Sukses

Deretan Hoaks yang Iringi Ledakan Beirut Awal Pekan Ini

Liputan6.com, Jakarta - Musibah menimpa Lebanon awal pekan kemarin. Pasalnya, ibukota mereka Beirut diguncang ledakan dari sebuah gudang di pelabuhan, Selasa (4/8/2020).

Tak main-main, pasalnya ledakan itu menewaskan 137 orang dan membuat ribuan orang terluka. Sejumlah bangunan pun menjadi rata karena efek ledakan tersebut.

Hingga saat ini tim penyelamat masih terus berjibaku mencari korban yang diduga tertimbun reruntuhan. Apalagi bangunan yang hancur kebanyakan berupa pertokoan dan hotel.

Gubernur Beirut Marwan Abboud memperkirakan ledakan yang terjadi di Ibu Kota Negara Lebanon tersebut menimbulkan kerugian material sebesar US$ 3 miliar hingga US$ 5 miliar atau sekitar Rp 72 triliun. Penyelidikan terhadap bencana tersebut sedang berjalan dan Dewan Pertahanan Tinggi Lebanon berjanji akan mengungkapkan hasil investigasi dalam lima hari.

Sayangnya di tengah musibah tersebut banyak pula berita palsu terkait ledakan di Beirut. Kebanyakan menyebar di aplikasi media sosial dan aplikasi percakapan.

Lalu apa saja berita palsu yang mengiringi ledakan di Beirut? Berikut ulasannya seperti dilansir BBC:

 

 

2 dari 5 halaman

1. Ledakan Beirut berasal dari bom nuklir

Sesaat setelah terjadinya ledakan, banyak bersileweran di media sosial video asal muasal ledakan. Di dalam video itu menunjukkan ledakan diawali api kecil lalu diikuti ledakan besar.

Di Twitter beberapa akun menyebut ledakan itu terjadi di pabrik kembang api. Tetapi ada juga yang menyebarkan video tersebut dengan menyebutkan ledakan merupakan bom nuklir karena ada awan seperti jamur putih yang terlihat membumbung di video.

Tetapi para ahli dilansir BBC membantah bahwa ledakan di Beirut karena perangkat nuklir. Pasalnya jika ledakan ada unsur nuklir akan disertai kilatan cahaya putih yang menyilaukan dan gelombang panas yang akan membakar banyak orang.

Selain itu awan jamur juga bukan hanya terjadi karena bom nuklir. Awan jamur menurut para ahli adalah hasil dari kompresi udara yang memadatkan air dan menciptakan awan tersebut.

Di sisi lain, Kepala Keamanan Umum Lebanon Abbas Ibrahim mengungkap pemicu ledakan dahsyat yang menewaskan 73 orang dan melukai 3.700 warga itu.

Berdasarkan hasil investigasi, ungkap Ibrahim, ledakan itu berasal dari 2.700 ton amonium nitrat. Bahan kimia tersebut disimpan di pelabuhan Beirut sebelum dikirim ke Afrika, seperti dikutip dari Aljazeera, Rabu, (5/8/2020).

Hasil investigasi tersebut telah dilaporkan Ibrahim kepada Dewan Pertahanan Tinggi Lebanon yang berisi presiden dan semua lembaga keamanan utama negara. Otoritas Lebanon berjanji akan memberi hukuman paling berat ke pihak yang bertanggung jawab.

3 dari 5 halaman

2. Israel Dituding di Balik Ledakan

Usai ada ledakan di Beirut muncul lagi foto-foto Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat berpidato di PBB tahun 2018. Banyak postingan menyebut foto tersebut menjadi bukti Israel di balik ledakan di Beirut, Selasa (4/8/2020).

Faktanya dilansir BBC memang benar foto tersebut menunjukkan PM Israel sedang menunjuk peta Beirut di sidang PBB tahun 2018. Namun narasi yang beredar di luar konteks.

Saat itu Netanyahu sedang menunjukkan bagian kota dari Beirut yang diduga jadi persembunyian senjata Hezbollah. Selain itu ledakan pertama di Beirut Selasa lalu terletak beberapa kilometer dari "site 1" yang ditunjuk Netanyahu dalam peta tersebut.

4 dari 5 halaman

3. Trump menyatakan ledakan Beirut sebagai serangan teroris

Rumor soal serangan meluas setelah Presiden Donald Trump mengadakan jumpa pers di Gedung Putih sesaat usai ledakan Beirut.

Dalam beberapa unggahan di media sosial Trump disebut menyatakan "sepertinya serangan teroris yang mengerikan". Padahal dalam komentar asli, Trump hanya menyebut "seperti serangan mengerikan."

5 dari 5 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.