10 Cara Kenali Orang Kecerdasan Emosi Rendah, Biasanya Terlihat dari Caranya Memperlakukan Orang Lain

Kenali 10 tanda kecerdasan emosi rendah dari cara seseorang bersikap, menghadapi konflik, dan memperlakukan orang lain.

Diterbitkan 19 Oktober 2026, 10:05 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kecerdasan emosi berperan dalam cara seseorang menjalani hubungan dengan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan ini bisa terlihat ketika seseorang menghadapi perbedaan pendapat, menerima kritik, atau mendengarkan keluhan orang di sekitarnya. Cara seseorang memperlakukan orang lain dapat memberikan gambaran tentang bagaimana ia mengelola emosi, meski perilaku tertentu tidak cukup untuk menentukan tingkat kecerdasan emosinya.

Studi berjudul Emotional Intelligence and Interpersonal Relations yang diterbitkan dalam The Journal of Social Psychology pada 2001 menemukan hubungan antara kecerdasan emosi dan sejumlah aspek hubungan sosial, termasuk empati, keterampilan berinteraksi, serta respons kooperatif. Penelitian yang dilakukan melalui tujuh studi tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan emosi berkaitan dengan cara seseorang membangun hubungan dan merespons orang lain.

Lantas, bagaimana mengenali perilaku kecerdasan emosi yang rendah dalam hubungan sosial sehari-hari? Untuk mengetahuinya, simak selengkapnya, dihadirkan Liputan6, Senin (19/10).

1. Sulit Mengakui Kesalahan

Orang yang kesulitan mengelola emosi bisa menunjukkan penolakan ketika kesalahannya dibicarakan. Alih-alih mengakui perbuatannya, ia mungkin mencari alasan untuk membenarkan tindakan atau mengalihkan pembicaraan kepada kesalahan orang lain.

Dalam hubungan sehari-hari, pola ini dapat menghambat penyelesaian masalah karena kedua pihak tidak membahas persoalan yang sebenarnya. Percakapan akhirnya berputar pada pembelaan diri.

Mengakui kesalahan merupakan bagian dari tanggung jawab dalam hubungan sosial. Perhatikan apakah seseorang bersedia mengevaluasi tindakannya setelah situasi mereda, bukan hanya reaksinya saat mendapat teguran.

2. Selalu Menyalahkan Orang Lain

Ketika menghadapi masalah, seseorang bisa langsung menunjuk pihak lain sebagai penyebab tanpa memeriksa perannya sendiri. Kebiasaan ini membuat pembicaraan berfokus pada siapa yang harus disalahkan, bukan bagaimana persoalan dapat diselesaikan.

Pola tersebut dapat muncul dalam pertemanan, keluarga, maupun lingkungan kerja. Orang di sekitarnya mungkin merasa harus terus membela diri meski sedang berusaha mencari jalan keluar.

Kemampuan mengelola emosi membantu seseorang memisahkan perasaan dari fakta. Karena itu, perhatikan apakah ia bersedia mendengarkan penjelasan dan mempertimbangkan tanggung jawabnya dalam suatu kejadian.

3. Tidak Mau Mendengarkan Pendapat Orang Lain

Seseorang yang kesulitan menerima perbedaan dapat memotong pembicaraan, mengabaikan penjelasan, atau memaksakan pandangannya sendiri. Ia mungkin menganggap pendapat yang berbeda sebagai serangan terhadap dirinya.

Dalam interaksi sosial, kebiasaan tersebut mengurangi kesempatan untuk memahami alasan di balik pandangan orang lain. Diskusi pun mudah berubah menjadi perdebatan yang tidak menghasilkan kesepakatan.

Mendengarkan bukan berarti harus menyetujui semua pendapat. Sikap ini menunjukkan kesediaan memahami sudut pandang orang lain sebelum memberikan tanggapan atau mengambil keputusan bersama.

4. Mengabaikan Perasaan Orang Lain

Cara seseorang menanggapi kesedihan atau kekecewaan orang lain dapat memperlihatkan bagaimana ia memahami emosi. Ketika orang lain bercerita, ia mungkin langsung meremehkan masalah tersebut atau mengalihkan pembicaraan kepada pengalamannya sendiri.

Respons seperti ini dapat membuat lawan bicara merasa tidak didengarkan. Padahal, seseorang yang bercerita belum tentu membutuhkan solusi; terkadang, ia hanya ingin didengarkan.

Empati membantu seseorang mempertimbangkan perasaan orang lain sebelum merespons. Perhatikan apakah ia berusaha memahami keadaan lawan bicara atau justru menganggap perasaan tersebut sebagai sesuatu yang tidak perlu dibahas.

5. Mudah Marah Saat Mendapat Kritik

Kritik dapat memunculkan rasa tidak nyaman, terutama ketika menyentuh kekurangan diri. Namun, seseorang yang kesulitan mengatur emosinya mungkin langsung membentak, menyerang balik, atau menghentikan percakapan ketika menerima masukan.

Reaksi tersebut membuat orang lain ragu menyampaikan pendapat secara terbuka. Akibatnya, masalah yang sebenarnya bisa diperbaiki justru tidak pernah dibicarakan sampai tuntas.

Perhatikan apakah seseorang mampu menenangkan diri sebelum menjawab kritik. Kesediaan memeriksa isi masukan, meski tidak selalu menyetujuinya, membantu menjaga komunikasi tetap berjalan.

6. Sulit Mengendalikan Reaksi

Saat menghadapi tekanan, seseorang bisa berbicara dengan nada tinggi, melontarkan kata-kata yang menyakiti, atau mengambil keputusan ketika sedang marah. Kesulitan mengendalikan reaksi membuat emosi sesaat memengaruhi cara ia memperlakukan orang lain.

Jika pola ini berulang, hubungan dengan keluarga, teman, atau rekan kerja bisa terganggu. Orang di sekitarnya mungkin memilih diam karena khawatir memicu pertengkaran.

Mengelola emosi bukan berarti menekan semua perasaan. Seseorang bisa belajar mengenali pemicunya, mengambil jeda, dan menyampaikan keberatan tanpa melukai orang lain.

7. Tidak Mau Meminta Maaf

Permintaan maaf menunjukkan kesediaan mengakui dampak tindakan terhadap orang lain. Namun, seseorang yang kesulitan menghadapi perasaan bersalah mungkin menghindarinya atau meminta maaf sambil tetap menyalahkan pihak yang dirugikan.

Akibatnya, persoalan yang terjadi belum tentu selesai meskipun percakapan sudah berakhir. Orang yang merasa dirugikan bisa menganggap bahwa pengalamannya tidak dihargai.

Perhatikan apakah permintaan maaf disertai pengakuan atas tindakan dan usaha memperbaiki keadaan. Perubahan perilaku setelah konflik juga penting untuk menilai kesungguhan seseorang.

8. Sering Meremehkan Batasan Orang Lain

Setiap orang memiliki batasan mengenai waktu, privasi, tenaga, dan hal yang bersedia dibicarakan. Seseorang yang kurang mempertimbangkan kebutuhan orang lain bisa terus mendesak meski sudah mendapat penolakan.

Perilaku ini dapat terlihat ketika seseorang memaksa meminta bantuan, membaca urusan pribadi tanpa izin, atau menuntut orang lain selalu tersedia untuknya. Hubungan pun berisiko menjadi tidak seimbang.

Menghormati batasan berarti menerima bahwa orang lain berhak menentukan pilihannya sendiri. Perhatikan apakah seseorang bersedia menghargai jawaban tidak tanpa memberikan tekanan atau membuat orang lain merasa bersalah.

9. Menggunakan Emosi untuk Menekan Orang Lain

Dalam konflik, seseorang mungkin membuat orang lain merasa bersalah agar keinginannya dipenuhi. Ia juga bisa mengancam memutus hubungan, mendiamkan seseorang sebagai hukuman, atau menggunakan masalah pribadi sebagai alat untuk memenangkan perdebatan.

Pola tersebut berbeda dari menyampaikan kekecewaan secara terbuka. Perbedaannya terletak pada upaya mengendalikan keputusan orang lain melalui tekanan emosional.

Perhatikan apakah komunikasi memberikan ruang bagi kedua pihak untuk menyampaikan kebutuhan. Hubungan yang sehat memungkinkan seseorang menolak permintaan tanpa harus menghadapi ancaman atau hukuman emosional.

10. Sulit Menghargai Keberhasilan Orang Lain

Ketika orang lain memperoleh pencapaian, seseorang mungkin mengalihkan pembicaraan, mengecilkan usaha yang dilakukan, atau membandingkannya dengan dirinya sendiri. Respons ini dapat menunjukkan kesulitan menghadapi perasaan yang muncul saat melihat keberhasilan orang lain.

Jika terjadi berulang kali, kebiasaan tersebut bisa mengurangi dukungan dan kepercayaan dalam pertemanan maupun hubungan kerja. Setiap pencapaian berisiko menjadi sumber persaingan.

Mengenali perasaan seperti iri atau kecewa merupakan bagian dari pengelolaan emosi. Seseorang dapat belajar menerima perasaannya tanpa harus merendahkan pencapaian orang lain.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Kenali Orang Kecerdasan Emosi Rendah

1. Apa ciri-ciri orang dengan kecerdasan emosi rendah?

Beberapa perilaku yang bisa diamati meliputi kesulitan menerima kritik, mengakui kesalahan, memahami perasaan orang lain, dan mengendalikan reaksi saat menghadapi konflik.

2. Apa penyebab seseorang memiliki kecerdasan emosi rendah?

Pola asuh, pengalaman hidup, kebiasaan berkomunikasi, dan kemampuan mengelola perasaan dapat memengaruhi perkembangan kecerdasan emosi. Penyebabnya tidak selalu sama pada setiap orang.

3. Apakah kecerdasan emosi bisa dilatih?

Ya. Seseorang dapat melatihnya dengan mengenali perasaan, mengambil jeda sebelum bereaksi, mendengarkan orang lain, dan mengevaluasi perilaku setelah terjadi konflik.

4. Apa perbedaan kecerdasan emosi dan kecerdasan intelektual?

Kecerdasan emosi berkaitan dengan kemampuan memahami dan mengelola perasaan, sedangkan kecerdasan intelektual berkaitan dengan kemampuan berpikir, memahami informasi, dan memecahkan masalah.

5. Bagaimana menghadapi orang yang sulit mengendalikan emosi?

Sampaikan batasan dengan tenang, pilih waktu yang tepat untuk berbicara, dan hindari membalas kemarahan dengan kemarahan. Jika perilakunya mengancam keselamatan, utamakan perlindungan diri.