Benarkah Vaksin mRNA Penyebab Kanker? Simak Fakta dari Ahlinya

Dalam era digital yang penuh dengan informasi menyesatkan, Dr. Khariri dari BRIN menegaskan bahwa klaim vaksin mRNA menyebabkan kanker tidak berdasar. Dengan penjelasan ilmiah, ia mematahkan mitos ini dan menekankan pentingnya edukasi publik.

Diterbitkan 13 Agustus 2025, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta- Bereda di tengah masyarakat informasi yang menyebutkan vaksin Messenger Ribonucleic Acid (mRNA) menyebabkan kanker atau menekan protein penekanan tumor, kabar ini tentu dapat menimbulkan keresahan. Pasalnya, vaksin tersebut telah digunakan untuk meredam penyebaran penyakit.

Bagaiman fakta dari ahlinya? Simak penjelasan berikut ini.

Peneliti Pusat Riset Biomedis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr Khariri, menegaskan klaim yang menyebutkan vaksin berbasis Messenger Ribonucleic Acid (mRNA) dapat menyebabkan kanker tidak memiliki dasar ilmiah.

"Kalau kita boleh menjawab klaim bahwa vaksin mRNA tersebut menyebabkan kanker atau antiprotein penekanan tumor, ini bisa kita sebut sebagai informasi yang tidak berdasar atau tidak berbasis dari bukti ilmiah," kata Dr Khariri, dikutip dari Antara, Rabu (13/8/2025). 

Dr. Khariri menjelaskan  Messenger RNA berfungsi hanya untuk membawa instruksi pembuatan protein sementara, seperti protein spike pada SARS-CoV-2, dan proses ini berlangsung di sitoplasma sel. Instruksi ini tidak masuk ke dalam inti sel, tempat DNA berada, dan tidak mengubah DNA, tambahnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa mRNA tidak bisa menyisip ke DNA manusia tanpa bantuan enzim reverse transcriptase, yang tidak dimiliki oleh tubuh manusia.Dr. Khariri mengungkapkan, tidak ada mekanisme dalam vaksin mRNA yang memungkinkan integrasi ke DNA manusia. Platform mRNA telah terbukti aman berdasarkan data ilmiah dan digunakan secara luas dalam pengembangan vaksin modern.

 

 

Edukasi Kunci Melawan Hoaks

Mengenai asal-usul hoaks ini, Dr. Khariri menjelaskan bahwa penyebaran informasi menyesatkan sangat mudah terjadi di era media sosial. Untuk melawan hoaks, ia menilai edukasi publik menjadi kunci, di mana informasi harus disampaikan dengan bahasa yang sederhana, sesuai tingkat pendidikan dan pemahaman masyarakat.

Gunakan istilah-istilah yang setidaknya bisa diterima masyarakat dengan baik tanpa bermakna ganda, ujarnya. Ia juga mengingatkan agar peneliti, akademisi, dan tenaga kesehatan selalu fokus pada bukti ilmiah ketika mengklarifikasi hoaks. Tekankan sebagai bukti, fokus pada bukti dan data ilmiahnya bahwa informasi tersebut memang tidak sesuai dengan data atau faktualnya, tutur Dr. Khariri.

 

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi partner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.