca The Fed (dan emas)," ujar Hayes.

Ia menggambarkan Bitcoin sebagai “alarm kebakaran likuiditas fiat”, yang berarti ketika pencetakan uang kembali meningkat, harga Bitcoin berpotensi melampaui puncak sebelumnya di sekitar USD 126.000 dengan cepat seiring banjir likuiditas di pasar keuangan global.