Raksasa Manajemen Aset Vanguard Bakal Masuk ke ETF Bitcoin

Ketika pasar kripto anjlok, Vanguard Group, raksasa manajemen aset berniat mengizinkan platformnya masuk ke perdagangan ETF bitcoin hingga solana.

Diterbitkan 02 Desember 2025, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Vanguard Group, manajemen aset terbesar kedua di dunia telah memutuskan mengizinkan platform-nya memperdagangkan exchange traded fund (ETF) dan reksa dana yang utamanya memegang kripto. Vanguard akan mengizinkan ETF dan reksa dana yang utamanya memegang kripto tertentu termasuk bitcoin (BTC), ether, XRP dan Solana untuk memenuhi syarat perdagangan di platform-nya.

Ini telah membalikkan pandangan lama perusahaan kalau aset digital terlalu volatile dan spekulatif. Langkah yang dilakukan grup Vanguard ini juga terjadi saat nilai pasar kripto telah turun lebih dari USD 1 triliun atau Rp 16,61 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.618) sejak awal Oktober 2025. Demikian mengutip Yahoo Finance, Selasa (2/12/2025).

Permintaan yang terus menerus baik ritel dan institusional telah mendorong Vanguard untuk mengubah strateginya. Sejak debut pada Januari 2024, ETF Bitcoin telah mengumpulkan aset miliaran dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan setelah arus keluar dan penurunan harga bitcoin (BTC), pesaing terbesar Vanguard, BlackRock memiliki sekitar USD 70 miliar dalam ETF IBIT-nya saja, turun dari sekitar USD 100 miliar hanya dua bulan lalu.

Pergeseran Vanguard yang menyusul laporan akhir September yang menyatakan perusahaan sedang mempertimbangkan langkah tersebut. Hal ini dengan membuka akses bagi lebih dari 50 juta nasabah yang secara kolektif mengelola lebih dari USD 11 triliun, ke aset kripto yang teregulasi.

Meski terjadi koreksi harga baru-baru ini, ETF yang terkait dengan kripto tetap menjadi salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah industri reksa dana AS. Investor kripto yang optimistis akan melihat kapitulasi Vanguard sebagai pemicu psikologis, tanda terbaru keuangan tradisional tidak lagi mampu menahan tarikan gravitasi aset digital.

"ETF dan reksa dana kripto telah teruji melalui periode volatilitas pasar, berkinerja sesuai rancangan sambil tetap menjaga likuiditas,” ujar Head of Brokerage and Investments Vanguard, Andrew Kadjeski.

"Proses administratif untuk melayani jenis reksa dana ini telah matang dan preferensi investor terus berkembang,” ia menambahkan.

 

Penuhi Layanan Klien

Perubahan ini terjadi lebih dari setahun setelah mantan eksekutif BlackRock dan pendukung lama blockchain Salim Ramji mengambil alih sebagai CEO Vanguard. Perusahaan itu menyatakan akan mendukung sebagian besar ETF dan reksa dana kripto yang memenuhi standar regulasi, mencerminkan perlakuannya terhadap kelas aset non-inti lainnya seperti emas.

Namun, perusahaan tidak akan membuat inventaris digitalnya dalam waktu dekat dan dana yang terkait dengan memecoin sebagaimana dijelaskan oleh Komisi Sekuritas dan Bursa akan tetap dikecualikan.

“Meskipun Vanguard tidak berencana meluncurkan produk kripto sendiri, kami melayani jutaan investor dengan beragam kebutuhan dan profil risiko, dan kami bertujuan menyediakan platform perdagangan pialang yang memungkinkan klien pialang kami berinvestasi dalam produk pilihan mereka,” ujar Kadjeski.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Kazakshtan Berminat Masuk Kripto, Segini Potensi Nilai Investasinya

Sebelumnya, bank Sentral Kazakhstan sedang mempertimbangkan rencana untuk alokasikan dana USD 300 juta atau Rp 4,99 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.662)  di kripto. Chairman of the National Bank of Kazakhstan (NBK), Timur Suleimenov menuturkan, bank sentral dapat alokasikan dana dari Dana Nasional dan cadangan devisa ke kripto.

Mengutip Yahoo Finance, Senin, (1/12/2025), Ia mengatakan, pada tahap pertama, pihaknya akan kelola emas dan cadangan devisa Ini adalah dana yang sama yang perlu dikelola. Sebagian dalam bentuk emas, sebagian lagi dalam bentuk surat berharga. Dalam portofolio ini, portofolio terpisah telah dibuat, yang berfokus pada investasi pada saham teknologi tinggi dan instrumen keuangan lainnya yang terkait dengan aset keuangan digital. Jumlahnya mencapai USD 300 juta.

"Ini bukan berarti kami hanya menginvestasikan USD 300 juta; kami mungkin membatasi diri hingga USD 50 juta, USD 100 juta, atau USD 250 juta," ujar dia.

Sementara itu, ia mengatakan penurunan terbaru di pasar aset digital telah membuat waktu alokasi menjadi kurang pasti. Harga Bitcoin memang telah turun lebih dari 17% selama sebulan terakhir di tengah volatilitas pasar yang lebih luas.

 

Menanti Kondisi Stabil

Mempertimbangkan hal ini, ia menyatakan bank sentral bermaksud menunggu kondisi stabil sebelum mengalokasikan dana ke industri.

"Kami tidak akan mengambil keputusan tanpa analisis menyeluruh. Kami sedang menganalisis. Kami tidak akan terburu-buru mengambil keputusan ini sampai peluang investasi yang baik muncul. Setelah penurunan saat ini di semua aset digital, keuangan, dan kripto, kami perlu menunggu hingga situasi mereda sebelum mengambil keputusan investasi," ujar dia.

Inisiatif ini merupakan bagian dari perluasan portofolio valuta asing bank sentral yang lebih luas.

NBK berencana untuk mendiversifikasi portofolionya, yang saat ini sangat bergantung pada emas dan sekuritas, dengan menambahkan saham teknologi tinggi dan instrumen keuangan yang terkait dengan aset digital.

Sulemenov mengatakan investasi tersebut akan bersumber dari cadangan emas dan valuta asing bank.