Belanja Pakai Kartu Kripto Visa Melonjak 525% sepanjang 2025

Belanja menggunakan kartu kripto Visa melonjak 525% pada 2025, menandakan kripto makin digunakan untuk transaksi harian.

Diterbitkan 08 Januari 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penggunaan kartu kripto Visa mencatat lonjakan tajam sepanjang 2025, menandai perubahan besar dalam cara aset digital dimanfaatkan dalam aktivitas ekonomi sehari-hari. Kripto yang sebelumnya identik dengan spekulasi kini semakin digunakan sebagai alat pembayaran.

Dikutip dari coinmarketcap, Kamis (8/1/2026), berdasarkan data on-chain yang dihimpun Dune Analytics, total nilai belanja bersih menggunakan kartu kripto yang diterbitkan Visa melonjak 525% sepanjang 2025. Nilainya meningkat dari sekitar USD 14,6 juta pada Januari menjadi USD 91,3 juta pada Desember.

Lonjakan ini mencerminkan pergeseran nyata bahwa kripto mulai bergerak dari sekadar instrumen investasi menuju solusi pembayaran yang siap digunakan konsumen. Dari transaksi ritel hingga pembayaran lintas negara, kripto kini semakin relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu pendorong utama tren ini adalah semakin luasnya integrasi stablecoin, yakni aset kripto yang nilainya dipatok ke mata uang fiat seperti dolar AS. Dengan mendukung penyelesaian transaksi stablecoin di berbagai blockchain, Visa memungkinkan konversi aset digital menjadi nilai belanja secara mulus di jutaan mesin pembayaran pedagang di seluruh dunia.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Stablecoin dan Dominasi EtherFi dalam Transaksi

Dari enam kartu kripto mitra Visa yang tercatat dalam data Dune Analytics, EtherFi muncul sebagai pemain dominan. Sepanjang 2025, EtherFi menyumbang sekitar USD 55,4 juta dari total nilai belanja kartu kripto Visa.

Di posisi kedua terdapat Cypher dengan nilai transaksi sekitar USD 20,5 juta. Sementara itu, penerbit lain seperti GnosisPay, Avici Money, Exa App, dan Moonwell mencatat volume transaksi yang lebih kecil, namun menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil.

Lonjakan transaksi ini menunjukkan perubahan perilaku pengguna aset digital. Pemegang kripto dan stablecoin kini semakin sering menggunakannya untuk pembayaran sehari-hari, bukan hanya untuk investasi jangka panjang.

Menanggapi data Dune Analytics tersebut, peneliti Polygon, Alex Obchakevich, menilai tren ini menandakan kartu kripto tengah bertransformasi. Menurutnya, kartu kripto tidak lagi sekadar produk eksperimental, melainkan mulai menjadi instrumen pembayaran arus utama dalam ekosistem global Visa.

Pergeseran ini sekaligus memperlihatkan meningkatnya kepercayaan konsumen terhadap infrastruktur pembayaran berbasis aset digital.

 

Visa Perkuat Strategi, Kripto Menuju Pembayaran Arus Utama

Visa sendiri disebut aktif merespons perubahan ini. Pada akhir 2025, raksasa pembayaran global tersebut meluncurkan tim penasihat khusus stablecoin. Tim ini bertugas membantu perbankan, perusahaan fintech, dan pelaku usaha dalam mengadopsi solusi pembayaran berbasis kripto.

Langkah tersebut menegaskan keyakinan Visa terhadap peran jangka panjang aset digital dalam sistem keuangan global. Lonjakan belanja kartu kripto sebesar 525% tidak hanya mencerminkan pertumbuhan adopsi, tetapi juga mengarah pada masa depan di mana kripto menjadi bagian fungsional dari keuangan arus utama.

Dengan infrastruktur pembayaran yang semakin matang dan kepercayaan konsumen yang terus tumbuh, tahun 2026 dinilai bisa menjadi fase penting bagi integrasi pembayaran kripto secara lebih luas di perdagangan global.

Kesimpulannya, lonjakan penggunaan kartu kripto Visa pada 2025 menandai pergeseran besar dari spekulasi menuju utilitas nyata. Didukung integrasi stablecoin yang mulus serta komitmen institusional Visa, pembayaran kripto kini semakin menjembatani keuangan tradisional dan teknologi blockchain, sekaligus membuka jalan menuju ekosistem pembayaran global masa depan.