Liputan6.com, Jakarta - Bayangkan atasan tiba-tiba mengajakmu bicara empat mata. Belum sempat mendengar apa pun, pikiranmu sudah melompat ke skenario dipecat, kesulitan membayar tagihan, hingga sulit mencari pekerjaan baru. Jika situasi seperti ini terasa akrab, kamu mungkin punya kecenderungan memikirkan kemungkinan terburuk.
Apa Itu Kebiasaan Memikirkan Kemungkinan Terburuk?
Menurut Cleveland Clinic, catastrophizing adalah keyakinan bahwa hasil terburuk akan terjadi akibat suatu tindakan atau peristiwa, meskipun kemungkinannya sangat kecil. Orang yang mengalaminya meyakinkan diri bahwa keadaan jauh lebih buruk daripada yang realistis. Cleveland Clinic juga menyebut pola ini sering dipakai sebagai cara yang kurang sehat untuk mengendalikan situasi yang tidak nyaman.
Psikolog Susan Albers, PsyD, dari Cleveland Clinic menyebutnya sebagai negative daydreaming
. Menurutnya, ketika seseorang bisa menulis sendiri alur cerita tentang apa yang akan terjadi, ia sering merasa lebih terkendali dan lebih aman, meski cerita itu belum tentu terjadi.
Kebiasaan ini kerap berjalan beriringan dengan overthinking. Bedanya, catastrophizing berfokus pada skenario terburuk, sedangkan overthinking mencakup pikiran yang berputar tentang banyak hal.
7 Ciri Kepribadian Orang yang Selalu Memikirkan Kemungkinan Terburuk
Perlu dicatat, para ahli menggambarkan catastrophizing sebagai pola pikir, bukan tipe kepribadian baku. Ciri-ciri berikut adalah kecenderungan yang sering muncul, bukan alat untuk mendiagnosis diri sendiri atau orang lain.
-
Sulit Menerima Ketidakpastian
Ketika hasil sebuah situasi belum jelas, rasa cemas mudah muncul. Ulasan sistematis dan meta-analisis yang terbit di Journal of Anxiety Disorders (2023) mencatat adanya hubungan kuat antara intoleransi terhadap ketidakpastian dan gangguan kecemasan umum.
Bagi orang dengan kecenderungan ini,
belum tahu
terasa lebih mengganggu daripadatahu tapi buruk
. -
Berpikir dalam Kutub Ekstrem
Cleveland Clinic menjelaskan bahwa catastrophizing berkaitan erat dengan polarisasi, yakni anggapan bahwa segala sesuatu berada di dua ujung: berhasil total atau gagal total. Ruang tengah, yaitu kemungkinan yang biasa-biasa saja, nyaris tidak terlihat.
-
Butuh Rasa Kendali
Membayangkan skenario terburuk sering terasa seperti persiapan. Dengan menyusun
cerita
sendiri, seseorang merasa lebih aman karena tidak akan kaget bila hal buruk benar-benar terjadi. Padahal, rasa kendali ini hanya terasa di kepala dan tidak mengubah kenyataan. -
Pikiran Berpacu dan Self-Talk Negatif
Beberapa tanda catastrophizing menurut Cleveland Clinic antara lain pikiran yang berpacu, perasaan terjebak di dalam kepala sendiri, dan kebiasaan berbicara negatif pada diri sendiri. Pola ini bisa seperti bola salju: dimulai dari pikiran kecil yang lama-lama membesar seiring kecemasan.
-
Menganggap Pikiran sebagai Fakta
Pikiran
pasti gagal
terasa meyakinkan karena muncul dari kepala sendiri. Cleveland Clinic mengingatkan bahwa banyak orang memperlakukan pikiran seperti fakta, padahal setelah dicermati belum tentu ada bukti yang mendukungnya. -
Rajin Menyiapkan Rencana Cadangan
Tidak semua sisi dari kebiasaan ini negatif. Psikolog Julie Norem dan Nancy Cantor memperkenalkan konsep defensive pessimism, yaitu strategi menurunkan ekspektasi sebelum menghadapi situasi tertentu untuk mempersiapkan diri. Orang dengan kecenderungan ini biasanya detail dalam membuat rencana cadangan.
-
Mudah Terpicu Ketakutan Terdalam
Menurut Cleveland Clinic, catastrophizing kadang memberi petunjuk tentang ketakutan dan rasa tidak aman yang paling dalam. Misalnya, orang yang takut ditinggalkan bisa langsung membayangkan hubungan berakhir ketika merasa kurang diperhatikan.
Kenapa Seseorang Terbiasa Memikirkan Hal Terburuk?
Asal-usul pola pikir ini tidak selalu jelas. Albers menjelaskan bahwa catastrophizing sebagian merupakan mekanisme bertahan hidup. Pada masa nenek moyang, kemampuan membayangkan predator atau bahaya membantu manusia bersiap. Di dunia modern, banyak hal yang dibayangkan itu tidak mungkin terjadi, sehingga justru memicu stres dan kecemasan yang tidak perlu.
Faktor lain ikut berperan. Cleveland Clinic mencatat bahwa catastrophizing sering berakar dari trauma masa lalu dan emosi yang terpendam. Orang yang kurang tidur, sedang stres, atau tidak makan dengan baik juga cenderung lebih mudah memiliki pikiran katastrofik. Paparan media sosial turut berpengaruh karena skenario terburuk sering dibagikan demi menarik perhatian, sehingga terasa lebih umum daripada kenyataannya.
Kebiasaan ini juga berkaitan dengan kondisi kesehatan mental tertentu, seperti gangguan kecemasan, depresi, gangguan obsesif-kompulsif (OCD), dan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Hubungannya dua arah: depresi dapat membuat seseorang lebih sering berpikir katastrofik, dan sebaliknya.
Tidak Selalu Buruk: Kapan Memikirkan Hal Terburuk Jadi Strategi?
Dalam penelitian psikologi, ada kondisi ketika membayangkan hal terburuk justru berfungsi. Norem dan Cantor menggambarkan defensive pessimism sebagai strategi antisipasi: seseorang sengaja menurunkan ekspektasi sebelum memasuki situasi yang berisiko untuk menyiapkan atau melindungi diri.
Garis pembedanya terletak pada apa yang dilakukan setelah skenario buruk dibayangkan. Jika dipakai untuk menyusun persiapan, pola ini bisa berguna. Jika hanya berputar tanpa ujung, kebiasaan itu berubah menjadi spiral yang menurut Albers cenderung memperkuat dirinya sendiri dan makin memburuk seiring waktu.
Cara Mengelola Kebiasaan Memikirkan Kemungkinan Terburuk
Albers menyebut bahwa mengendalikan pikiran katastrofik membutuhkan latihan, waktu, dan usaha yang konsisten. Berikut langkah-langkah yang direkomendasikan Cleveland Clinic:
-
Namai Pikiranmu
Sadari dan beri label pada pikiran yang bersifat katastrofik saat muncul. Mengucapkannya dengan lantang juga dapat membantu memutus spiral pikiran.
-
Tenangkan Tubuh dan Jaga Pola Hidup
Teknik pernapasan, meditasi, dan mindfulness dapat membantu membawa perhatian kembali ke saat ini. Tidur cukup dan makan teratur juga membantu tubuh lebih tenang sebelum pikiran kembali berkecamuk.
-
Cari Minimal Tiga Kemungkinan Lain
Alih-alih terpaku pada skenario terburuk, coba pikirkan sedikitnya tiga kemungkinan lain agar kamu punya
jalan tengah
untuk berpijak. -
Uji dengan Fakta
Periksa bukti nyata dan perkirakan seberapa besar peluang skenario terburuk itu terjadi. Jika sulit, menulis jurnal atau membuat daftar pro dan kontra dapat membantu.
-
Istirahat dari Media Sosial
Jika kamu merasa kewalahan, kurangi doomscrolling karena unggahan yang menakutkan bisa membuat skenario buruk terasa lebih nyata.
-
Pertimbangkan Terapi
Albers menyebut terapi kognitif perilaku (CBT) sebagai standar pengobatan untuk pola pikir ini. Terapis membantu mengenali pikiran dan menggantinya lewat restrukturisasi kognitif. Sebuah meta-analisis di Journal of Anxiety Disorders (2023) terhadap 26 studi dengan 1.199 partisipan gangguan kecemasan umum juga menemukan bahwa terapi psikologis memberi efek besar dalam menurunkan intoleransi terhadap ketidakpastian.
Kapan Perlu Bantuan Profesional?
Mayo Clinic menyebutkan bahwa pada sebagian besar kasus, gangguan kecemasan umum membaik dengan psikoterapi atau obat-obatan. Jika kamu merasa pola pikir ini sulit dikendalikan, berlangsung terus-menerus, atau mengganggu keseharian, sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, atau dokter.
Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.
Pertanyaan Seputar Kebiasaan Memikirkan Kemungkinan Terburuk
1. Apa itu catastrophizing?
Catastrophizing adalah distorsi kognitif ketika seseorang yakin hasil terburuk akan terjadi akibat suatu peristiwa, meskipun kemungkinannya sangat kecil. Pola ini membuat situasi terasa jauh lebih buruk daripada kenyataannya.
2. Apa penyebab orang selalu memikirkan hal terburuk?
Penyebabnya tidak selalu jelas. Faktor yang dikaitkan antara lain mekanisme bertahan hidup otak, trauma masa lalu, emosi yang terpendam, kurang tidur, stres, serta kondisi seperti gangguan kecemasan dan depresi.
3. Apakah selalu memikirkan kemungkinan terburuk termasuk gangguan mental?
Tidak otomatis. Catastrophizing adalah pola pikir, bukan diagnosis. Namun, pola ini sering berkaitan dengan gangguan kecemasan, depresi, OCD, dan PTSD, sehingga konsultasi dengan profesional dianjurkan bila sulit dikendalikan.
4. Apakah memikirkan kemungkinan terburuk ada manfaatnya?
Dalam kondisi tertentu bisa, yaitu ketika dipakai sebagai strategi bersiap yang dikenal sebagai defensive pessimism. Namun, jika berubah menjadi spiral pikiran negatif, kebiasaan ini justru merugikan.
5. Bagaimana cara berhenti memikirkan hal terburuk?
Namai pikiran yang muncul, tenangkan tubuh, cari minimal tiga kemungkinan lain, uji dengan fakta, dan batasi paparan media sosial. Bila belum membantu, terapi kognitif perilaku (CBT) bisa dipertimbangkan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368500/original/084408500_1791437213-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-08T122327.942.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367891/original/050720300_1791366349-Your_paragraph_text__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3102139/original/023566000_1586872671-buayo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5360581/original/027882600_1758710334-prabowo_anies.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5157520/original/025638500_1741598296-application-pointing-worker-digital-stressed_1134-1391.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368640/original/097300700_1791443923-2qdafdsfew.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5132022/original/031987800_1739435589-Menulis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5221593/original/020263000_1747364436-stylish-young-man-spectacles-holding-hand-his-chest-asking-his-angry-girlfriend-forgiveness-while-woman-looking-him-making-stop-gesture-as-if-saying-i-need-your-excuse.jpg)