Sukses

Sering Menggigit Kuku hingga Luka, Pria Ini Alami Nasib Tragis

Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan menggigit jari dianggap sebagai kebiasaan buruk. Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Kebiasaan menggigit kuku yang kotor dapat membuat kuman dan cacing masuk ke dalam tubuh. Belum lagi bila Anda terbiasa menggigiti kuku hingga ke dekat kulit. Seperti yang dialami pria ini.

Pria bernama Ricky Kennedy harus mengalami kejadian tragis karena kebiasaan tersebut. Pria berusia 57 tahun itu harus dilarikan ke rumah sakit setelah didiagnosis menderita sepsis.

Sepsis tersebut muncul karena Ricky suka menggigit ujung kulit yang dekat dengan kuku. Gigitan tersebut kemudian menjadi luka yang semakin parah dan membuat ibu jarinya melepuh.

Sepsis merupakan infeksi yang dijuluki 'silent killer' karena muncul hampir tanpa adanya gejala awal. Meski demikian, penyakit ini mampu menyebabkan kematian.

Sepsis telah membunuh sekitar 44 ribu orang di Inggris tiap tahunnya. Angka tersebut termasuk tinggi karena sepsis menginfeksi organ maupun jaringan tubuh manusia.

Meski berhasil diselamatkan saat ibu jarinya melepuh, Ricky harus kembali ke dokter karena infeksi yang ia derita membuat bagian tubuhnya yang lain juga ikut melepuh. Dokter kemudian memberikan antibiotik untuk membersihkan luka dan infeksi yang ada di tubuh Ricky.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

Namun, beberapa hari kemudian kondisi makin buruk. Bagian tubuh yang melepuh menyebar ke lengan dan dadanya. Ia sampai harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Ternyata, pria itu menderita sepsis akut di mana infeksi telah menyerang beberapa bagian tubuhnya. Ia kemudian mengaku kalau ia sering menggigiti kuku dan kulit di sela ibu jarinya. terkadang hingga terluka. Ia tak menyangka luka kecil tersebut dapat membuat dirinya terjangkit sepsis.

Ricky akhirnya terpaksa dirawat beberapa bulan di Rumah Sakit Queen Elizabeth University ditemani sang istri. Ia mengaku menyesal dengan kebiasaan buruknya tersebut.

Reporter: mgg/ Renno Hadi Ananta

Sumber: Brilio.net