5 Alasan Inggris Bisa Tetap Tersenyum Meski Kandas di Piala Dunia 2026

Inggris kalah 1-2 dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026, tapi performa, ketajaman lini depan, dan regenerasi menunjukkan prospek yang tetap menjanjikan.

Diterbitkan 18 Juli 2026, 21:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Sebelum semifinal Piala Dunia 2018, Inggris tidak pernah melaju lebih jauh dari perempat final sejak edisi Italia 1990. Catatan itu berubah dalam era terkini, menandai level kompetitif yang lebih tinggi di panggung dunia.

Di Eropa, hingga kekalahan di final Euro 2020 melawan Italia, pencapaian terbaik Inggris sejak semifinal Euro 1996 hanyalah perempat final. Menembus semifinal atau final dalam empat dari lima turnamen besar terakhir menjadi indikator peningkatan performa yang signifikan.

Bisa Bertahan di Cuaca Ekstrem dan Ketinggian

Di Amerika Utara, Inggris tidak hanya berhadapan dengan lawan, tetapi juga faktor eksternal: suhu panas, kelembapan tinggi, sambaran petir, dan hujan yang memengaruhi jalannya pertandingan.

Kondisi paling menantang hadir di Miami saat perempat final kontra Norwegia, dengan kelembapan yang menyesakkan dan suhu yang melonjak. Selain itu, ketinggian Stadion Azteca dan tekanan atmosfer menghadapi tuan rumah Meksiko juga menjadi ujian tersendiri.

Ketangguhan mental dan fisik membantu mereka bertahan dalam situasi yang lebih menguntungkan bagi lawan yang terbiasa dengan cuaca ekstrem. Pengalaman ini menjadi modal berharga saat melakoni ajang dengan kondisi yang lebih familier, termasuk Euro 2028.

Spence Bersinar, Regenerasi Inggris Menggeliat

Keputusan pemanggilan skuad oleh manajer Timnas Inggris Thomas Tuchel pada Mei sempat memantik tanya. Ia tidak memasukkan sejumlah nama yang selama ini langganan turnamen besar, seperti Harry Maguire. Beberapa talenta muda yang dianggap sudah membuktikan kualitas, seperti Cole Palmer, serta nama-nama besar yang bermain di klub elite seperti Trent Alexander-Arnold, juga absen dari daftar.

Di sisi lain, pilihan untuk memanggil Djed Spence dari Tottenham yang nyaris terdegradasi justru berbuah manis. Spence menuai pujian atas performa defensifnya yang solid sepanjang turnamen, termasuk beberapa tekel krusial saat Inggris berupaya menahan gelombang serangan Argentina di semifinal.

Kritik mengenai ketergantungan pada individu seperti Kane—yang kini berusia 32 tahun—kembali mencuat, terlebih dengan kemungkinan pensiunnya beberapa pemain senior dari pentas internasional.

Namun, limpahan talenta muda membuka peluang pembangunan ulang skuad. Inggris masih memiliki deretan nama dari generasi emas seperti Jude Bellingham, Elliot Anderson, Jarell Quansah, Morgan Rogers, dan James Trafford, ditambah pemain yang lebih muda seperti Rio Ngumoha dan Max Dowman. Inggris bersiap menghadapi UEFA Nations League yang dimulai pada 24 September, serta Euro 2028 yang digelar di rumah sendiri bersama Skotlandia, Wales, dan Republik Irlandia.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Vincentius Atmaja, Wiwig Prayugi, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan