Sukses

Pakaian dan Atribut Penonton Piala Dunia Qatar 2022 Ini Tuai Kontroversi

Liputan6.com, Jakarta - Qatar memperingatkan para penonton terkait dengan aturan berpakaian ketika menonton pertandingan Piala Dunia 2022. Beberapa penonton pun mulai menyadari keseriusan pihak pengurus acara yang tidak segan akan menghampiri dan mengambil tindakan terhadap mereka yang melanggar aturan tersebut.

Sesuai dengan Kode Etik Stadion FIFA untuk acara tahun ini, mereka melarang para penggemar sepak bola untuk membawa alat atau senjata dan bendera atau atribut lainnya yang dianggap berbau politis atau diskriminatif.

Peraturan ini telah jauh disampaikan sejak bulan Juli lalu. Mereka turut menyarankan atribut seperti helm atau masker apapun yang menutupi wajah, kecuali masker medis serta penutup kepala nasional atau penutup kepala yang bersifat keagamaan.

Ditambah lagi, penonton dihimbau untuk tidak menggunakan pakaian yang terlalu terbuka atau sampai melepas pakaian yang sedang dikenakannya untuk memperlihatkan bagian tubuh yang intim. Peraturan ini menjadi sesuatu yang biasa, mengingat Qatar sebagai salah satu negara yang mayoritasnya muslim.

Peraturan ini juga memberikan kesan bahwa penonton diperkenankan untuk mengenakan pakaian yang lebih sopan dibandingkan apa yang biasa mereka gunakan dalam budaya mereka. Akan tetapi, di samping peraturan berpakaian sopan pihak penyelenggara acara juga melarang penonton Piala Dunia mengenakan beberapa jenis kostum dan atribut tertentu.

Keseriusan dari peraturan ini pun ditunjukkan ketika ada beberapa suporter bola yang hadir di stadion didatangi oleh petugas keamanan acara yang meminta mereka untuk melepas atribut atau mengganti pakaian yang mereka kenakan. Hal ini dilakukan karena beberapa pakaian ini terkesan kontroversial dan dapat berpotensi menyebabkan keributan.

Melansir dari situs NPR (05/12/2022), berikut beberapa pakaian dan atribut yang dikenakan penonton Piala Dunia Qatar 2022 yang sempat memicu kehebohan di stadion.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Suporter Iran yang Memakai Kaus dan Bendera Bertuliskan 'Women Life Freedom'

Penggemar timnas Iran sempat membawa dan mengenakan pakaian yang berkaitan sebagai bentuk protes mereka terhadap kematian Mahsa Amini. Mahsa Amini merupakan seorang wanita muda yang meninggal dalam tahanan polisi moralitas di Iran, yang menangkapnya karena menganggap dirinya mengenakan pakaian yang tidak pantas.

Pertama adalah ketika seorang penonton mengenakan kaus bertuliskan "Woman, Life, Freedom" saat menyaksikan pertandingan Iran vs Wales lalu. Dirinya pun dipaksa untuk mengganti bajunya sebelum lanjut menonton pertandingan.

Selanjutnya ada juga penonton yang mengangkat jersey sepak bola Iran dengan nama Mahsa Amini dan usianya, yaitu 22 tahun tercetak pada jersey tersebut. Mereka diketahui sebagai pendukung hak-hak perempuan.

Ada penonton yang mengenakan riasan wajah yang menyerupai darah yang menetes dari matanya. Di sampingnya, ada penonton lain yang mengibarkan bendera Iran dengan tulisan "Women Life Freedom". Kedua demonstran ini kemudian dihampiri oleh petugas keamanan acara yang menyita atribut yang mereka bawa.

3 dari 4 halaman

Pakaian dan Atribut Bersimbol Bendera LGBTQ

Isu yang satu ini sudah sering diperbincangkan sejak Piala Dunia dimulai. Pihak keamanan menyita beberapa topi pelangi yang dipakai oleh para penggemar Wales wanita, karena melambangkan dukungan mereka terhadap hak-hak LGBTQ.

Kelompok tersebut memiliki sebutan sebagai The Rainbow Wall. Kelompok tersebut mengungkapkan bahwa hanya para wanita yang diminta untuk melepaskan topi-topi tersebut.

Selain itu, kejadian lain juga dialami oleh seorang jurnalis asal Amerika Serikat bernama Grant Wahl. Ia mengatakan bahwa dirinya sempat ditahan selama 25 menit karena menolak untuk mengganti pakaian bergambar pelanginya.

Hal ini ia sampaikan melalui kolom Substack, setelah dirinya ditahan cukup lama seorang petugas pun menghampirinya dan meminta maaf sebelum mengizinkannya untuk masuk ke stadion. Petugas tersebut mengungkapkan kalau hal tersebut dilakukan untuk melindunginya dari orang yang dapat menyakitinya jika mengenakan pakaian tersebut.

Kejadian ini pun membuat ia bertanya-tanya akan apa yang akan terjadi jika ada warga negara Qatar yang mengenakan atribut atau pakaian yang sama dengannya, ketika Qatar tidak sedang menarik banyak perhatian publik di dunia.

4 dari 4 halaman

Penggunaan Kostum Tentara Salib oleh Suporter Inggris

Pada pertandingan sepak bola lainnya, kostum yang dikenakan penggemar Inggris pun turut mengundang kontroversi. Saat menyaksikan pertandingan, mereka mengenakan kostum layaknya seorang ksatria dengan rantai palsu, pedang, dan perisai. FIFA dilaporkan sudah meminta penonton untuk tidak mengenakan kostum yang tampaknya terinspirasi dari Ksatria Templar tersebut.

Ksatria ini memainkan peran besar dalam Perang Salib pada abad ke-12 dan ke-13, saat orang-orang Kristen di Eropa Barat berjuang untuk merebut situs-situs suci dari kendali Muslim. Seorang petinggi FIFA mengungkapkan kepada The Times, kostum Tentara Salib dalam konteks Arab dapat menyinggung umat islam.

Oleh karena itu, dua penggemar Inggris yang mengenakan kostum ini dipaksa untuk mencopot seluruh kostum yang dikenakannya, sebelum lanjut menonton waktu pertandingan yang tersisa.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS