Sukses

6 Hoaks Seputar Covid-19 yang Beredar Sepekan, Simak Faktanya

Liputan6.com, Jakarta- Informasi seputar Covid-19 semakin banyak beredar di media sosial, namun sebaiknya kita perlu mewaspadai kabar tersebut dengan tidak mudah mempercayainya  sebab tidak semuanya benar atau hoaks.

Cek Fakta Liputan6.com pun telah menelusuri sejumlah informasi seputar Covid-19, hasilnya sebagian informasi tersebut terbukti hoaks.

Simak kumpulan hoaks seputar Covid-19 yang beredar dalam sepekan:

1. Virus Corona Covid-19 adalah Fitnah

Klaim tentang virus corona Covid-19 adalah fitnah beredar di media sosial. Klaim tersebut beredar lewat sebuah video yang disebarkan akun Facebook Vloger pada 11 Juli 2021.

Akun Facebook Vloger mengunggah video berisi ceraham seorang penceramah di sebuah masjid. Dalam video berdurasi 10 menit 47 detik itu, si penceramah menyebut bahwa virus corona Covid-19 adalah fitnah.

"Fitnah yang kita alami sekarang ini, enggak ada ceritanya makin turun. Ini makin nanjak. Kira-kira 6 bulan lagi Covid hilang enggak? Kalau kemauan saya sih iya. Tapi berdasarkan pengalaman saya tentang akhir jaman, kayaknya bakal jalan terus nih. Bukan nakut-nakutin. Kan kita sudah dengar sendiri di suatu wilayah sudah membaiik, tiba-tiba ada secondwave, gelombang kedua," demikian penuturan si penceramah dalam video.

"Merindiing dengarkan baek2," tulis akun Facebook Vlogger.

Video yang disebarkan akun Facebook Vlogger telah 1,4 juta kali ditonton dan mendapat 1.900 komentar warganet.

Benarkah virus corona Covid-19 merupakan fitnah belaka? Berikut penelusurannya.

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim tentang virus corona Covid-19 adalah fitnah ternyata tidak benar. Faktanya, Covid-19 telah menyebar di hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.

 

2. Vaksin Covid-19 Mengandung Logam Berat Etil Merkuri Senjata Biologis yang Mematikan

Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim vaksin Covid-19 mengandung logam berat etil merkuri senjata biologis yang mematikan untuk lansia komorbid. Klaim tersebut diunggah akun Facebook DrLois, pada 23 Mei 2021.

Klaim vaksin Covid-19 mengandung logam berat etil merkuri senjata biologis mematikan lansia komorbid berupa keterangan sebagai berikut:

"Perintah saya kepada KAPOLRI:Batalkan Vaksinasi COVID-19Karena kandungan Logam berat etil Mercury dalam Vaksin adalah ' Senjata Biologis' yg akan membuat Lansia komorbid penerimanya mengalami kematian mendadak akibat serangan Jantung/Stroke yg oleh KIPI tidak akan di akui efek sampingan Vaksin!!Laksanakan🔥🔥🔥🔥Perintah saya adalah Mutlak dan yang Harus Paling di dengarkan.Apakah Bapak belum tahu kalau saya penguasa Covid19 dunia dengan penjelasan paling ilmiah??Kalau Bpk butuh penjelasan langsung silahkan Undang saya.Kita ktemu Head to Head.' Keselamatan Rakyat adalah Hukum Tertinggi'!!!!!"

Benarkah vaksin Covid-19 mengandung logam berat etil merkuri senjata biologis yang mematikan untuk lansia komorbid? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim vaksin Covid-19 mengandung logam berat etil merkuri senjata biologis yang mematikan untuk lansia komorbid tidak benar.

Dalam vaksin Covid-19 tidak ada yang mengandung etil merkuri, namun memang ada beberapa vaksin yang mengandung etil merkuri ini digunakan untuk mencegah pertumbuhan bakteri dalam vaksin dan tidak berbahaya untuk tubuh.

 

3. Oseltamivir Obat Covid-19 yang Berbahaya dan Mematikan

 

Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim Oseltamivir obat Covid-19 berbahaya dan mematikan. Klaim tersebut diunggah akun Facebook Nawa Rawdha, pada 15 Juli 2021.

Klaim Oseltamivir obat Covid-19 berbahaya dan mematikan berupa video yang menampilkan satu strip obat berbentuk kapsul berwarna putih dan kuning.

Dalam video tersebut terdapat narasi sebagai berikut:

"Ini obat waktu saat aku diisolasi Covidlolos satu biji yang aku makan hampir mrenggut nyawaku, namannya oseltamivir, ini obat barusan diminum waktu masih isolasi di rumah sakit, dalam waktu nggak sampe satu menit aku langsung muter-muter muntah-muntah alhamdulillah Allah masih memperpanjang umur ku, inilah obat yang disebut obat oseltamivir obat khsusu buat flu babi ternyata flu babi dan juga flu burung ini yang diberikan ke aku dan aku ga mau diberika makan selanjutnya, aku ditanya bolak balik sama perawat bu sudah dimakan obatnya? sudah-sudah padahal aku sembunyiin. Nih satu yang ku makan aku bawa pulang untuk kenang-kenangan, ini obat setan, ini berbahayahati- hati kalau ada yang memberikan obat ini ini sangat berbahaya banget. Disini dikatakan obat ini unutk menghilangkan virus, menyembuhkan tapi ternyata obat ini sangat berbahaya namanya Oseltamivir"

Video tersebut diberi keterangan sebagai berikut:

"Testimoni mantan Korban Konspirasi Global (Covid19) OBAT SETAN (OSELTAMIVIR-generik) Jangan dikonsumsi..buang aja!Nasution Nina inikah obatnya kaa? Yg dlu sempat ak minta utk investigasi?"

Benarkah Oseltamivir obat Covid-19 berbahaya dan mematikan? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com klaim Oseltamivir obat Covid-19 berbahaya dan mematikan tidak benar.

Oseltamivir termasuk obat yang aman digunakan, dengan efek samping bersifat individual, meliputi mual, muntah, insomnia, vertigo, dialami hanya sebagian orang.

2 dari 4 halaman

Berikutnya

4. Video Peti Mati Jenazah Covid-19 Kosong saat Hendak Dikubur

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim video peti mati jenazah Covid-19 kosong saat Hendak dikubur

 Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim video peti mati jenazah Covid-19 kosong saat hendak dikubur. Klaim tersebut diunggah akun Facebook Asep Maulana, pada 5 Juli 2021.

Unggahan klaim video peti mati jenazah Covid-19 kosong saat mau dikubur menampilkan pemakaman yang dilakukan sejumlah orang mengenakan baju alat pelindung diri dan disaksikan sejumlah orang. Saat peti akan dimasukan ke lubang sejumlah orang mendekati peti tersebut kemudian membukanya. Kemudia terlihat situasi tidak terkendali.

Video tersebut diberi keterangan sebagai berikut:

"PRANK CORONA..Peti mati tempat mayit yg katanya meninggal karena corona ternyata peti mati kosong,mayitnya ga tau entah kemana.."

Benarkah klaim video peti mati jenazah Covid-19 kosong saat hendak dikubur? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

 

5.  Pesan Berantai Pasien Covid-19 Dapat Bantuan dari BTP

Beredar di aplikasi percakapan pesan berantai bantuan untuk pasien covid-19 dari Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Pesan berantai itu ramai dibagikan sejak akhir pekan lalu.

Dalam pesan berantai tersebut disebutkan bahwa BTP akan memberikan bantuan obat-obatan melalui relawannya. Berikut isi pesan berantai ini selengkapnya:

"Program Ahok (Basuki-BTP) membantu banget dalam pengobatan org yg terpapar covid ini. Harap simpan berita ini dan bagikan buat yg perlu, hanya cukup bayar 3rb - 5rb sudah dpt semua.

Teman suamiku barusan pesan obat ini utk mamanya, kaget, dan cepat banget dikirimnya obat2 ini melalui deliver relawan.

Hub Hp ini.

0819 5262 5522

0819 5262 5005"

Lalu benarkah pesan berantai yang mengklaim ada bantuan untuk pasien covid-19 dari Basuki Tjahaja Purnama? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Pesan berantai yang mengklaim ada bantuan untuk pasien covid-19 dari Basuki Tjahaja Purnama adalah hoaks.

Sosok yang akrab disapa Ahok tersebut telah membantah informasi bantuan untuk pasien Covid-19.

 

6. Video Najwa Shihab Ini Jenazah Pasien Covid-19 Tak Tularkan Virus

 Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim video Najwa Shihab jenazah pasien Covid-19 tidak menularkan virus. Klaim tersebut diunggah akun Facebook Rini Astuti, pada 10 Mei 2021.

Unggahan klaim video Najwa Shihab jenazah pasien Covid-19 tidak menularkan virus tersebut menampilkan video Najwa Shihab yang terdapat tulisan "FAKTA TERBARU JENAZAH PASIEN COVID TIDAK MENULARKAN VIRUS".

Dalam video berdurasi 1 menit 50 deti tersebut Najwa Shihab berbicara tentang pasien Covid-19, berikut transkrip pembicaraannya:

"Saya akan kutip keterangan Kepala Departemen Kedokteran Forensi dan Medikolegal dr Soetomo Surbaya Edi Suyanto mengatakan, secara ilmiah ilmu kedokteran, korban atau jenazah kemungkinan menularnya sudah tidak ada. Apalagi virus corona. Dia (virus corona harus hidup dari inangnya. Inangnya sudah mati, virusnya juga ikut mati. Sama dengan HIV/AIDS sa,a H5N1 atau flu burung.

Jelas itu, jelas tidak akan menularkan pasien Covid-19 yang meninggal saat dia sakit tidak boleh dijenguk keluarganya, proses pemakaman dilakukan dengan cara tertentu dan yang bisa menghadirinya terbatas. Masa tega saat keluarga hendak mendoakan dipemakaman diperlakukan seperti itu.

Jadi kalau kita mengusir, mengucilkan, kalau kita menghakimi, menstigmatisasi korban corona itu berbahaya karena membuat siapaun merasakan gejalanya engan melapor dan memeriksakan diri.Jika mereka enggan melapor karena takut dicemooh kemudian dihakimi yang rugi kita semua. Virus jadi tidak terdeteksi sehingga menyulitkan memutus rantai penyebarannya.

Ingat jargon lama, jauhi penyakitnya bukan orangnya. Seharunya ini jadi pegangan kita, cukup jaga jarak, jangan diusir atau dikucilkan teman-teman wabah ini diprediksi masih berlangsung panjang. Guncangan-guncangan sosial juga akan terjadi, dan inilah saatnya memperkuat solidaritas, jarak fisik memang harus direnggangkan tapi ikatan sosial justruk harus dirapatkan, kita tidak bisa mengatasi wabah ini, hari ini soliter seharunya solider jaga jarak dengan penyakit bukan dengan kemanusiaan."

Kemudian video tersebut diberi keterangan sebagai berikut:"AQ kok sependapat Karo omonganmu .....,Ket wingi wingi seng tak rungokke do dikucel ke.termasok keluarga ku wes tau ngalami dewe.tapi Alhamdulillah ora enek bukti nyatane."

Benarkah klaim video Najwa Shihab jenazah pasien Covid-19 tidak menularkan virus? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim video Najwa Shihab jenazah pasien Covid-19 tidak menularkan virus tidak benar.

Video tersebut tidak disajikan secara utuh sehingga menimbulkan persepsi jenazah covid tidak menularkan virus, video sebenarnya Najwa menyebut jenazah pasien covid-19 harus ditangani secara khusus. Ada protokol dan SOP rumah sakit untuk penanganan jenazah, termasuk membungkus jenazah secara khusus agar jenazah pasien Covid-19 tidak menularkan virus. 

3 dari 4 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut