Sukses

Deretan Tradisi Unik Selama Ramadan dari Penjuru Dunia

Liputan6.com, Jakarta - Pada bulan Ramadan, berbagai rutinitas rutin memainkan peran pentingnya masing-masing. Rutinitas tersebut yakni berpuasa, beramal, berdoa, beribadah, dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Namun, ada juga tradisi budaya yang bercampur dengan rutinitas Ramadan. Hal tersebut pada akhirnya membuat perayaan Ramadan di setiap wilayah bisa berbeda-beda.

Berbagai komunitas muslim di setiap negara memiliki berbagai keunikan tersendiri dalam merayakan bulan suci Ramadan. Melansir dari Seasia dan Gulf news, Rabu (15/5/2019), berikut deretan tradisi unik di bulan Ramadan dari berbagai negara.

1. Gerga'aan - Kuwait

Ramadan di Kuwait diwarnai dengan kunjungan keluarga, teman, dan tetangga yang dilakukan setelah berbuka puasa. Bunyi bel yang berdering dalam waktu dua minggu sebelum bulan Ramadan, menandai dimulainya tradisi gerga'aan.

Gerga'aan adalah perayaan selama tiga hari, meliputi kegiatan anak-anak yang mengetuk pintu rumah tetangga mereka dan bernyanyi untuk mendapatkan imbalan cokelat dan permen. Ada dua buah lagu tradisional yang dinyanyikan anak-anak selama gerga'aan, satu untuk anak perempuan dan satu untuk anak laki-laki.

Namun, keduanya dapat dimodifikasi dengan memasukkan nama-nama anak dari pemilik rumah. Tradisi ini dipraktikkan di seluruh Teluk Arab tetapi dalam aspek-aspek tertentu, seperti waktu dan nama yang berbeda dari satu negara dengan negara lain.

Di Uni Emirat Arab, tradisi ini dikenal dengan nama Haq Laila dan dirayakan dua minggu sebelum Ramadan. Kata "gerga'aan" itu sendiri adalah sumber dari banyaknya perselisihan yang terjadi di Kuwait.

Ada berbagai argumen umum yang beredar dan mengatakan bahwa kata "gerga'aan" merupakan akronim untuk mengatakan "Berkat di bulan ini" atau kata Badui yang berarti "Campuran".

2 dari 3 halaman

2. Lentera Tradisional - Mesir

Lentera, yang dikenal sebagai "Fanoos" dalam bahasa Arab, telah menjadi sebuah simbol Ramadan di Timur Tengah. Biasanya lentera ini terbuat dari logam dan kaca berwarna.

Lentera yang dekoratif, digantung di berbagai tempat, dari rumah dan mal ke jalanan dan tenda-tenda Ramadan selama bulan suci ini. Namun, saat Kairo dianggap sebagai tempat "kelahiran" dari Fanoos, maka Kairo telah memiliki tempat khusus di hati orang-orang Mesir.

Seperti banyak tradisi lain yang terkait dengan festival keagamaan, lentera memiliki makna budaya yang penting bagi umat Islam. Bahkan terkadang, makna budaya yang dimiliki lentera disamakan dengan pohon Natal.

Ada berbagai kisah berbeda mengenai bagaimana para fanoos ini bisa dikaitkan dengan bulan Ramadan. Namun, semua kisah tersebut muncul dengan menilik kembali pada abad ke-10. Saat Khilafah Fatimiyah memerintah sebagian besar umat muslim di dunia, melalui Mesir.

3. Piknik Berbuka Puasa - India

Siapa pun yang menikmati makanan dan tinggal di Delhi, pasti mengetahui hanya ada satu tempat yang bisa dikunjungi di malam Ramadan. Gang-gang dan jalan-jalan dari kota tua yang dikelilingi tembok, tempat puasa dibatalkan dengan menggelar piknik di teras masjid dan camilan dari pedagang kaki lima.

Gang-gang itu berkilauan dari Masjid Jama, jantung dari Old Delhi dan tempat termegah di kota untuk menjalanan salat tarawih. Di halaman-halaman ini, ratusan umat muslim berkumpul setiap malam untuk berbuka puasa, kecuali jika Ramadan jatuh pada musim dingin.

Mereka meletakkan selembar kain besar di atas batu ubin besar yang digunakan sebagai tempat duduk dan memakan hidangan berbuka puasa yang mereka siapkan dari rumah. Bahkan setelah matahari terbenam, saat makan di Old Delhi selama musim panas, suasananya bisa berubah menjadi panas dan membuat tubuh berkeringat.

Para pengunjung yang berpuasa harus memiliki keseimbangan yang baik, antara keinginan untuk makan berlebihan dan pengetahuan bahwa makan berlebihan itu tidak dianjurkan. Mungkin sebaiknya, para pengunjung harus mencoba untuk mengunjungi tempat lain dengan menerobos kerumunan orang yang muncul setelah salat tarawih.

Dengan begitu, mereka dapat merasakan perasaan gembira melalui masyarakat yang ada, selama bulan Ramadan.

 

 

3 dari 3 halaman

4. Mesaharaty - Arab Saudi

Sama seperti tradisi bangunkan sahur di Indonesia, di Arab Saudi pun juga ada tradisi serupa. Di sejumlah negara di Arab, seorang Mesaharaty atau "penyeru malam."

Ia berkeliling di jalan-jalan desa sambil memukul drum dengan lembut dan berseru untuk menandai waktu bangun sahur. Di beberapa negara seperti Arab Saudi, Yaman, dan Mesir, kebiasaan ini masih menjadi sebuah praktik yang umum, khususnya di desa-desa.

Saat waktu sahur tiba, maka "Al Tabbeil" atau penabuh drum memanggil nama keluarga dari setiap rumah yang dilewatinya. Mereka tidak menuntut bayaran, tetapi orang-orang biasanya memperlakukan para pekerja yang tak kenal lelah ini dengan beberapa hadiah di akhir bulan Ramadan.

5. Nyekar - Indonesia

Tradisi nyekar sudah sejak lama dilakukan di Indonesia dan telah menjadi ritual "wajib" menjelang bulan Ramadan, khususnya bagi suku Jawa. Kegiatan ini bertujuan untuk memberi penghormatan dan memberi doa pada anggota keluarga yang telah meninggal.

Tradisi ini didasarkan pada kepercayaan bahwa Ramadan merupakan penanda dari akhir dari satu siklus kehidupan dan merupakan awal dari kehidupan baru. Di beberapa daerah, tradisi ini disertai dengan persembahan untuk leluhur mereka.

Selain mengunjungi makam kerabat, beberapa umat muslim juga mengunjungi makam pahlawan, raja-raja kuno, atau leluhur mereka untuk membacakan doa dan menabur bunga.

Reporter:

Rahma Wulan Mei Anjaeni

Universitas Pendidikan Indonesia

Loading
Artikel Selanjutnya
Cerita Kelam di Balik Tradisi Ketuk Sahur Warga Gorontalo
Artikel Selanjutnya
Mengenal Koko'o, Tradisi Bangunkan Sahur di Gorontalo