Momen Unik Piala Dunia: Mengenang Keajaiban Bern 1954

Kisah tak terlupakan 'Keajaiban Bern' di Piala Dunia 1954 menjadi cerminan semangat pantang menyerah.

Diterbitkan 17 April 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Pada Februari 1950, tim nasional Jerman Barat dibentuk kembali di bawah kepemimpinan pelatih Herberger. Pada September tahun yang sama, negara itu diterima oleh FIFA, dan pada November, Jerman Barat memainkan pertandingan internasional pasca-perang pertama mereka melawan Swiss di Stuttgart, yang berhasil dimenangkan tim Herberger dengan skor 1-0.

Perjalanan kualifikasi mereka untuk Piala Dunia 1954 dimulai dengan hasil imbang 1-1 melawan Norwegia di Oslo. Pertandingan krusial datang saat melawan Saarland yang baru merdeka di Saarbrucken, di mana kemenangan 3-1 sudah cukup untuk membawa Herberger dan timnya melaju ke putaran final di Swiss.

Sama seperti Jerman, Hungaria juga merupakan kekuatan sepak bola yang tangguh sebelum perang, memenangkan emas Olimpiade pada tahun 1912 dan menjadi finalis Piala Dunia 1938. Tim Hungaria saat itu dikenal sebagai "Aranycsapat" atau "Skuad Emas".

Setengah lusin pemain inti 'Aranycsapat' sudah berada di tim pada tahun 1949, termasuk Ferenc Puskas, Nandor Hidegkuti, Gyula Grosics, Jozsef Bozsik, Sandor Kocsis, dan Zoltan Czibor. Pelatih Gusztav Sebes memiliki sebagian besar pemain ini di bawah asuhannya di klub Honved.

Hungaria dikenal karena inovasi taktik mereka, mengembangkan metode permainan baru di mana para pemain terus-menerus berganti posisi sesuai rencana yang telah diatur sebelumnya. Mereka bermain tanpa penyerang tengah tradisional No. 9, dengan Peter Palotas dan Hidegkuti berperan sebagai trequartista.

Puncak dominasi mereka terlihat pada "Pertandingan Abad Ini" pada 25 November 1953, ketika Skuad Emas Hungaria mengalahkan Inggris 6-3 di Wembley, menjadi tim asing pertama yang menang di stadion nasional Inggris. Mereka bahkan mengalahkan Inggris lagi 7-1 di Budapest sebelum turnamen 1954. Hungaria lolos ke Piala Dunia 1954 tanpa bermain satu pertandingan pun karena Polandia mundur dari grup kualifikasi mereka.

Babak Penyisihan Grup

Babak penyisihan grup Piala Dunia 1954 memiliki aturan FIFA yang membingungkan. Dua tim unggulan, Hungaria dan Turki, tidak akan saling berhadapan, melainkan hanya bermain melawan dua tim non-unggulan. Dua tim teratas akan melaju ke babak gugur, dan jika peringkat kedua dan ketiga memiliki poin yang sama, mereka akan bermain dalam pertandingan play-off, terlepas dari selisih gol.

Pelatih Jerman Barat, Herberger, melihat jalan ke depan dengan jelas. Ia memperkirakan kekalahan melawan Hungaria adalah sebuah kepastian, sama seperti kemenangan Turki atas Korea. Oleh karena itu, timnya perlu mengalahkan Turki di pertandingan pembuka dan kemudian lagi di pertandingan play-off jika ingin mencapai babak gugur.

Dalam pertandingan grup, Hungaria mengalahkan Jerman Barat dengan skor telak 8-3, dengan Kocsis mencetak empat gol. Insiden paling signifikan dalam pertandingan tersebut adalah cedera yang dialami Puskas, yang mengalami retak rambut pada pergelangan kakinya akibat tekel keras saat skor 5-1.

Babak Semifinal Penuh Drama

Hungaria berhasil mencapai babak semifinal setelah kemenangan 4-2 dalam pertandingan sengit melawan Brasil. Di babak empat besar, Hungaria, yang kembali bermain tanpa Puskas, sempat unggul 2-0 atas juara bertahan Uruguay dengan sisa 15 menit. Namun, Uruguay berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 sebelum akhirnya Hungaria menang 4-2 di babak perpanjangan waktu.

Sementara itu, perjalanan Jerman Barat di semifinal relatif lebih mulus. Mereka berhasil melewati peraih medali perak Olimpiade 1952 Yugoslavia dengan kemenangan 2-0. Tidak ada drama berarti bagi tim Herberger, karena kemenangan telak 6-1 atas Austria membawa Jerman Barat melangkah ke final.

Final yang Tak Terlupakan: "Keajaiban Bern"

Pada hari final, hujan deras turun di Bern, menciptakan kondisi lapangan yang becek. Cuaca ini, secara tak terduga, menguntungkan tim Jerman Barat yang mengenakan sepatu bot revolusioner dengan stud yang bisa disekrup, memungkinkan mereka menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan.

Hungaria memulai pertandingan dengan sangat meyakinkan. Ferenc Puskas membawa 'Mighty Magyars' unggul setelah enam menit, dan Zoltan Czibor menggandakan keunggulan hanya dua menit kemudian, membuat skor menjadi 2-0 dalam 10 menit pertama.

Namun, Jerman Barat menunjukkan semangat pantang menyerah. Pada menit ke-10, Helmut Rahn memberikan umpan silang rendah yang berhasil dimanfaatkan Max Morlock menjadi gol, mengubah skor menjadi 2-1. Delapan menit kemudian, dari tendangan sudut Fritz Walter, kiper Grosics gagal menangkap bola, dan Rahn menyarangkan gol kedua Jerman Barat, menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Akhirnya, dengan enam menit tersisa, Rahn kembali menjadi pahlawan dengan tembakan yang melesat ke sudut bawah gawang, membawa Jerman Barat unggul 3-2.

Dampak dan Warisan Sejarah

Kekalahan Hungaria memiliki dampak yang signifikan. Budapest dilanda kerusuhan, dengan demonstrasi di jalan-jalan. Beberapa pihak bahkan merasa bahwa benih-benih revolusi 1956 ditaburkan pada hari-hari setelah final tersebut. Mantan pemain Tibor Nyilasi mengatakan bahwa seolah-olah sepak bola Hungaria membeku pada saat itu dan tidak pernah benar-benar bergerak maju.

Bagi Jerman Barat, kemenangan ini adalah katalisator kebangkitan nasional. Kereta yang membawa Walter, Herberger, dan Trofi Jules Rimet kembali ke Jerman Barat dihentikan berkali-kali oleh para penggemar yang ingin melihat sekilas para juara dunia dan menunjukkan rasa terima kasih mereka. Penulis Friedrich Christian Delius merasa bahwa 'bangsa yang diliputi rasa bersalah dan terhambat tiba-tiba terlahir kembali'.

Franz Beckenbauer menyatakan bahwa "Tiba-tiba Jerman menjadi seseorang lagi," mengacu pada kembalinya kebanggaan nasional yang tidak ada setelah kengerian 1933-1945. Sejarawan Joachim Fest bahkan menganggap hari pertandingan itu menandai 'kelahiran sejati negara itu'. 'Keajaiban Bern' bukan hanya kemenangan olahraga, tetapi juga momen krusial dalam sejarah pasca-perang Jerman, yang terus menginspirasi hingga persiapan Piala Dunia 2026 dan seterusnya.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan