Piala Dunia, Alat Perdamaian dan Momentum Tuan Rumah Ungkap Jati Diri

Piala Dunia bagi seorang Tio Nugroho lebih dari sekadar pentas bola dunia, tapi jadi alat perdamaian.

Diterbitkan 04 Juni 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia jadi panggung sepak bola terbesar dunia yang diadakan setiap empat tahun sekali. Bagi sebagian orang, pentas sejagad raya ini bukan hanya sebagai hiburan rakyat, tapi juga alat untuk mendamaikan dunia dan mengetahui jati diri tuan rumah.

Ungkapan ini diutarakan oleh salah satu presenter sepak bola ternama di Indonesia, Tio Nugroho. Ajang Piala Dunia tak pernah dilewatkan olehnya, terutama empat edisi pada 2006, 2010, 2018, dan 2026 di mana dia terlibat secara langsung sebagai presenter.

Berdasarkan pengalamannya sebagai presenter Piala Dunia, Tio merasa sportivitas jadi aspek utama yang membuatnya tersentuh. Dari Piala Dunia, dia menemukan bahwa sportivitas olahraga dapat jadi ajang untuk menyatukan semua pihak.

"Saya tuh kadang-kadang sedih lihat suporter tuh berantem-berantem di luar gitu, padahal pemainnya pada pelukan gitu. Mereka hanya bertarung dalam 90 menit. Dan di luar mereka pun temenan gitu," kata Tio saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (3/6/2026).

"Sedangkan yang masih tersisa setelah pertandingan tuh adalah berantem, bentrok suporter, suporter ada yang meninggal gitu akhirnya gitu. Jadi menurut saya sih sebenarnya Piala Dunia ini bisa menyatukan," tambahnya.

Michael Jackson dan Heal The World

Setiap Piala Dunia, pikiran Tio langsung mengarah pada sebuah lagu berjudul "Heal The World" dari penyanyi legendaris mendiang Michael Jackson. 

Lagu itu dianggap Tio mengajak pendengar untuk menyebarkan cinta, menghentikan peperangan, dan menciptakan dunia yang lebih baik serta damai.

"Bahkan perang antara Iran dengan Amerika Serikat semoga selesai ya setelah Piala Dunia. Gue harap seperti itu sih. Setiap Piala Dunia tuh saya selalu ingat Michael Jackson dengan lagunya Heal the World, pas banget tuh lagu itu. Jadi dunia ini harusnya bisa damai dengan adanya sepak bola," tutur dia.

"Terbukti kan? Ketika mau Piala Dunia Amerika sama Iran adem-adem. Semoga selamanya ya, jangan habis Piala Dunia perang lagi," sambungnya.

 

Kesempatan Tuan Rumah Pamer Jati Diri

Selain momentum perdamaian, dari Piala Dunia Tio juga merasa jadi lebih mengetahui seluk-beluk sebuah negara. Utamanya negara tuan rumah, di mana dirinya jadi paham keunggulan dan kelebihan negara tersebut dari Piala Dunia.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Tio mencontohkan saat Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010. Dari edisi tersebut, dia jadi tahu bagaimana keragaman budaya salah satu negara benua Afrika tersebut. "Kalau di luar sepak bola tuh saya selalu lihat bagaimana jati diri sebuah negara sih dalam menyelenggarakan sebuah event besar gitu. Jadi kadang-kadang di sepak bola ketika Piala Dunia itu saya jadi tahu kelebihan dari sebuah negara," terangnya. Tio menyebut, saat ini dia juga penasaran apa saja nanti yang akan ditonjolkan oleh tuan rumah Kanada, Meksiko, Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026. Karena kan line-up juga beda-beda tuh, line-up opening ceremony-nya, terus stadion-stadion yang mereka mau 'pamerkan'. Itu aja sih yang ditunggu-tunggu banget setiap Piala Dunia," tuturnya.

Halaman
Show All
Dimas Ramadhan Wicaksana, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan