Sukses

Cek Fakta: Tidak Benar Oseltamivir Obat Covid-19 yang Berbahaya dan Mematikan

Liputan6.com, Jakarta- Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim Oseltamivir obat Covid-19 berbahaya dan mematikan. Klaim tersebut diunggah akun Facebook Nawa Rawdha, pada 15 Juli 2021.

Klaim Oseltamivir obat Covid-19 berbahaya dan mematikan berupa video yang menampilkan satu strip obat berbentuk kapsul berwarna putih dan kuning.

Dalam video tersebut terdapat narasi sebagai berikut:

"Ini obat waktu saat aku diisolasi Covidlolos satu biji yang aku makan hampir mrenggut nyawaku, namannya oseltamivir, ini obat barusan diminum waktu masih isolasi di rumah sakit, dalam waktu nggak sampe satu menit aku langsung muter-muter muntah-muntah alhamdulillah Allah masih memperpanjang umur ku, inilah obat yang disebut obat oseltamivir obat khsusu buat flu babi ternyata flu babi dan juga flu burung ini yang diberikan ke aku dan aku ga mau diberika makan selanjutnya, aku ditanya bolak balik sama perawat bu sudah dimakan obatnya? sudah-sudah padahal aku sembunyiin. Nih satu yang ku makan aku bawa pulang untuk kenang-kenangan, ini obat setan, ini berbahayahati- hati kalau ada yang memberikan obat ini ini sangat berbahaya banget. Disini dikatakan obat ini unutk menghilangkan virus, menyembuhkan tapi ternyata obat ini sangat berbahaya namanya Oseltamivir"

Video tersebut diberi keterangan sebagai berikut:

"Testimoni mantan Korban Konspirasi Global (Covid19) OBAT SETAN (OSELTAMIVIR-generik) Jangan dikonsumsi..buang aja!Nasution Nina inikah obatnya kaa? Yg dlu sempat ak minta utk investigasi?"

Benarkah Oseltamivir obat Covid-19 berbahaya dan mematikan? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

 

2 dari 5 halaman

Penelusuran Fakta

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim Oseltamivir obat Covid-19 berbahaya dan mematikan dengan menghubungi Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Zullies Ikawati, Ph.D., Apt .

Zullie yang juga  pakar Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) menyatakan, klaim Oseltamivir obat Covid-19 berbahaya dan mematikan seperti yang ada pada video yang beredar salah.

"Salah," kata Zullies, saat berbincang dengan Liputan6.com, Minggu (18/7/2021).

Menanggapi video yang beredar mengenai seorang wanita penyintas Covid-19 yang membagikan pengalamannya setelah meminum Oseltamivir, Zullies berpendapat kemungkinan yang dialami oleh wanita tersebut bukan disebabkan oleh Oseltamivir. Ini dilatarbelakangi karena belum diketahui obat apa saja yang diminum dan bagaimana kondisi pasiennya.

"Jadi saya belum tau persis yang mana yang menyebabkan reaksi hebat, yaitu mual, muntah dan vertigo (muter-muter) seperti yang dirasakan oleh ibu itu," tuturnya.

Zullies melanjutkan, untuk dapat memberikan efek seperti yang diharapkan, obat memerlukan waktu yang cukup apabila digunakan secara oral atau diminum. Berbeda dengan obat yang diberikan secara injeksi, memang akan memberikan efek yang lebih cepat. Dalam hal obat yang diminum, maka obat memerlukan waktu dan proses hingga sampai ke lambung.

Di lambung obat akan diuraikan, kemudian diserap oleh lambung maupun usus. Obat tersebut kemudian akan diedarkan atau didistribusikan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah hingga sampai ke tempat aksinya untuk bekerja. Jadi jika dikatakan dalam waktu kurang dari 1 menit sudah terjadi reaksi yang cukup hebat seperti itu, maka Zullies menduga bukan karena obat.

"Mungkin karena ada faktor lain, bisa jadi ada faktor psikologis, atau mungkin memang ada faktor fisik, yang kebetulan terjadi sesaat setelah minum obat, karena gejala Covid-19 ada yang sampai mual, muntah dan sebagainya, yang terjadi secara kebetulan. Sebab bila terjadi dalam waktu kurang dari 1 menit, saya menduga obat tersebut masih berada di lambung dan belum diserap sepenuhnya, sehingga belum akan memberikan efek terhadap tubuh," jelasnya.

Zullies melanjutkan, ada kemungkinan wanita tersebut alergi terhadap obatnya sehingga memberikan efek yang berlebihan. Namun ini dengan catatan obatnya juga sudah melalui proses penyerapan dan sampai ke tempatnya bekerja. Jadi, jika obatnya masih di lambung, belum akan memberikan reaksi aleri juga.

Menurutnya, Oseltamivir termasuk obat yang aman digunakan, dengan efek samping bersifat individual, meliputi mual, muntah, insomnia, vertigo, bagi yang mengalami.

"Tidak semua orang mengalami efek samping yg sama. Menurut saya, cara penyampaian dalam video itu juga bersifat tendensius, membuat orang takut. Semestinya jika memang mengalami efek samping obat, bisa disampaikan kepada tenaga Kesehatan yg bertugas, sehingga dapat diberikan penanganan yang sesuai," tutupnya.

Penelusuran juga mengarah pada artikel berjudul "Penyintas COVID-19 Sebut Oseltamivir Hampir Renggut Nyawanya, Pakar Apoteker: Obat Ini Cukup Aman" yang dimuat situs Liputan6.com, pada 17 Juli 2021.

Dalam artikel situs Liputan6.com, Wakil Ketua PP IAI, Prof Dr apt Keri Lestari berpendapat, kemungkinan besar yang dialami perempuan tersebut adalah reaksi alergi dan belum tentu disebabkan oleh oseltamivir. Bisa saja berasal dari obat lain atau suplemen yang diberikan oleh dokter.

‘’Kalau toh ada efek samping juga tidak akan separah itu. Memang ada efek samping yang disebabkan oleh oseltamivir, tetapi bukan efek samping yang parah. Oseltamivir ini obat antivirus yang cukup aman,’’ tegasnya.

Penelusuran juga mengarah pada artikel berjudul "Tamiflu (oseltamivir phosphate) Information" dimuat situs fda.gov. 

Artikel situs fda.gov menyebutkan, Tamiflu (oseltamivir phosphate) adalah obat anti-virus oral yang disetujui untuk pengobatan influenza akut tanpa komplikasi pada pasien berusia 2 minggu ke atas yang gejala flunya tidak berlangsung lebih dari dua hari. Produk ini disetujui untuk mengobati influenza Tipe A dan B; namun, sebagian besar pasien yang termasuk dalam penelitian terinfeksi dengan tipe A, yang paling umum di AS.

Tamiflu juga disetujui untuk pencegahan influenza pada orang dewasa dan anak-anak berusia satu tahun ke atas. Khasiat Tamiflu untuk pencegahan influenza belum ditetapkan pada pasien immunocompromised.

Akun instagram resmi Infarma @indofarma.id mengunggah tanggapan tentan beredarnya video yang terkait dengan produk Oseltamivir Phosphate 75 mg kapsul.

Berikut keterangannya:

"Menanggapi video yang beredar di publik terkait dengan produk Oseltamivir Phosphate 75 mg kapsul, bersama ini PT Indofarma Tbk (“Perseroan”) menyampaikan press release terkait hal tersebut.

1. Perseroan memperoleh izin edar yang diberikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) dengan Nomor Izin Edar GKL0620932201A1 untuk produk generik Oseltamivir Phosphate 75 mg kapsul kemasan dus, 1 blister @10 kapsul sebagai antiviral.

2. Berdasarkan Pedoman Tatalaksana Covid-19 edisi 3 yang diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDP), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia pada Desember 2020, Oseltamivir Phosphate masuk dalam kategori obat yang digunakan dalam terapi Covid-19.

3. Perseroan memastikan Pembuatan produk Oseltamivir Phospate sudah sesuai dengan pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan Distribusi produk tsb dilakukan sesuai dengan pedoman Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) melalui Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang ditunjuk oleh Perseroan untuk menyalurkan ke fasilitas Kefarmasian.

4. Produk yang berada dalam video tersebut merupakanproduk Oseltamivir Phosphate 75 mg kapsul dengan no bets 1608004 yang diproduksi pada bulan Agustus tahun 2016.Informasi kedaluwarsa yang tercantum pada kemasan produk tersebut yaitu Agustus 2020, maka obat tersebut hanya bisa dikonsumsi hingga 31 Agustus 2020.

Dalam video tersebut, pasien menyatakan sedang isolasi di rumah sakit dengan membawa 1 blister produk Oseltamivir Phosphate. Hal ini tidak sesuai dengan sistem pemberian obat di rumah sakit dengan sistem UDD (unit doses dispensing) yaitu pasien hanya diberikan obat yang hanya sekali minum pada saat itu saja.

Oseltamivir Phosphate termasuk obat keras yang hanya bisa diperoleh melalui resep dokter dan penggunaannya perlu pengawasan dokter.."

 

Sumber:

https://www.fda.gov/drugs/postmarket-drug-safety-information-patients-and-providers/tamiflu-oseltamivir-phosphate-information

https://www.instagram.com/p/CRbqStzIqjf/?utm_medium=copy_link

3 dari 5 halaman

Kesimpulan

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com klaim Oseltamivir obat Covid-19 berbahaya dan mematikan tidak benar.

Oseltamivir termasuk obat yang aman digunakan, dengan efek samping bersifat individual, meliputi mual, muntah, insomnia, vertigo, dialami hanya sebagian orang.

4 dari 5 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

5 dari 5 halaman

Simak Video Berikut