Liputan6.com, Jakarta Istilah "performative male" atau "maskulinitas performatif" semakin sering terdengar dalam diskusi mengenai kesetaraan gender dan aktivisme sosial. Fenomena ini merujuk pada perilaku pria yang menampilkan atau "mempertunjukkan" ciri-ciri atau nilai-nilai tertentu, seringkali yang dianggap progresif atau selaras dengan isu-isu sosial seperti feminisme atau kesetaraan. Namun, motivasi di baliknya mungkin lebih kepada pencitraan diri, penerimaan sosial, atau keuntungan pribadi daripada komitmen yang tulus terhadap nilai-nilai tersebut.
Perilaku ini merupakan bentuk dari "performative allyship" atau "performative activism" yang secara spesifik diterapkan pada konteks gender dan maskulinitas. Menurut Arlin Cuncic dari verywellmind.com, "Performative allyship adalah ketika seseorang dari kelompok yang lebih istimewa mengklaim sebagai sekutu kelompok yang terpinggirkan, tetapi hanya melakukannya untuk mendapatkan pujian atau keuntungan pribadi, bukan karena komitmen tulus terhadap keadilan sosial." Hal ini menunjukkan bahwa inti dari performativitas terletak pada motivasi yang tidak tulus.
Dalam konteks "performative male", perilaku ini seringkali melibatkan adopsi gaya, hobi, atau opini yang dianggap "benar secara politis" atau "sensitif", namun tanpa disertai tindakan nyata, konsistensi, atau pemahaman mendalam tentang isu yang diklaim didukung. Fenomena ini sering dikritik karena dapat mengikis makna dari dukungan yang tulus dan mengalihkan fokus dari masalah inti ke arah validasi individu. Berikut ini Liputan6 memberikan uraiannya untuk Anda, Jumat (8/8/2025).
Advertisement
Apa Itu "Performative Male"?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5308340/original/097604100_1754541601-manuel-nobauer-mcKVStSWzSM-unsplash.jpg)
"Performative male" adalah konsep yang menggambarkan pria yang mengadopsi identitas atau perilaku tertentu, terutama yang berkaitan dengan isu-isu sosial progresif, bukan karena keyakinan mereka melainkan untuk tujuan pencitraan. Mereka mungkin terlihat sangat mendukung feminisme atau kesetaraan, namun tindakan mereka tidak selalu selaras dengan klaim tersebut. Tujuannya bisa jadi untuk terlihat baik di mata orang lain, menarik perhatian, atau menghindari kritik, bukan untuk benar-benar berkontribusi pada perubahan sosial.
Performatif adalah tindakan yang dilakukan untuk dilihat, bukan untuk melakukan perubahan nyata. Pernyataan ini sangat relevan untuk memahami performative male, di mana penampilan lebih diutamakan daripada dampak. Hal ini menciptakan ilusi dukungan tanpa substansi yang berarti.
Kritik terhadap aktivisme performatif, termasuk dalam konteks maskulinitas, adalah bahwa hal itu dapat mengalihkan perhatian dari tujuan sebenarnya dari gerakan sosial. Hal itu dapat mengalihkan perhatian dari tujuan sebenarnya dari gerakan sosial dan malah berfokus pada individu yang melakukan tindakan tersebut.
Advertisement
Ciri-Ciri "Performative Male" Sehari-hari
Ciri-ciri "performative male" seringkali berkaitan dengan penampilan luar dan preferensi yang diadopsi untuk menampilkan citra tertentu, daripada menunjukkan komitmen yang mendalam. Pengamatan terhadap preferensi gaya hidup dan konsumsi dapat memberikan indikasi awal.
1. Gaya Berpakaian yang Estetik
Pria performatif cenderung mengadopsi gaya berpakaian yang sangat diperhatikan, seringkali mengikuti tren "estetik" tertentu yang populer di media sosial. Pakaian mereka mungkin terlihat "artsy", "vintage", atau "minimalis", yang dirancang untuk menarik perhatian dan menyampaikan kesan sebagai orang yang berbudaya atau sensitif.
Pemilihan gaya ini bukan sekadar ekspresi diri, melainkan bagian dari strategi untuk membangun citra. Mereka mungkin menghabiskan banyak waktu untuk memastikan penampilan mereka sesuai dengan narasi yang ingin mereka sampaikan. Hal ini seringkali didorong oleh keinginan untuk mendapatkan validasi sosial dan pujian dari lingkungan tertentu.
2. Memilih Totebag daripada Backpack
Pemilihan tas juga bisa menjadi indikator. Totebag, yang sering diasosiasikan dengan gaya hidup yang lebih santai, ramah lingkungan, atau "hipster", mungkin dipilih daripada ransel tradisional.
Pilihan ini bisa menjadi bagian dari upaya untuk menampilkan citra yang lebih "sadar sosial" atau "tidak konvensional". Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka berbeda dari mayoritas, bahkan dalam hal pilihan aksesori sehari-hari.Â
3. Minuman Berbeda dari Orang Lain
Preferensi minuman juga dapat menjadi bagian dari performa. Memilih matcha daripada kopi, terutama di tempat-tempat yang trendi, bisa menjadi cara untuk menunjukkan selera yang lebih "unik", "sehat", atau "berkelas", yang membedakan diri dari mayoritas.
Pilihan minuman ini seringkali bukan hanya soal rasa, melainkan juga simbol status atau afiliasi dengan kelompok tertentu. Dengan memilih matcha, mereka ingin menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari tren gaya hidup tertentu yang dianggap lebih modern atau berwawasan.
4. Pamer Buku tentang Feminisme
Salah satu ciri yang paling sering disorot adalah kecenderungan untuk secara terbuka menampilkan atau membicarakan buku-buku bertema feminisme atau kesetaraan gender. Ini bisa berupa memposting foto buku di media sosial, membawanya ke tempat umum, atau menyebutkannya dalam percakapan. Performative allyship seringkali melibatkan tampilan publik dari dukungan, seperti memposting tentang isu-isu sosial atau membaca buku-buku tertentu, tanpa tindakan nyata di baliknya.
Tindakan ini seringkali dilakukan tanpa menunjukkan pemahaman mendalam atau penerapan prinsip-prinsip tersebut dalam tindakan nyata. Mereka mungkin hanya membaca ringkasan atau kutipan untuk bisa berpartisipasi dalam diskusi, tanpa benar-benar menginternalisasi pesan-pesan penting dari buku tersebut.
5. Selera Musik yang Berbeda
Pria performatif mungkin secara eksplisit menyatakan preferensi musik yang "anti-mainstream", "indie", atau "underground". Ini adalah upaya untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki selera yang lebih canggih, orisinal, atau tidak terpengaruh oleh budaya populer. Mendengarkan musik 'anti-mainstream' dapat menjadi bagian dari identitas sosial, menunjukkan bahwa seseorang memiliki selera yang lebih 'autentik' atau 'berbeda'.
Dengan mengklaim selera musik yang tidak biasa, mereka berusaha meningkatkan citra mereka sebagai individu yang unik dan berwawasan. Mereka ingin menonjol dari keramaian dan menunjukkan bahwa mereka memiliki kedalaman yang tidak dimiliki oleh orang lain. Ini adalah bentuk lain dari pencitraan diri melalui preferensi budaya.
6. Pakai Gantungan Lucu di Tas atau Saku
Menambahkan gantungan kunci atau aksesori "lucu" atau "quirky" pada tas atau saku adalah cara lain untuk menampilkan kepribadian yang "sensitif", "kreatif", atau "tidak takut untuk menunjukkan sisi lembut". Aksesori pribadi dapat digunakan untuk mengekspresikan identitas dan kepribadian, termasuk menantang norma gender.
Ini bisa menjadi bagian dari upaya untuk menentang stereotip maskulinitas tradisional. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka tidak terikat oleh norma-norma maskulinitas yang kaku dan berani mengekspresikan sisi yang lebih lembut atau artistik. Aksesori ini berfungsi sebagai pernyataan visual dari identitas yang ingin mereka proyeksikan.
Â
Mengenali "Performative Male" dari Tindakan Nyata
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5308341/original/005148500_1754541603-jan-de-keijzer-gSKQnv55TGA-unsplash.jpg)
Mengidentifikasi "performative male" memerlukan pengamatan yang lebih dalam daripada sekadar penampilan atau preferensi superfisial. Kunci utamanya adalah melihat konsistensi antara apa yang diklaim atau ditampilkan dengan tindakan nyata, nilai-nilai yang dipegang, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain, terutama dalam situasi yang menantang.
1. Perhatikan Konsistensi Antara Kata dan Tindakan
Pria performatif mungkin sangat vokal dalam mendukung isu-isu sosial atau feminisme di depan umum atau di media sosial, tetapi tindakan mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak mencerminkan dukungan tersebut.
Misalnya, mereka mungkin berbicara tentang kesetaraan gender tetapi gagal melakukan pekerjaan rumah tangga yang adil di rumah, menginterupsi wanita dalam percakapan, atau tidak membela wanita ketika mereka menghadapi diskriminasi. Perbedaan antara retorika dan perilaku nyata adalah indikator kuat dari performativitas.
2. Evaluasi Motivasi di Balik Dukungan Mereka
Pertimbangkan mengapa mereka menampilkan dukungan tersebut. Apakah itu untuk mendapatkan pujian, validasi sosial, atau untuk menarik perhatian? Jika dukungan mereka tampaknya berhenti pada titik di mana tidak ada lagi keuntungan pribadi yang bisa didapat, itu bisa menjadi tanda performativitas. Motivasi yang berpusat pada diri sendiri, bukan pada keadilan isu, adalah ciri khas dari perilaku ini.
3. Amati Reaksi Mereka Terhadap Kritik atau Tantangan
Pria yang benar-benar berkomitmen terhadap nilai-nilai progresif cenderung terbuka terhadap kritik dan bersedia belajar dari kesalahan. Sebaliknya, pria performatif mungkin menjadi defensif, marah, atau mengalihkan pembicaraan ketika perilaku atau pandangan mereka ditantang. Reaksi ini terutama terlihat jika tantangan itu datang dari kelompok yang mereka klaim dukung. Mereka mungkin merasa diserang karena citra yang mereka bangun terancam, bukan karena prinsip yang mereka yakini.
4. Perhatikan Apakah Mereka Mengambil Ruang atau Memberi Ruang
Sekutu sejati berusaha untuk mengangkat suara kelompok yang terpinggirkan dan memberi mereka ruang untuk berbicara. Pria performatif, di sisi lain, mungkin cenderung mendominasi percakapan, mengambil kredit, atau menjadikan isu tersebut tentang diri mereka sendiri, bukan tentang kelompok yang mereka klaim dukung. Mereka mungkin tanpa sadar mengalihkan perhatian dari masalah inti ke validasi pribadi mereka.
Cari Tanda-Tanda Pembelajaran dan Pertumbuhan yang Berkelanjutan
Dukungan yang tulus terhadap isu-isu sosial adalah sebuah perjalanan pembelajaran dan pertumbuhan. Pria yang benar-benar berkomitmen akan terus mendidik diri mereka sendiri, mengakui keterbatasan mereka, dan berusaha untuk menjadi lebih baik.
Pria performatif mungkin hanya mengadopsi "poin-poin pembicaraan" tertentu tanpa menunjukkan pemahaman yang berkembang atau kemauan untuk berubah. Mereka cenderung stagnan dalam pemahaman mereka, hanya mengulang apa yang dianggap "benar" tanpa refleksi mendalam atau upaya untuk mengaplikasikannya secara konsisten dalam hidup mereka.
Advertisement
People Also Ask
1. Apa itu performative male?
Jawaban: Performative male adalah pria yang menampilkan dukungan terhadap isu-isu sosial progresif seperti feminisme, namun motivasi utamanya adalah pencitraan diri, penerimaan sosial, atau keuntungan pribadi, bukan komitmen tulus terhadap nilai-nilai tersebut.
2. Apa saja ciri-ciri performative male yang umum terlihat?
Jawaban: Ciri-ciri umum performative male meliputi gaya berpakaian estetik, memilih totebag daripada ransel, preferensi matcha di atas kopi, pamer buku bertema feminisme, selera musik anti-mainstream, penggunaan gantungan lucu, dan mengenakan headset kabel sebagai pernyataan gaya.
3. Bagaimana cara membedakan performative male dari pria yang benar-benar suportif?
Jawaban:Perbedaan terletak pada konsistensi antara kata dan tindakan, motivasi di balik dukungan, reaksi terhadap kritik (defensif vs. mau belajar), apakah mereka mengambil ruang atau memberi ruang bagi kelompok terpinggirkan, serta adanya tanda-tanda pembelajaran dan pertumbuhan berkelanjutan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3226358/original/037478600_1599037074-20200901-BPS-Lakukan-Sensus-Penduduk-Secara-Tatap-Muka-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260138/original/072176600_1781577859-Tugas__36_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264115/original/018567300_1782092996-Tugas__39_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8414164/original/000004000_1782298740-Cek_fakta_-_rumor_ukraina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3885023/original/ACg8ocJhAqQ111Qo7aNKJo-e-gQosi_iVPv_IfWPcQDZFdPai56-TQS9%3Ds200.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5308339/original/034215500_1754541601-IMG-20250807-WA0006.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812277/original/052062800_1684314288-Beach_life.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263356/original/061813100_1781903816-AP26170714954300-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450010/original/046935500_1782346255-063_2283182603.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8442423/original/051297200_1782335693-063_2283164257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8458114/original/001317800_1782356893-000_B88W362.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259075/original/006227600_1781447167-Turki_vs_Australia-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8459088/original/096988900_1782358208-000_B88W3AA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8458112/original/030524500_1782356891-000_B88U3NH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259033/original/064642600_1781436681-000_B6Z637Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450278/original/065503300_1782346556-vini.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5539854/original/082732300_1774647037-granit-xhaka-serge-gnabry-swiss-jerman-duel-persahabatan-internasional.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258705/original/024939600_1781404490-qatar_vs_swiss-4.jpg)