Sukses

Upaya Tingkatkan Literasi Digital, UGM Rilis 2 Buku Panduan Literasi Khusus Perempuan

Liputan6.com, Jakarta - Program Studi Magister Ilmu Komunikasi UGM didukung oleh Japelidi dan SiBerkreasi meluncurkan dua buku sekaligus yang membahas soal literasi digital untuk perempuan. Kedua buku digital ini dirilis pada 22 Januari 2021.

Dua buku tentang literasi itu berjudul: "Yuk, Sahabat Perempuan Bertransaksi Daring dengan Cermat" dan "Yuk, Sahabat Perempuan Bermedia Sosial dengan Bijak". Pihak UGM menyebut buku ini merupakan bentuk pengabdian mereka kepada masyarakat, khususnya perempuan.

Buku ini merupakan lanjutan dari karya-karya pengabdian kepada masyarakat dosen ilmu komunikasi UGM yang sudah lahir sejak 2017. Secara kolaboratif bersama Japelidi dan SiBerkreasi, mereka sudah menghasilkan panduan literasi digital dengan berbagai topik, seperti literasi digital keluarga, bencana, game, dan politik.

Koordinator tim penulis buku ini, Zainuddin Muda Z. Monggilo, mengatakan, perempuan merupakan sosok penting dalam meningkatkan literasi digital. Zainuddin mengatakan, perempuan kerap menjadi sasaran tembak maupun turut menjadi pelaku dari berbagai ancaman digital seperti ujaran kebencian, hoaks, cyberbullying, penipuan daring, dan lainnya.

"Berdasarkan hasil penelitian yang kami rilis di Maret 2020 bersama WhatsApp, PR2Media dan JogjaMedia Net, 74% perempuan yang terpapar hoaks di WhatsApp itu masih memilih untuk mendiamkannya agar terhindar dari konflik,” katanya saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (26/1/2021) malam.

Menyadari itu, tim menindaklanjuti dengan menggelar pelatihan literasi digital untuk 96 perempuan di empat wilayah agar bisa berkontribusi melawan hoaks politik di masa Pilkada serentak 2020.

“Pelatihan dilakukan di Makassar, Mamuju, Tangerang Selatan, dan Tomohon, karena keempatnya teridentifikasi Bawaslu dan KPU sebagai wilayah rentan berkonflik karena hoaks," sambungnya.

 

2 dari 3 halaman

Kasus Hoaks Kepada Perempuan

Seperti di Makassar, kata Zainuddin, salah satu peserta melaporkan bahwa rekannya secara iseng menyebarluaskan sebuah hoaks, hanya untuk meramaikan grup WhatsApp mereka.

"Itu temuan yang membuat kami terkejut. Pelaku mengaku sudah tahu itu hoaks, tapi tetap disebarluaskan. Alasannya untuk membuat grup WhatsApp itu ramai karena sudah lama sepi," ujarnya.

Tidak hanya itu, Zainuddin mengurai, dua buku ini lahir karena masih kurangnya ruang praktik baik yang diberikan untuk kaum perempuan dalam bermedia sosial dan bertransaksi daring.

“Kami menilai praktik-praktik baik dalam perempuan bermedia sosial dan bertransaksi daring ini perlu disuarakan agar lebih banyak lagi yang tergerak. Apalagi aktivitas bermedia sosial dan bertransaksi daring tidak jauh dari keseharian kita di era digital ini.”

Faktor-faktor itulah yang membuat Zainuddin beserta timnya membuat buku panduan literasi digital khusus untuk perempuan. Pria yang juga Dosen Departemen Ilmu Komunikasi UGM berharap kedua buku itu bisa mendorong perempuan lebih bijak dan cermat dalam bermedia sosial dan bertransaksi daring.

"Dengan meningkatkan literasi digital, kami yakin persoalan-persoalan digital yang menyasar perempuan bisa terus berkurang. Karena kami percaya banyak perempuan yang bersemangat dan bisa dengan bijak menggunakan media sosial dan cermat dalam bertransaksi daring,” ujarnya mengakiri.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini: