Sukses

Cek Fakta: Video Setelah Burung Gagak, Nyamuk Raksasa Serang Wuhan? Ini Faktanya

Liputan6.com, Jakarta - Kabar tentang nyamuk raksasa dan burung gagak yang menyerbu Wuhan, China beredar di media sosial. Kabar ini disebarkan oleh situs beritaislam.org dengan judul artikel "Video, Nyamuk Raksasa Serang Wuhan Setelah Geger Muncul Ribuan Burung Gagak".

Beritaislam - Salah satu kantor berita berbahasa Arab telah memberitakan kawanan nyamuk raksasa yang menyerang kota Wuhan China.

Nyamuk-nyamuk raksasa itu menempel di tembok-tembok setelah sebelumnya juga muncul kawanan ribuan burung gagak di kota tersebut.

Diketahui burung gagak adalah spesies burung pemakan bangkai termasuk bangkai manusia. Hal ini membuat spekulasi para warganet yang menganggap mayat-mayat korban virus korona telah mengundang datangnya burung-burung tersebut.

Chanel Youtube Wuhan News mengunggah video kawanan besar burung gagak di Provinsi Hubei, pusat virus Corona berawal.

Giant Flocks of Crows and Huge Mosqutoes Seen Near Coronavirus Center. Kawanan Besar Burung Gagak dan Nyamuk Raksasa Terlihat Sekitar Pusat Virus Corona.

Dalam bahasa Inggris gagal dosenit 'crows, ravens, blackbirds'.

"Burung gagak mengelililingi langit di kota Jingzhou (di sebelah Wuhan) - Apakah mereka tertarik oleh aroma kematian? Di Jingzhou, Hubei, gagak bergerak. Karnivora memiliki indera penciuman yang sangat sensitif. Mereka bisa mencium bau mayat yang samar di kejauhan, dan berlomba untuk terbang. Pasien yang sekarat akan mengeluarkan bau busuk yang tidak dapat dibaui manusia sebelum mati. Cium itu."

Sebelumnya diberitakan para pengguna media sosial di China melaorkan kejadian tak biasa dengan ditemukannya perilaku "hewan-hewan aneh". Tak hanya ribuan gagak yang berdatangan di Wuhan dan beberapa kota lainnya di Provinsi Hubei, netizen China juga melaporkan adanya nyamuk raksasa.

Banyak netizen yang menghubungkan fenomena tersebut dengan virus corona. Mereka berpendapat bahwa hewan-hewan tersebut "mencium" aroma kematian dari para korban virus corona yang hampir meninggal di mana bau itu bisa dicium oleh burung gagak.

Namun, masih belum ada bukti ilomiah yang kuat mengenai keterhubungan di atas. Dilansir dari The Epoch Times, seorang penduduk Beijing mengklaim bahwa dirinya telah melihat sejumlah nyamuk "raksasa" yang berkerumun di jalan raya distrik Haidan.

Mengutip dari laman hitekno.com, The Epoch Times merupakan sebuah media berita swasta yang menyediakan berita-berita tentang kejadian di China yang bebas sensor.

Meski membuat geger di awal Februari, penampakan ribuan gagak dan nyamuk raksasa ternyata telah beredar di Weibo sejuak akhir Januari 2020.

"Ini belum pernah terjadi sebelumnya. memang sangat aneh. Bisakah tim peneliti datang dan memeriksanya?" ucap salah seorang warga China di dalam video.

Beberapa netizen di China merasa heran dengan keberadaan nyamuk itu karena biasanya mereka tidak terlihat dan tidak terlalu mencolok di musim dingin. Sebagai informasi, pada rentang bulan November hingga Maret, kawasan China berada pada musim dingin. Mereka berpendapat bahwa nyamuk biasanya akan muncul bulan April.

Namun dalam video, terlihat kawanan nyamuk raksasa seukuran jempol orang dewasa yang hinggap pada dinding dekat sebuah jalan raya di distrik Haidian.

Beberapa netizen memaparkan bahwa dalam kebudayaan kuno China, keberadaan sejumlah besar nyamuk di musim dingin adalah pertanda munculnya wabah penyakit menular.

Terlebih memang secara medis, nyamuk adalah hewan yang bisa menularkan berbagai penyakit, termasuk malaria dan virus kaki gajah.

Banyak netizen yang mengaitkan keberadaan ribuan burung gagak dan nyamuk raksasa itu dengan fenomena virus corona meski belum ada bukti ilmiah atau pernyataan dari ilmuwan yang menguatkannya.

Selain itu, situs ini juga menambahkan sebuah video. Dalam video berdurasi 1 menit 46 detik itu, tampak seorang wanita tengah berlari menghindari kawanan burung berwarna hitam. Selain itu, ada juga penampakan kawanan nyamuk yang menempel di dinding.

 

2 dari 4 halaman

Penelusuran Fakta

Cek fakta Liputan6.com mencoba menelusuri kebenaran informasi dan video yang diunggah situs beritaislam.org.

Gambar yang diklaim sebagai kawanan burung gagak dalam artikel tersebut ditelusuri dengan menggunakan google images. Hasilnya ada satu artikel yang menjelaskan tentang peristiwa kawanan burung memenuhi atap mobil.

Adalah artikel berjudul "Thousands of black birds - aka grackles - take over parking lot in Houston" dari situs 1063thebuzz.com yang menjelaskan peristiwa tersebut.

Artikel tersebut juga mengunggah sebuah video yang sama dengan situs beritaislam.com. Artikel tersebut menjelaskan bahwa peristiwa kawanan burung itu terjadi di Houston, Amerika Serikat. Burung-burung yang berwarna hitam dalam video itu pun bukan gagak, tapi grackle.

We feel your pain, Houston.

The grackles that were flooding our parking lots in Wichita Falls have made their way to Houston.

A viral video shows a massive flock of them gathering in a parking lot in Houston. While we’re used to grackles here in the Lone Star State, there’s just something menacing about thousands of birds being gathered in one spot – just ask the lady you see running for her life in the clip.

Penelusuran selanjutnya dilakukan dengan menggunakan mesin pencari google dengan memasukkan kata kunci "wuhan giant mosquito".

Terdapat artikel dari situs theepochtimes.com berjudul "Are Unusual Animal Phenomena in China Related to Wuhan Coronavirus?" yang menjelaskan tentang fenomena di China yang berhubungan dengan virus corona.

Dalam artikel tersebut terdapat video yang diklaim oleh situs beritaislam.com sebagai nyamuk raksasa di Wuhan. Video tersebut ternyata juga diunggah oleh akun twitter @Raymond999USA pada 27 Januari 2020 lalu.

"时间2020年初一,坐标北京海淀区越冬的"蚊子"? 没有听清楚,不确定。意味什么呢?," tulis akun twitter @Raymond999USA.

Akun twitter @Raymond999USA menjelaskan bahwa video tersebut terjadi diambil di Distrik Haidan, Beijing, China.

 

3 dari 4 halaman

Kesimpulan  

Klaim beritaislam.org yang menyebut Kota Wuhan dikepung burung gagak dan nyamuk raksasa ternyata tidak benar. Narasi yang disampaikan dalam artikel tersebut tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.

 

Data: Eka M

4 dari 4 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Loading