Sukses

Cek Fakta: Pasien RSUD dr Soetomo Surabaya Positif Corona? Ini Faktanya

Liputan6.com, Jakarta - Kabar tentang seorang pasien yang dirawat di RS dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur positif virus corona beredar di media sosial. Kabar ini disebarkan akun Facebook Stephanus Milanggo pada 3 Maret 2020.

Akun ini mengunggah gambar yang memperlihatkan sejumlah petugas RS tengah membawa seorang pasien yang terbaring di atas ranjang. Petugas tersebut tampak mengenakan masker dan pakaian khusus berwarna putih.

Ada tulisan RSUD dr Soetomo di salah satu sudut ruangan di dalam gambar tersebut. Akun ini kemudian mengaitkan gambar tersebut dengan wabah virus corona.

"SURABAYA SUDAH POSITIFSIAP-SIAP DAERAH LAINNYA

#AKIBATPUNYAPEMIMPINT*L*L

#RAKYATJADIKORBAN

#AYOJOKOWIT*L*LTAMBAHLAGITKACHINANYA," tulis akun Facebook Stephanus Milanggo.

Konten yang disebarkan akun Facebook Stephanus Milanggo telah 134 kali dibagikan dan mendapat 275 komentar warganet.

Selain itu, sejumlah akun juga mengunggah konten yang sama. Satu di antaranya akun Facebook Sheporia Cosmetic pada 3 Maret 2020.

"Sudah di Surabaya aja ini virus 😩😩😩," tulis akun Facebook Sheporia Cosmetic.

2 dari 4 halaman

Penelusuran Fakta

Cek fakta Liputan6.com menelusuri kebenaran kabar tentang pasien RSUD dr Soetomo Surabaya positif corona. Penelusuran dilakukan dengan memasukkan kata kunci "corona rsud dr soetomo surabaya".

Hasilnya terdapat sejumlah artikel yang menjelaskan mengenai kabar tersebut. Satu di antaranya artikel berjudul "Pasien Diduga Suspect Corona Masuk IGD, Ini Kata Dirut RSUD dr Soetomo" yang dimuat situs beritajatim.com.

Surabaya (beritajatim.com) – Direktur Utama RSUD dr Soetomo Surabaya, Dr Joni Wahyuhadi, dr., Sp.BS (K) membantah bahwa pasien rujukan asal RS Royal Surabaya yang dibawa ke RSUD dr Soetomo adalah pasien suspect corona.

“Itu bukan corona, melainkan pasien hanya dengan infeksi paru-paru biasa atau pneumonia. Petugas RS Royal Surabaya yang datang ke IGD Soetomo terlihat tergopoh-gopoh dengan menggunakan pakaian alat pelindung diri (APD) lengkap. Pasien langsung diperiksa oleh spesialis paru Dokter Darsono. Kami pastikan Jatim belum terkonfirmasi adanya pasien Corona,” tegas Dokter Joni kepada wartawan di Kantor Gubernur Jatim, Selasa (3/3/2020) malam.

Dia mengimbau kepada pihak RS pemerintah maupun swasta di Jatim agar tidak sampai panik. “Kalau ada suspect virus corona, itu ada kriterianya. Seperti pasien mengalami batuk kering, napas sesak, panas badan dengan suhu tinggi dan pernah terpapar selama 14 hari,” tuturnya.

Dokter Joni mengakui, merebaknya berbagai informasi di media sosial tidak hanya membuat masyarakat panik, melainkan juga rumah sakit dan termasuk dokter turut cemas.

“Kalau di Soetomo, jika memang ada pasien dengan 33 kriteria terindikasi virus corona dan dalam pengawasan ketat, masuknya tidak lewat IGD, tapi langsung masuk ke RIK (Ruang Isolasi Khusus) lewat belakang,” jelasnya.

Sementara itu, Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono menambahkan, Gubernur Jatim Khofifah telah menginstruksikan untuk melakukan antisipasi terhadap virus corona dengan gerakan #jatimsehat.

“Gerakan ini dilakukan dengan memberikan informasi kepada masyarakat agar tidak panik terhadap setiap informasi yang diterima dari berbagai media sosial. Gerakan itu secara simbolik akan dilakukan serentak saat pelaksanaan car free day (CFD) di kabupaten/kota se-Jatim.

“Kami akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak terinfeksi corona melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), cuci tangan yang benar, ketentuan penggunaan masker serta para dokter akan dilibatkan,” ungkap Heru.

Aksi ini akan dilakukan dengan bekerjasama dengan Polda Jatim bersama Dirut RSUD Soetomo dan Dinas Kesehatan. “Sosialisasi akan dilakukan pada Minggu 8 Maret mendatang,” tambah Heru.

Penggunaan masker perlu dilakukan oleh orang yang sakit seperti batuk, atau jika sudah suspect corona agar tidak menyebar virus. Selain itu, tenaga medis yang merawat juga harus pakai masker dan pelindung. Karena penularan itu melalui droplet, atau cipratan ludah dalam jarak 1-2 meter. “Cuci tangan itu nomor satu, karena tangan kita kan kemana-mana,” kata dia.

Terkait antisipasi terhadap wabah corona ini, Heru menjelaskan, Pemprov Jatim telah menyiapkan 43 rumah sakit untuk menangani pasien corona dengan kapasitas sekitar 263 tempat tidur. Ini persiapan jika perlu ada penanganan secara intensif. “Pagi tadi kami sudah diminta ibu gubernur untuk mengecek ruang isolasi yang ada di RSUD dr Soetomo,” tutur Heru.

Terkait pembiayaan, pasien dengan suspect corona akan ditanggung oleh anggaran pemerintah. Sebab, ini telah ditetapkan sebagai wabah. “Semua diklaimkan melalui dinas kesehatan dan selanjutnya akan diklaimkan ke Kementerian Kesehatan,” pungkasnya.

Artikel tersebut menjelaskan bahwa pasien yang dirawat di RSUD dr Soetomo merupakan pasien rujukan dari RS Royal Surabaya. Namun, pasien tersebut bukan suspect atau positif corona. Melainkan pasien infeksi paru-paru biasa atau pneumonia.

Penelusuran juga mengarah pada artikel berjudul "Heboh Dikira Corona Tapi Sakit Paru, RS Diimbau Jangan Asal Menyimpulkan" yang dimuat situs news.detik.com, pada 4 Maret 2020.

Berikut isinya:

Surabaya - Beredar kabar ada pasien yang suspect virus corona di Surabaya. Pasien tersebut sempat dirawat di RS Royal Surabaya dan dirujuk ke RSU dr Soetomo. Fotonya pun viral.Langkah yang diambil RS Royal merujuk ke RSU dr Soetomo dianggap terburu-buru. Padahal ciri-ciri tertentu untuk mengetahui bahwa pasien tersebut suspect corona sudah ada. Bahkan sudah ada rekomendasi kemenkes.

"Terlalu paranoid mereka (RS Royal). Kriterianya jelas, pasiennya batuk, sesak nafas, panas dalam 14 hari lamanya, itu pun perlu masa inkubasi untuk diketahui. Perlu Swab juga, jadi tidak ujug-ujug dikatakan corona," kata dr Adria Hariastawa, Kepala IGD RSU Dr Soetomo kepada detikcom, Rabu (4/3/2020).

Untuk cek swab sendiri, lanjut Adria, satu-satunya tempat yang direkomendasi oleh Kemenkes yakni di Litbangkes Jakarta. Selain itu, pasien yang diduga suspect corona, dari standar yang ditetapkan internasional, mereka baru saja mengunjungi wilayah endemik seperti negara Cina.

"Wong jelas itu dari Arab Saudi, umroh pada 24 Februari. Kan sudah jelas, ciri-ciri corona, ada sekitar 36 kriteria internasional, dengan 33 ciri jelas PDP (pasien dengan penyakit). Dalam kriteria itu selain gejala-gejala nyata seperti batuk, panas, pilek juga mereka dari endemik seperti dari Wuhan (China)," jelasnya.

Ia mengimbau setiap rumah sakit khususnya di Jawa Timur tidak cepat menyimpulkan. Apalagi menangani secara berlebihan sehingga membuat heboh masyarakat.

"Saya tidak tau kenapa RS Royal begitu, seruan padahal sudah ada, kriteria juga ada. Padahal kalau dinyatakan corona, harus ada Swabnya dan rekomendasi Kemenkes ya dari Jakarta. Surabaya ada tapi keputusan Kemenkes di Jakarta," terangnya."

Dalam artikel tersebut, Kepala IGD RSU Dr Soetomo dr Adria Hariastawa menyatakan, penetapan pasien diduga Virus Corna terlalu cepat, sebab belum melewati proses pemeriksaan sesuai standar yang ditetapkan dan penetapan dari Kementerian Kesehatan.

 

 

 

3 dari 4 halaman

Kesimpulan

Kabar tentang pasien RSUD dr Soetomo yang positif virus corona ternyata tidak benar. Narasi yang disebarkan akun Facebook Stephanus Milanggo tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.

4 dari 4 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.