Liputan6.com, Jakarta Pernah memperhatikan teman yang tetap mengulek bumbu sendiri meski aplikasi pesan antar hanya berjarak satu ketukan jari? Kebiasaan sederhana itu menyimpan makna yang menarik untuk dibedah. Ciri orang suka masak sendiri daripada pesan online menurut psikologi tidak berhenti pada urusan selera.
Pilihan ini kerap mencerminkan cara seseorang mengambil keputusan, mengelola waktu, sekaligus meredakan stres.
Mengacu pada meta-analisis National Institutes of Health (NIH) pada 2018, intervensi memasak terbukti menaikkan harga diri dan menurunkan kecemasan. Jadi, membaca ciri orang yang lebih suka masak sendiri menurut psikologi sekaligus bisa jadi cermin untuk mengenali dirimu.
Advertisement
Memahami Kebiasaan Masak Sendiri dari Sudut Pandang Psikologi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4204720/original/033187100_1666795054-young-asian-japanese-lady-enjoy-cooking-home-lifestyle-women-happy-preparing-food-making-pasta-spaghetti-breakfast-meal-modern-kitchen-house-morning.jpg)
Langkah pertama memahami topik ini adalah menyadari bahwa pilihan makanan bukan label kepribadian yang mutlak. Namun, pola kebiasaan harian memang bisa memberi petunjuk soal karakter seseorang.
Secara sederhana, kecenderungan ini adalah preferensi konsisten untuk menyiapkan makanan sendiri alih-alih membeli lewat aplikasi, meski opsi instan tersedia. Para psikolog menilai rutinitas semacam ini sebagai bentuk self-regulation, yaitu kemampuan mengatur diri demi tujuan jangka panjang. Tak heran, banyak ulasan soal kepribadian lewat gaya makan menautkan cara makan dengan pola pikir tertentu.
Perlu ditegaskan, suka memasak tidak otomatis membuat seseorang berkepribadian "lebih baik". Ruang pribadi seperti dapur memang sering disebut cermin kondisi mental, seperti dibahas dalam ulasan tentang kondisi dapur sebagai cermin diri. Begitu pula sejumlah pembahasan tentang hobi yang mengungkap kepribadian yang mengaitkan kegemaran memasak dengan sifat kreatif dan solutif.
Dilansir dari Yahoo Life, berdiri di depan kompor alih-alih membuka aplikasi sama artinya dengan melatih kesabaran, kreativitas, perhatian, dan rasa hormat pada diri secara nyata. Dari sudut inilah psikologi memandang aktivitas masak sebagai latihan mental harian, bukan sekadar urusan dapur.
Advertisement
Ciri Orang yang Lebih Suka Masak Sendiri Daripada Pesan Online Menurut Psikologi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5508241/original/091941100_1771569541-Gemini_Generated_Image_eoqrgweoqrgweoqr.jpg)
Berikut rangkuman ciri yang paling sering dikaitkan dengan kebiasaan memasak sendiri. Ingat, ini kecenderungan umum dan bukan vonis, jadi kamu bisa saja hanya memenuhi sebagiannya.
Sebagaimana diungkapkan peneliti University of Minnesota dalam jurnal Psychological Science, lingkungan yang tertata mendorong orang membuat pilihan yang lebih sehat dan konsisten. Logika itu sejalan dengan kebiasaan meracik makanan sendiri yang menuntut keteraturan dari awal sampai akhir.
- Punya kebutuhan kuat akan kontrol dan kemandirian. Mereka ingin menentukan sendiri jenis bahan, takaran bumbu, hingga lama pengolahan tanpa campur tangan pihak lain. Sikap ini mencerminkan internal locus of control, keyakinan bahwa hasil hidup ditentukan oleh tindakan sendiri, dan biasanya terbawa ke keputusan harian lain. Pola pikir serupa terlihat dalam pembahasan soal kepribadian orang yang suka masak sendiri.
- Sabar dan menikmati proses, bukan hasil instan. Memasak menuntut kamu menunggu air mendidih, bumbu meresap, dan masakan matang sempurna. Orang tipe ini terbiasa menghargai tahapan, tidak impulsif, dan cenderung bijak menimbang keputusan jangka panjang.
- Teliti pada detail kecil. Salah menakar garam atau gula bisa mengubah rasa drastis, jadi mereka terbiasa cermat dan memeriksa ulang. Ketelitian ini kerap muncul pula pada kepribadian yang gemar memasak di berbagai aspek hidup mereka.
- Disiplin dan piawai mengatur waktu. Menyinkronkan persiapan bahan dengan waktu matang melatih manajemen waktu yang rapi. Keteraturan ini mirip dengan ciri orang yang rapi saat memasak, yang menata alur kerja dari awal sampai bersih kembali.
- Berpikir runtut dan terencana. Memasak melatih otak melihat langkah demi langkah sebelum hasil akhir muncul. Kemampuan menyusun urutan ini gampang ditransfer ke pekerjaan, studi, maupun penyelesaian masalah sehari-hari.
- Nyaman dengan kesendirian. Rutin memasak untuk diri sendiri membangun toleransi terhadap keheningan dan kemampuan menikmati waktu sendiri. Bagi mereka, momen sendirian di dapur terasa menenangkan, bukan menakutkan.
- Kreatif dan berani bereksperimen. Dapur menjadi ruang aman untuk memadukan bahan baru tanpa takut dikritik. Keberanian mencoba ini biasanya menular ke bidang lain, seperti dijelaskan dalam ulasan tentang pribadi yang kreatif dan inovatif.
- Peduli kesehatan dan menghargai usaha. Mereka memilih bahan segar, mengatur porsi, dan sadar hubungan antara kualitas makanan dengan energi harian. Menyiapkan makanan dari nol juga menumbuhkan rasa menghargai proses dan jerih payah.
Manfaat Psikologis di Balik Pilihan Memasak Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368381/original/078324800_1791431350-89870bd2-87cd-49e6-8d65-33e6cc304673.jpg)
Manfaat utama memasak sendiri bagimu bukan cuma soal perut kenyang, melainkan juga kesehatan mental. Gerakan memotong, mengaduk, dan menunggu menciptakan ritme yang menenangkan, mirip meditasi, sehingga membantu menurunkan ketegangan. Banyak orang menjadikan masak sebagai medium terapi, sama seperti mereka yang memilih memasak sebagai salah satu hobi yang menghilangkan stres.
Memasak juga memberi rasa pencapaian yang cepat. Saat hidangan matang dan dinikmati, otak langsung menerima "hadiah" berupa kepuasan, yang penting untuk menguatkan harga diri. Kreativitas di dapur punya efek biologis yang nyata. Sebagaimana dilaporkan Deseret News, keterampilan motorik saat memasak berinteraksi dengan jalur neurobiologis yang dilalui dopamin dan serotonin, si "hormon bahagia". Itulah mengapa menu baru yang berhasil kamu buat sering memunculkan perasaan senang yang tulus.
Manfaat berikutnya adalah latihan kesabaran dan kesadaran penuh. Julie Ohana, pendiri Culinary Art Therapy, dikutip dari LIVEKINDLY menyatakan, "memasak adalah tindakan kesabaran, kesadaran penuh, sekaligus saluran untuk ekspresi kreatif." Psikiater Judith Orloff, dikutip dari Psychology Today, menuliskan, "kesabaran adalah praktik yang membebaskan secara emosional: menunggu, mengamati, dan tahu kapan harus bertindak." Efek menenangkan ini juga ditemukan pada hobi yang menenangkan hati lainnya dan kerap direkomendasikan sebagai cara mengurangi stres sehari-hari.
Advertisement
Alasan Psikologis Memilih Masak Sendiri Ketimbang Pesan Online
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312780/original/056743800_1785557234-Tanaman_hias_yang_tidak_mudah_layu_meski_dekat_area_memasak_dan_bikin_Bunda_tidak_setress_saat_di_dapur_model_lili_paris.jpg)
Kalau ditelusuri, keputusan memilih kompor ketimbang aplikasi punya alasan yang masuk akal secara psikologis. Berikut motif yang paling sering muncul di balik kebiasaan ini.
- Ingin memastikan kebersihan dan kualitas bahan. Dengan memasak sendiri, kamu tahu persis apa yang masuk ke piring, dari minyak sampai gula. Kontrol inilah yang membuat sebagian orang merasa lebih tenang, mirip efek makanan yang menstabilkan emosi.
- Lebih hemat dan menghargai nilai usaha. Memasak dari nol menyadarkan seseorang bahwa hasil baik butuh waktu dan tenaga, sehingga muncul rasa syukur sekaligus penghematan biaya.
- Menjaga nutrisi dan pola makan sehat. Merujuk riset dalam jurnal Public Health Nutrition, orang yang memasak di rumah cenderung makan lebih sehat ketimbang mereka yang kerap makan di luar. Konsistensi ini mendukung energi dan suasana hati yang lebih stabil.
- Melatih makan dengan sadar. Menyiapkan makanan sendiri mendorong kebiasaan mindful eater alih-alih emotional eater yang makan karena dorongan emosi. Pendekatan makan dengan penuh kesadaran ini membantu kamu lebih peka pada rasa lapar yang sesungguhnya.
- Mendapat penghargaan dan kepuasan langsung. Hasil masakan bisa segera dinikmati, memberi rasa berhasil yang menenangkan. Tak heran, banyak yang menjadikan memasak untuk menghilangkan stres saat suasana hati sedang kurang baik.
- Menghindari ketergantungan pada hal instan. Mereka sengaja memilih proses, karena di situlah letak ketenangan dan rasa kendali yang sulit didapat dari pesanan siap antar.
Masak Sendiri, Ritual Kesehatan Mental dan Perekat Hubungan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5450939/original/046239800_1766211015-masak_di_dapur.jpg)
Dapur sebagai Ruang Pemulihan Diri
Bagi banyak orang, dapur adalah tempat menepi sejenak dari kebisingan digital. Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi menyebut kondisi semacam ini sebagai flow, yakni saat sebuah aktivitas cukup menantang untuk menyita perhatian penuh namun tetap terasa akrab sehingga pikiran tidak perlu "berkelahi" dengannya.
Aktivitas ini juga melibatkan seluruh indera sekaligus. Emma Laing, direktur dietetika di University of Georgia, dikutip dari UGA Today menyatakan, "sangat menenangkan ketika kamu melibatkan seluruh inderamu dalam sebuah aktivitas yang penuh tujuan." Momen fokus pada aroma, warna, dan tekstur inilah yang membuat memasak kerap dikaitkan dengan simbol kreativitas dan transformasi diri.
Makan Bersama yang Menguatkan Koneksi
Memasak sendiri juga punya dimensi sosial yang kuat. Berdasarkan data World Happiness Report 2025, orang yang rutin makan bersama di 142 negara dilaporkan merasa lebih bahagia, lebih didukung, dan tidak terlalu kesepian, dengan dampak yang sebanding dengan memiliki pekerjaan tetap.
Studi lain menunjukkan bahwa memasak untuk orang lain memberi lonjakan emosi positif sesaat, seperti rasa gembira, terhubung, dan bermakna, meski tidak selalu mengubah kepuasan hidup secara menyeluruh. Inilah sebabnya sebagian orang gemar memasak untuk orang tercinta, menjadikan hidangan sebagai bahasa kasih sayang yang paling mudah dipahami.
Advertisement
Tips Memulai Kebiasaan Masak Sendiri Biar Konsisten
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364494/original/090820800_1790998534-Meja_Dapur_Berbentuk_L.jpg)
Kabar baiknya, ciri-ciri positif tadi bisa kamu latih, bukan sekadar bawaan lahir. Berikut langkah praktis yang bisa langsung kamu coba mulai minggu ini.
Langkah Praktis untuk Pemula
- Mulai dari resep sederhana, seperti tumisan atau sup, agar rasa percaya dirimu tumbuh lebih dulu.
- Susun rencana menu mingguan dan terapkan meal prep agar belanja dan masak jadi lebih efisien.
- Siapkan bahan sejak malam sebelumnya supaya kamu tidak kewalahan saat jam sibuk.
- Terapkan prinsip clean as you cook, yaitu membersihkan sambil memasak agar dapur tidak menumpuk di akhir.
- Fokuslah menikmati proses, bukan mengejar hasil sempurna, karena di situlah manfaat mentalnya bekerja.
Trik Psikologis agar Kebiasaan Bertahan
- Gunakan implementation intentions, yaitu pola "jika-maka": jika nasi sudah tanak, maka aku langsung menata meja.
- Bayangkan "dirimu di masa depan" yang berterima kasih karena hari ini kamu tidak menunda, trik yang melawan kebiasaan menunda kepuasan.
- Libatkan pasangan atau anak agar kegiatan terasa menyenangkan sekaligus mempererat hubungan.
- Beri dirimu izin untuk gagal, karena masakan yang kurang enak adalah bagian wajar dari proses belajar.
Pada akhirnya, memilih mengaduk sendiri ketimbang menekan tombol pesan adalah keputusan kecil dengan dampak besar bagi disiplin, kesabaran, dan ketenangan batinmu. Kamu tidak perlu menjadi koki hebat untuk menikmati manfaatnya, cukup mulai dari satu menu sederhana dan rasakan sendiri bagaimana dapur bisa menjadi ruang paling jujur untuk merawat diri.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375340/original/043230400_1792140162-Screenshot_2026-10-16_151345.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364644/original/080112300_1791013312-IndonesiadangdutAwards2026Attire__ekotjandra_Hijab_stylist__suciaurelias_Makeup__riskymakeup__5_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569782/original/065699500_1777454729-Tugas__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3490146/original/023335400_1624374674-Chatbot_WA_Cek_Fakta3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367355/original/085338000_1791344936-Gemini_Generated_Image_kphxrmkphxrmkphx.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4948537/original/079557100_1726804807-pexels-hiday-t-i-sg-nd-rsoy-1178625345-23092150.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3973263/original/092730600_1648089120-pexels-artem-podrez-4492135.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3793754/original/097985900_1640255254-pexels-photo-3809002.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361682/original/008171000_1790744288-pexels-rdne-6645921.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358139/original/081198800_1790324442-01M3B1F0W2RWC9XWT03ANPDDAN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365434/original/034558500_1791177803-WhatsApp_Image_2026-10-05_at_12.22.37.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4574795/original/070414000_1694659547-cake-with-party-hat-present.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369009/original/003027800_1791457328-sensual-photo-cute-little-girl-people-walks-outside-woman-brown-coat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5325045/original/078113100_1755923869-jonas-leupe-QQ2d5naZee0-unsplash.jpg)