Ketika Teori Taktik Alonso Tumbang di Hadapan Intensitas Simeone

Real Madrid kalah telak 2-5 dari Atletico dalam derbi pertama era Xabi Alonso. Kekalahan ini ungkap rapuhnya tim muda Madrid dan jadi ujian awal bagi sang pelatih.

Diterbitkan 29 September 2025, 14:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Xabi Alonso datang ke derbi pertamanya sebagai pelatih Real Madrid dengan optimisme tinggi. Enam kemenangan beruntun di awal musim membuat publik mulai membicarakan rekor 100 poin di La Liga. Namun, harapan itu runtuh seketika di Metropolitano.

Real Madrid dipermalukan 2-5 oleh Atletico Madrid, kekalahan terburuk mereka dalam derbi selama hampir 75 tahun. Kekalahan ini bukan hanya soal skor, tetapi juga tentang dominasi total lawan. Tim muda Alonso tak berdaya menghadapi intensitas pasukan Diego Simeone.

Hasil ini menjadi pukulan keras bagi proyek baru Alonso di Bernabeu. Gagasan taktik modern dan skuad penuh talenta muda yang selama ini mengilap, kali ini runtuh di hadapan realitas keras sepak bola kompetitif.

Generasi Muda di Panggung Derbi

Alonso menurunkan salah satu skuad termuda Real Madrid dalam sejarah derbi. Dean Huijsen (20 tahun), Alvaro Carreras (22 tahun), Arda Guler (20 tahun), dan Franco Mastantuono (18 tahun) semuanya tampil dalam laga panas ini. Mereka adalah simbol dari filosofi baru Alonso, cepat, fleksibel, dan berani.

Sebelumnya, Madrid tampil meyakinkan dengan tujuh kemenangan beruntun, nyaris tanpa cela. Namun atmosfer derbi berbeda. Ketegangan, tekanan, dan agresivitas Atletico membuat sistem Madrid runtuh. "Kami kurang intensitas dan tidak bersaing cukup baik," aku Alonso usai laga.

Huijsen dan Carreras, yang didatangkan dengan nilai total 90 juta pounds, tampak gugup. Mereka beberapa kali kehilangan posisi dan gagal membaca pergerakan lawan.

Guler yang awalnya brilian dengan satu assist dan satu gol, justru menjadi sumber petaka saat pelanggaran tingginya menghadirkan penalti untuk Atletico.

Diserang Bertubi, Madrid Tak Siap Bertarung

Diego Simeone tahu celah Real Madrid: lini belakang muda yang belum teruji. Atletico menyerang secara langsung, mengandalkan umpan-umpan vertikal dan tekanan agresif. Hasilnya, Madrid dipaksa bertahan dalam zona sempit dan kehilangan kendali atas bola.

Robin Le Normand dan Alexander Sorloth mencetak dua gol melalui sundulan yang nyaris identik, hasil minimnya koordinasi dan pengalaman di lini belakang Madrid. Setiap bola mati menjadi momok, dan setiap duel fisik menjadi kekalahan.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Simeone bahkan mengaku bahwa intensitas dan bola-bola mati menjadi senjata utama. “Kami membuat mereka merasa pusing,” ujarnya tentang strategi Atletico. Real Madrid yang biasanya tenang dan sistematis, kini tampak panik dan tidak siap secara mental.

Halaman
Show All
Richard Andreas LuturmasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan